2 Kor 10:1-11 Rasul yang membangun dengan meruntuhkan

Maksud perikop ini tidak mudah dimengerti sepintas lalu. Makanya, proses membuat amanat khotbah dapat digambarkan. Saya akan menunjukkan struktur perikop, dengan menjelaskan beberapa perkataan Paulus yang mungkin membingungkan. Struktur itu didapatkan dengan menyusun kembali kalimat-kalimat sesuai dengan induk dan anak kalimat, dan dengan memperhatikan kata-kata (atau kelompok kata dengan maksud yang mirip atau berlawanan) yang diulang. (Tentu, proses ini lebih jelas dalam bahasa Yunani, tetapi dapat dilakukan dari terjemahan yang baik.) Kemudian saya akan coba merumuskan amanat teks. Baru setelah itu, ada usulan aplikasi, pertama-tama untuk pelayan (yaitu pembaca sasaran blog ini), kemudian untuk jemaat.

Soal dekat dan jauh bermunculan dalam aa.1-2 (a.1 “berhadapan muka”, “berjauhan” [apōn], a.2 “dekat” [parōn]), dan kemudian dalam aa.9-11 (a.9 “surat-surat”, a.10 “berhadapan muka”, a.11 “berhadapan muka”, “surat-surat”, “tidak berjauhan” [kembali parōn]). Makanya, aa.1-2 dan aa.9-11 merupakan bagian awal dan terakhir. Ternyata aa.9-11 diperlukan untuk memperjelas aa.1-2. Dalam a.1 Paulus sepertinya mengaku tidak berani di hadapan mereka tetapi berani jika jauh. A.9 memperjelas bahwa sikap Paulus jika jauh disampaikan melalui surat-surat, dan dalam a.10 kita melihat bahwa yang dikatakan dalam a.1 adalah tuduhan kelompok tertentu, yaitu orang-orang yang menganggap diri rasul (11:5). Makanya, a.1 adalah perkataan ironis, yaitu maksud Paulus kebalikan dari apa yang tersurat. Dia seakan-akan mengaku tidak berani dalam a.1, tetapi sebenarnya, seperti dia katakan dalam a.11, dia sanggup menindaki kelompok “super-rasul” itu. Jika ironi Paulus sudah disadari, kita akan memperhatikan pula bahwa dalam a.1 dia mencirikan Kristus “lemah lembut dan ramah”, bukan berani. Ironi itu lebih tajam dalam bahasa aslinya. “Tidak berani” menerjemahkan kata tapeinos. Dalam budaya Yunani yang menonjolkan persaingan dalam status, kata itu biasanya dipakai untuk menghina, tetapi dalam jemaat-jemaat Paulus kata itu menjadi pujian, sehingga diterjemahkan “rendah hati”, karena Kristus menunjukkan statusnya sebagai yang setara dengan Allah dengan jalan merendahkan diri sampai pada salib (Fil 2:5-11). Ketika dia berhadapan dengan mereka, Paulus bersikap sesuai dengan Injil, yaitu rendah hati, tetapi hal itu ditafsir sesuai dengan budaya setempat, yaitu sebagai ketidakberanian.

Satu tuduhan kelompok “super-rasul” itu ialah bahwa Paulus hidup secara duniawi (a.2). Aa.3-6 merupakan satu kalimat dalam bahasa Yunani, sebagai tanggapan Paulus terhadap tuduhan itu. Paulus memakai bahasa yang paling disukai budaya persaingan, yaitu bahasa perang (a.3 “berjuang”, a.4 “senjata”, “perjuangan”, “meruntuhkan benteng-benteng”, a.5 “mematahkan”, “menawan”, “menaklukkan”). Hanya, yang diperangi bukan manusia melainkan “siasat” dan “pikiran”, yaitu “keangkuhan yang menentang pengenalan akan Allah” (a.5) dan, dalam a.6, “kedurhakaan” sebagai lawan ketaatan. Senjata Paulus tidak diperincikan di sini, tetapi dari surat-menyurat dengan jemaat di Korintus senjata itu termasuk pemberitaan salib (1 Kor pp.1-2) dan kelemahan (2 Kor 12:10; bnd. juga Ef 6:10-20). Ternyata, cara yang mendapatkan kuasa Allah untuk melawan kedurhakaan bukan dengan menonjolkan kehebatan diri sendiri (sebagai orang yang lebih tahu atau lebih rohani) melainkan dengan jalan salib. Paulus, dalam penguraian berikutnya, bermegah dalam pelayanannya yang cuma-cuma kepada mereka (11:7) dan dalam penderitaannya (11:16 dst). Hal itu tidak menutup kemungkinan untuk disiplin gerejawi; saya duga bahwa “menghukum” dalam a.6 merujuk pada dikeluarkannya kelompok “super-rasul” dari jemaat, jika jemaat di Korintus sudah kembali pada jalur yang semestinya. Tetapi hal itu harus terjadi karena jemaat di Korintus sudah diyakinkan kembali tentang jalan salib itu, bukan karena dibujuk atau dipaksa oleh wibawa Paulus.

Setelah menjelaskan dan membela cara dia berjuang, dalam aa.7-8 Paulus kembali menegaskan statusnya. Sepertinya kelompok “super-rasul” itu (atau orang tertentu di dalamnya) menganggap diri memiliki relasi khusus dengan Kristus. Paulus menegaskan bahwa dia juga adalah milik Kristus. Malah, Pauluslah yang diberi kuasa oleh Allah (a.8), sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (Gal 2:7-9) dan pendiri jemaat di Korintus (Kis 18). Hanya, kuasa itu diberikan untuk membangun bukan meruntuhkan. Paulus meruntuhkan gagasan dan keangkuhan, tetapi demi membangun orang. Dengan selesainya penjelasan itu, Paulus siap kembali pada soal sikap berani / lemah itu untuk meyakinkan mereka bahwa, dengan cara yang sesuai dengan Injil, dia dapat tegas.

Dari keempat bagian itu (1-2; 3-6; 7-8; 9-11), bagaimana sampai suatu amanat teks? Apakah inti pokok terkait dengan sikap Paulus yang dianggap plin-plan, peruntuhan keangkuhan, kerasulan Paulus, atau maksud Paulus untuk menindak kelompok “super-rasul” itu? Untuk mencari mana yang pokok, kita harus melihat bagian mana yang menopang. Aa.3-7 menjelaskan aa.1-2, artinya bahwa keberanian Paulus dipakai untuk meruntuhkan keangkuhan, tetapi kepada orangnya sendiri dia mau rendah hati sama seperti Kristus. Hal itu tidak mengesampingkan aa.3-7. Tanpa ayat-ayat itu aa.1-2 belum terlalu dalam. Aa.9-11 mengulang dan memperjelas aa.1-2. Tinggal apakah aa.7-8 menopang bagian-bagian lain atau sebaliknya. A.8 memang mengungkapkan satu masalah inti dalam pp.10-13, yaitu penerimaan kerasulan Paulus. Namun, hal itu justru dikaitkan dengan sikap ganda Paulus, yaitu membangun (dengan kerendahan hati) atau meruntuhkan (dengan sikap persaingan yang menjatuhkan). Dalam keempat pasal ini Paulus mau membela kerasulannya, tetapi bukan demi dirinya sendiri melainkan demi suatu pemahaman tentang Injil, yang sering kita sebut teologi salib, mengikuti Martin Luther.

Jadi, perikop ini menyampaikan bagaimana Paulus menunjukkan otoritasnya sebagai rasul, yaitu dengan meruntuhkan keangkuhan manusia demi membangun jemaat. Tujuannya supaya pembaca menerima kembali kerasulannya sesuai dengan pemahaman yang sehat tentang Injil.

Penerapan untuk para pelayan hendaknya sudah jelas. Ada cara pastoral yang suka menegor jemaat karena berbagai sikap dan tindakan yang tidak baik, tetapi justru tidak membongkar pikiran dan siasat yang mendasari sikap-sikap itu. Hal itu lebih parah lagi jika pelayan merasa diri hebat karena tidak bodoh / najis / kacau seperti jemaat. Cara Paulus melihat jemaat sebagai sangat sanggup dibangun, asal pikiran dan sikap yang menghalangi dapat dirombak dengan ajaran dan teladan yang berpusat pada Kristus yang disalibkan itu.

Untuk tujuan khotbah, kita mungkin memperluas soal otoritas Paulus untuk mencakup semua penggunaan kuasa dalam jemaat. Jika ada perselisihan di jemaat, cara apa yang dipakai? Cara yang mendasari Injil salib, sehingga orang mau saling membangun dengan saling membantu memahami bagaimana kebenaran Injil perlu diterapkan dalam kasus yang diperdebatkan? Atau cara persaingan, di mana gengsi orang terbungkus dalam soal kalah menang dalam argumentasi? Apakah kubu-kubu keangkuhan dipertahankan, atau dibongkar demi kesehatan bersama jemaat? Paulus memiliki kuasa sebagai rasul Allah, tetapi dia tetap mau meyakinkan dan membangun, daripada main kuasa. Lebih lagi kita jemaat biasa.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 2 Korintus dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s