Ibr 1:1-14 Firman yang mendasari, menopang dan memulihkan

Alur penyampaian 1:1-2:4 tidak sulit secara garis besar. 1:1-4 menyampaikan bagaimana Allah telah berbicara kepada kita dalam Anak-Nya dengan cara yang berbeda dari dulu-dulu, yang dalam hal ini diwakili oleh malaikat yang menjadi perantara Hukum Taurat (2:2) yang merupakan dasar Perjanjian Lama. 1:5-14 membuktikan klaim dalam 1:4 bahwa Anak itu lebih mulia daripada malaikat-malaikat. Kesimpulannya dalam 2:1-4 ialah bahwa kita harus mendengarkan firman tentang Anak itu dengan lebih serius lagi daripada firman dalam Hukum Taurat. Demikian penulis mulai meyakinkan pendengarnya untuk bertahan dalam iman kepada Kristus dan jangan kembali ke kepercayaan lama, yaitu agama Yahudi.

Kesimpulan itu sudah terkandung dalam 1:1-4, yang dapat diringkas, “Ia berbicara kepada kita dalam Anak-Nya, yang duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar” (mengikuti susunan kalimat dalam bahasa aslinya). Dalam seluruh surat, keutamaan Kristus menjadi dasar untuk tetap mendengarkan berita tentang Kristus yang utama itu. Terhadap pokok ini, cabang-cabangnya menyampaikan suatu kisah tentang rencana Allah. Kepelbagaian penyataan PL sudah digenapi (dirangkum, berpuncak) dalam penyataan dalam Kristus (1-2a). Sebagai Anak yang dilantik sebagai Mesias, raja yang dijanjikan Allah (lihat 1:5; soal memperanakkan tidak merujuk pada hakikat Kristus sebagai Allah Anak tetapi pada peran-Nya sebagai Mesias), Kristus menjadi tujuan rencana Allah untuk dunia ini (“menerima segala yang ada”), sama seperti sebagai (secara tersirat) firman Allah Dia menjadi penggerak rencana Allah dalam penciptaan (2b); akhir dan awal, omega dan alfa. Jika kita mau memahami dunia, termasuk dari mana kita dan ke mana kita, kita harus melihat pada Kristus.

Dalam a.3 Kristus (Anak) menjadi subjek. Mungkin tetap sebagai firman, Dia menyatakan kemuliaan Allah dan wujud Allah dengan sempurna. Tetapi Dia juga menopang segala yang ada dengan firman-Nya—seperti seorang raja. Dengan gambaran demikian tentang Kristus, kita mendengar kisah-Nya: Dia mengadakan penyucian dosa baru duduk di sebelah kanan Allah. Mengadakan penyucian dosa tentu merujuk pada pengorbanan-Nya, dan penderitaan Kristus menjadi contoh untuk pengikut-Nya di beberapa tempat (misalnya 2:10 dan 12:2-3). Satu implikasi ialah bahwa jalan menuju ke kemuliaan ditempuh melalui penghinaan (bnd. 13:12-13). Kita menjadi terampil dengan menjadi bodoh dan kerja keras lebih dulu; kita membawa perubahan dengan disalahpahami dan bersabar lebih dulu; kita diselamatkan dengan mendengar dan bertekun lebih dulu (2:1). Menjadikan kisah Kristus mitos kita, artinya kisah mendasar yang di dalamnya kita menafsir dunia ini, memiliki implikasi yang menyeluruh.

Di sini Kristus adalah firman (melebihi nabi-nabi), Anak/Raja, dan, pada titik penyucian, Imam. Aa.5-13 paling banyak mendukung status-Nya sebagai Anak/Raja, tetapi peran Kristus dalam penciptaan dibuktikan dalam aa.10-12, and a.13 mengutip Mzm 110 yang daripadanya penulis surat akan membahas keimamat Kristus (lihat pp.7-10). Setiap peran menaungi serangkaian kegiatan dan tujuan, tetapi kekayaan diri dan karya Kristus hanya dapat disampaikan dalam sebuah gabungan dari peran-peran ini. Sebagai firman Dia memberi struktur dan makna bagi dunia ini. Sebagai Raja Dia meneguhkan struktur itu dengan menegakkan keadilan, termasuk hukuman (1:8-9; bnd. 12:25-29). Sebagai Imam, Dia memulihkan struktur itu melalui penyucian dosa.

Sungguh, firman ini layak kita dengarkan dan muliakan, sehingga Kristus menjadi dasar, kerangka dan pengarah kehidupan kita.

Pos ini dipublikasikan di Ibrani dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s