Bil 24:10-25 Allah menguasai penenung

Perikop ini adalah puncak dari kisah tentang Bileam dan Balak yang diceritakan dalam Bilangan 22-24. Balak adalah raja Moab (22:6), dan pada saat itu Israel baru saja memusnahkan orang Basan (21:33-35), dan berkemah di dataran Moab (22:1), siap untuk memasuki tanah perjanjian. Balak takut (22:4), sehingga, seperti orang yang habis akal sendiri sehingga berdoa atau pergi ke dukun, dia mencari kekuatan ilahi untuk mengalahkan Israel. Dia memanggil Bileam, seorang penenung (22:7), untuk mengutuk Israel (22:6).

Bileam dikenal sebagai orang yang berkatnya dan kutuknya manjur (22:6). Kuasa itu ada dalam kaitan dengan dewa-dewi, seperti biasa dalam dunia sihir. Namun, mulai dengan kedatangan rombongan kepada Bileam, Tuhan menunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki kuasa. Tiga kali Bileam terpaksa mengucapkan berkat atas Israel, setiap kali dengan lebih jelas dan kuat. Sanjaknya yang pertama menyampaikan keengganan Bileam untuk mengutuk bangsa yang tidak dikutuk Tuhan (22:8). Sanjaknya yang kedua mengangkat janji Allah (23:19) yang membawa mereka keluar dari Mesir (23:22) sehingga mantera tidak berdaya terhadap mereka (23:23). Untuk kedua kali itu, Bileam menyendiri dan ditemui oleh Allah dengan perkataan untuk diucapkan (23:4-5, 16). Untuk kali ketiga, Bileam mungkin mau menghindar dari perintah langsung dari Allah, tetapi kali itu dia dihinggapi oleh Roh Allah (24:2), seakan-akan kesurupan (rebah dengan mata tersingkap 24:4). Sanjak ini berpuncak dengan kesadaran bahwa yang menjadi ukuran berkat dan kutuk bukan Bileam melainkan bangsa Israel (24:9), sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:3).

Dengan demikian, cerita ini sudah sampai pada puncaknya. Allah telah menyelamatkan umat-Nya dari ancaman sihir itu. Perikop kita merupakan resolusi. Balak telah berusaha untuk mengutuk Israel. Apakah dia akan dikutuk, sesuai dengan janji Allah?

Kegagalan Balak disampaikan dalam perkataan Balak sendiri dalam 24:10-11, dengan peran Tuhan diakui (“Tuhan telah mencegah engkau memperolehnya”). Bileam membenarkan diri bahwa dia sudah berterus terang, tetapi menerima bahwa dia tidak akan menerima upah karena memang tidak memberi jasa yang diharapkan (aa.12-13), dan sekali lagi peran Tuhan juga diakui (a.13). Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya, Bileam menawarkan ramalan tanpa diminta, lagipula gratis! Dalam beberapa sanjak yang berikut ini, kita melihat bahwa memang Tuhan akan melindungi umat-Nya, termasuk bahwa Moab, bangsa Balak itu, akan dikutuk.

Nubuatannya (disebut nubuatan karena dari kemiripan bahasa antara aa.15-17 dengan aa.4-5 dapat disimpulkan bahwa dia sekali lagi dihinggapi oleh Roh Allah) tentang Moab disampaikan dalam a.17 dan dilanjutkan dengan nubuatan tentang Edom. Edom berada di sebelah selatan dari Moab, dan menolak Israel melaluinya (20:14 dst). Kedua bangsa ini akan dihancurkan oleh seorang raja dari Israel (bnd. 22:7), yang disebut sebagai “bintang terbit dari Yakub” dan penguasa. Balak sebagai raja yang melawan Allah telah kalah, tetapi raja pilihan Allah akan menang. Kemudian orang Amalek (a.20) dan Keni (aa.21-22) menjadi sasaran nubuatan Bileam, dan terakhir sebuah nubuatan yang kurang jelas karena rujukan orang Kitim, Heber dan Asyur tidak bisa dipastikan.

Lalu, apa amanat teks ini? Dalam narasi ada gunanya berangkat dari tokoh utama. Kita mungkin bisa mengangkat Balak sebagai tokoh utama dalam cerita ini, karena dia yang mau memecahkan masalah bangsa Israel yang mengancam bangsa Moab. Jika demikian, amanat teks adalah bahwa Balak tidak hanya gagal mengutuk Israel tetapi malah dikutuk karena janji Allah kepada Israel. Tetapi, mungkin lebih tepat mengangkat Bileam sebagai tokoh utama karena dia yang ditugasi Balak untuk pengutukan itu. Jika demikian, amanat teks adalah bahwa Bileam menubuatkan kejayaan Israel atas bangsa Balak karena Tuhan lebih kuat daripadanya. Tetapi karena cerita ini terjadi dalam konteks Allah menuntun Israel ke tanah perjanjian, mungkin paling tepat kita melihat Allah sebagai pemeran utama. Allah menguasai Bileam, penenung yang mahir, untuk memberkati Israel dan mengutuk musuh Israel.

Amanat khotbah beranjak dari amanat teks, tetapi boleh menjadi lebih fokus. Khususnya, hari Minggu ini adalah Adven I, sehingga unsur tentang raja Israel dapat disoroti. Dalam konteks PL, raja itu adalah Daud (2 Sam 8:2). Dalam konteks PB, raja yang mengalahkan musuh-musuh Allah, yaitu terutama dosa dan maut, adalah Yesus, anak Daud itu. Sama seperti PB, kita mengartikan musuh Allah bukan sebagai kelompok tertentu tetapi sebagai Iblis. Rencana Iblis untuk menghancurkan gereja tidak pernah akan berhasil, dan siapa saja yang ikut di dalam rencana itu akan ikut hancur (1 Kor 3:17).  Tetapi, khususnya, kemenangan Allah atas kuasa gelap secara khusus dalam pribadi Bileam diulang secara umum pada salib (Kol 2:15).

Dalam konteks Indonesia, mungkin satu hal lagi perlu diperhatikan, yaitu Bileam sebagai tukang sihir. Salah satu bagian dari perlindungan Tuhan atas umat-Nya ialah bahwa kutuk tidak akan berhasil, malah akan menjadi bumerang bagi si pengutuk. Sebaliknya, mungkin perlu disadari bahwa Bileam dianggap penyesat dalam bagian lain dalam Alkitab (Bil 31:16; 2 Pet 2:15-16), sehingga tidak bisa dianggap contoh untuk “dukun kristiani”.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Bilangan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s