Yes 11:1-10 Allah memulihkan dunia dalam Raja yang Dia utus

Perikop ini menyampaikan gambaran yang luar biasa tentang sebuah dunia yang sudah berdamai, yang akan terjadi melalui tunas dari tunggul Isai, yakni Mesias. Namun, jika mau dipahami sebagai janji Allah yang akan digenapi, dan bukan hanya sebagai semacam perumpamaan yang memaparkan suatu ideal, ada beberapa hal yang membingungkan. Kita memahami bahwa perikop ini digenapi dalam Kristus, dan hal itu jelas dalam aa.1-4a & 5. Tetapi a.4b dan aa.6-10 sepertinya belum terwujud dengan jelas. Bagaimana hal itu mau dipahami?

Yang pertama, nubuatan ini dialamatkan kepada Israel, kemungkinan di bawah raja Ahas yang menjadi sorotan dalam p.7. Dia adalah raja yang takut akan manusia bukan Tuhan, dan nubuatan Mesianis dalam 8:23-9:6 memaparkan raja yang lain dari Ahas, raja damai yang kerajaan-Nya berlandasan keadilan. Kemudian, pp.9-11 menyampaikan kisah selanjutnya, kisah tentang hukuman kepada Israel yang diikuti oleh penyelamatan. Hukuman kepada Efraim (Israel Utara) diceritakan dalam 9:7-10:4. Keselamatan dimulai dengan alat hukuman itu, Asyur, dihukum pada gilirannya karena caranya yang jahat (Yes 10:5-19), sehingga sisa Israel dapat diselamatkan (10:20-27a). Cara hal itu terjadi mungkin digambarkan dalam 10:27b-34, di mana Aysur maju untuk menyerang Yerusalem tetapi menjadi seperti pohon besar yang ditebang. Nubuatan-nubuatan itu pertama-tama menyangkut hal-hal yang terjadi pada masa Yesaya, yaitu Israel Utara jatuh k.l. 722 sM (bnd. 2 Raj 17), dan Asyur gagal menyerang Yerusalem pada tahun 701 sM karena sesombongannya (bnd. Yes 36-37).

Dalam konteks itu, Allah menjanjikan dalam perikop kita raja yang sangat lain dari raja-raja Asyur: sebuah tunas (bukan pohon besar) yang takut akan Tuhan dan menghakimi dengan keadilan. Walaupun kelihatan tidak apa-apa, tetapi Roh Allah ada padanya dan dia justru membawa pembaruan dunia. Perikop berikut (11:11-16) bercerita tentang Israel (bagian utara) pulang dari pembuangan, sama seperti dulu Israel diselamatkan dari Mesir, sehingga Israel bisa bersatu kembali. P.12 menutup pasal-pasal ini dengan pujian oleh karena keselamatan itu.

Jadi, perikop ini memberi Israel janji bahwa Allah akan memulihkan Israel bahkan seluruh bumi melalui seorang raja keturunan Daud yang dalam kuasa Roh Tuhan akan menegakkan keadilan dengan meningkatkan kaum tertindas dan meniadakan orang fasik.

Nubuatan seperti itu sering memiliki penggenapan berganda. Hizkia, raja ketika Asyur gagal mengalahkan Yerusalem, mungkin diharapkan menggenapi bagian-bagian lain dari nubuatan ini, tetapi dia meninggal dan yang mengikutinya jahat kembali. Kemudian, setelah Yehuda (Israel Selatan) dibuang dan kembali dari pembuangan dan belum ada raja, harapan itu harus tertunda lagi. Konsep Mesias merujuk pada harapan bahwa akhirnya Tuhan akan mengutus raja ini untuk memulihkan Israel dan membarui dunia. Ketika Kristus datang menggenapi janji itu, ternyata yang dianggap di sini satu rangkaian peristiwa juga berproses. Kristus menunjukkan sifat seperti aa.1-4a dalam pelayanan-Nya, tetapi pembaruan dunia menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Sifat nubuatan itu sering digambarkan seperti melihat puncak gunung. Dari jauh, ada dua puncak yang kelihatan bertepatan, tetapi ketika sampai yang pertama puncak kedua ternyata masih jauh. Masa Adven menangkap bahwa kedua kedatangan Kristus merupakan satu kesatuan dari perspektif rencana Allah, walaupun waktunya ternyata lama di antaranya.

Apakah dengan demikian, gambaran yang begitu luar biasa tentang keadilan dan damai hanya sebuah janji masa depan yang belum memiliki relevansi untuk sekarang, atau sebatas suatu idealisme yang tidak dapat dianggap bersentuhan dengan dunia riil? Kita bisa saja digerakkan oleh sebuah idealisme, tetapi janji-janji Alkitab menyampaikan harapan eskatologis. Jika yang ideal melayang-layang di sorga, harapan eskatologis percaya bahwa yang di sorga akan terwujud di bumi, sehingga semestinya mulai diterapkan sekarang. Orang yang mengusahakan keadilan dan damai sekarang bertindak sesuai dengan masa depan dunia, walaupun untuk sementara semua usaha itu tidak berhasil sepenuhnya, dan kadangkala kelihatan gagal. Sebagai contoh, karena pembangkitan listrik dapat jauh lebih bersih daripada membakar minyak, ada gagasan untuk memakai listrik, bukan BBM, untuk menggerakkan mobil. Seandainya itu satu ideal saja, mungkin akan dianggap kurang praktis, dan mobil listrik hanya akan dibeli oleh peminat yang kaya. Tetapi, karena produksi minyak di bumi kemungkinan sudah berpuncak, harga BBM akan meningkat pesat. Oleh karena itu, di AS dan beberapa negara yang lain, mobil yang memakai listrik adalah masa depan mobil. Mobil itu mulai laku bukan hanya karena suatu idealisme, tetapi karena melihat bahwa arah dunia memang ke sana.

Saya duga bahwa pemimpin-pemimpin Yahudi yang percaya pada pemberitaan Yesaya ini didorong untuk melaksanakan tugasnya dengan keadilan, melihat arah dunia yang dijanjikan Allah. Lebih lagi kita, sebab dalam kedatangan Kristus yang pertama, janji Allah itu sudah mulai digenapi. Kita bukan raja damai yang dipakai Tuhan untuk memulihkan dunia, tetapi kita berada di dalam-Nya, sehingga hidup kita diarahkan oleh masa depan itu.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yes 11:1-10 Allah memulihkan dunia dalam Raja yang Dia utus

  1. Ping balik: Yes 12:1-6 Sukacita karena keselamatan [29 Des 2013] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s