Mzm 112 Kebahagiaan orang yang takut akan Allah

Mazmur ini mengatakan satu hal dua kali dengan dua penekanan, sehingga memberi gambaran yang lengkap. Intinya kebahagiaan orang yang takut akan Allah (a.1). Takut akan Allah ditafsir dengan “sangat suka kepada segala perintah-Nya”, dan hal itu ditafsir lagi dalam a.5, sebagai orang yang memiliki perasaan (belas kasihan) sebagai bagian dari kehidupan yang beres (sewajarnya). Aa.2-4 dan aa.5-10 menguraikan kebahagiaan / kemujuran itu.

Isi kebahagiaan itu dapat diringkas sebagai keturunan (a.2), harta (a.3a), keteguhan (aa.6-8), dan, sebagai benang merah, nama, di atas musuh sekalipun. Soal nama muncul pertama-tama pada a.3b. Kebajikan sebagai tindakan tidak ada lagi kalau orangnya sudah meninggal, tetapi ingatannya bisa bertahan lama. Dalam a.4a “terang” harus merujuk pada orang yang takut akan Allah itu, artinya bahwa kebajikannya menjadi terang bagi orang benar dalam kesusahan, dinyatakan dengan sikap sebagai pengasih, penyayang dsb. Barangkali, menjadi terang adalah asal usul ingatan akan kebajikannya. A.6b mengatakan dengan jelas bahwa dia akan diingat, dan aa.9-10 menjelaskan mengapa dia dapat memandang rendah lawannya (a.8b), yaitu karena kebajikannya terhadap kaum lemah membawa kekuatan (disimbolkan oleh “tanduk”) dan kemuliaan di depan masyarakat, sehingga orang fasik sakit hati dan hancur (harfiah: “mencair”). Tersirat bahwa orang fasik itu mencari nama dengan menyusahkan orang benar dalam a.4, tetapi orang yang takut akan Allah ini menggagalkan rencana itu.

Jadi, amanat teks mazmur ini diusulkan begini: kebahagiaan orang yang takut akan Allah adalah keturunan, kekayaan, keteguhan, dan kemuliaan. (Saya memilih adanya kebahagiaan sebagai topik karena mazmur ini mulai dengan pujian kepada Allah, sumber kebahagiaan itu.) Tentu, “takut akan Allah” harus diuraikan sesuai dengan perikop ini, yaitu ketaatan dalam hidup yang beres yang memperhatikan kaum lemah. Sama halnya dengan semua unsur yang lain, karena amanat teks berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam artian teks, bukan sebagai batu loncatan untuk tema kesukaan kita.

Bagaimana amanat teks itu dikontekskan? Aa.2-3 belum tentu mau diartikan secara harfiah, karena kita tinggal dalam konteks PB bukan konteks PL (lihat catatan di bawah). Dalam PB kita bisa kaya dalam iman (Yak 2:5). Sebaliknya, jangan orang kaya menganggap diri berbahagia jika dia tidak memiliki nama sebagai orang yang membantu orang-orang benar dan miskin, atau jika hatinya tidak teguh dalam imannya kepada Tuhan. Soal nama mungkin layak mendapat sorotan. Banyak orang sekarang mencari nama dengan hal-hal yang dangkal, seperti rumah yang besar. Tetapi orang yang takut akan Tuhan ternyata mencari nama melalui kebajikannya. Perbuatan-perbuatan kasih yang akan diingat sampai hidup yang kekal, bukan jumlah kerbau yang dipotong.

Catatan tentang aa.2-3a. Jika ayat-ayat ini diterapkan secara harfiah, sepertinya Yesus dan Paulus tidak tercakup oleh mazmur ini. Mereka tidak memiliki keturunan, atau kekayaan. Sehingga perlu penjelasan sedikit tentang perbedaan perspektif dalam PL dengan PB tentang kekayaan sebagai berkat. Dalam PL, sejak Israel masuk di Kanaan sampai mereka dibuang, mereka berada di taman Eden kedua, jika dilihat dari perspektif awal Kisah Agung Alkitab (KAA), atau di cikal bakal sorga, jika dilihat dari perspektif akhir KAA. (Ingat bahwa dalam Why 21 Yerusalem yang baru turun dari sorga ke bumi yang baru (diperbaharui), dan Allah ada di tengah umat-Nya sebagai ganti Bait Allah (Why 21:22). Sorga sebagai tempat Allah hadir kembali ke bumi seperti dalam taman Eden, dan seperti diwakili oleh Bait Allah di tanah Israel.) Jadi, Israel semestinya menikmati kemanusiaan yang utuh, seperti Adam dan Hawa sebelum diusir, dan seperti semua orang yang selamat dalam dunia baru, yang sering digambarkan Yesus sebagai perjamuan besar. Hanya, di dalam Israel sendiri adanya orang fasik berarti bahwa, seperti dikatakan Ams 13:23, “Huma orang miskin menghasilkan banyak makanan, tetapi ada yang lenyap karena tidak ada keadilan.” Makin lama, makin kesetiaan kepada Tuhan berarti dibunuh, bukan berjaya. Akhirnya, jawabannya muncul dengan jelas dalam kitab Daniel 12:1-3, yaitu bahwa orang bijak (yang dimartir, Dan 11:33-35) akan bangkit sehingga mengambil bagian dalam dunia baru yang dijanjikan Allah itu. Makanya, kita menemukan perkataan seperti dalam Yak 2:5, “Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” Ayat itu tidak menolak kekayaan sebagai berkat Allah, dan sama sekali tidak menolak perjuangan akan keadilan, tetapi mengartikan ulang janji kekayaan itu. Inti kemanusiaan yang utuh ialah relasi dengan Allah, dan hal itu tersedia bagi semua yang beriman (kaya dalam iman). Tetapi semua yang berlawanan dengan kemanusiaan yang utuh dalam dunia ini, termasuk adanya orang fasik yang merampas hak orang miskin, akan dipulihkan ketika Kerajaan Allah terwujud sepenuhnya. Kita hidup dalam harapan. Harapan Yesus kepada Allah terbukti ketika Dia dibangkitkan; harapan rasul Paulus dalam semua pergumulannya sama.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mzm 112 Kebahagiaan orang yang takut akan Allah

  1. tulistulistulis berkata:

    Terima kasih, pembahasan yang menarik. Jadi ingat Mazmur 112 ini, khususnya ayat 7, “They will have no fear of bad news; their hearts are steadfast, trusting in the LORD.” (NIV) menjadi kerinduan dan doa permohonan saya tahun 2007, dan Tuhan memenuhinya dengan cara-Nya yang khas :)bagaimana memiliki hati yang tidak goyah, tetap percaya kepada Allah.
    Kalimat “Tersirat bahwa orang fasik itu mencari nama dengan menyusahkan orang benar dalam a.4, tetapi orang yang takut akan Allah ini menggagalkan rencana itu.” membuat saya merenung lebih lanjut dan bertanya… apakah orang beriman yang mencari nama dengan menyusahkan orang benar itu akan tergolong orang fasik? …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s