Ul 5:23-33 Taat karena Allah yang mulia dan besar

Jangan menyimpang, kata Musa kepada Israel (a.32). Itulah perintah yang disampaikan berulangkali dalam kitab Ulangan ini. Tetapi setiap kali dasar untuk perintah bisa berbeda-beda. Apa dasarnya, motivasinya, untuk ketaatan yang tidak menyimpang dalam perikop ini?

Sebagian besar kitab Ulangan adalah khotbah-khotbah Musa kepada Israel yang berada di dataran Moab, di seberang sungai Yordan, siap untuk memasuki tanah perjanjian (Ul 1:1). Dalam khotbah pertama, pp.1-4, Musa meninjau kembali riwayat Israel, dari gunung Horeb (alias Sinai) sampai di seberang sungai Yordan. Kisah itu menempatkan Israel pada saat itu dalam sebuah kisah yang sedang berjalan, yaitu kisah penyelamatan dari Mesir sampai masuk di tanah perjanjian (4:37-38). Musa juga mengingatkan mereka tentang pemeliharaan Allah yang telah mengalahkan musuh mereka, yakni kedua raja Amori, Sihon dan Og (2:31; 3:3). Dengan demikian, Israel sudah mengalami Tuhan sebagai Allah Penyayang, dan memahami bahwa tidak ada yang setara dengan Dia (4:30 dst).

Itulah konteks untuk khotbah yang berikut, yang menguraikan hukum Allah, mulai dengan kesepuluh firman (5:1-22). Perikop kita menceritakan reaksi umat Israel terhadap penyampaian itu. Dalam a.23 Musa bercerita kepada Israel di seberang sungai Yordan tentang Israel satu generasi sebelumnya di Horeb (Sinai). Dalam aa.24-27 Musa menceritakan perkataan semua kepala suku dan para tua-tua kepadanya di Sinai. Dalam aa.28b-31 Musa menceritakan perkataan Allah kepadanya di Sinai. Dalam aa.32-33 Musa kembali mengalamatkan Israel di seberang sungai Yordan dengan himbauan untuk jangan menyimpang. Cerita dari masa lampau ternyata menjadi dasar untuk himbauan itu. Baik perkataan para pemimpin Israel maupun respons Allah termasuk dasar itu.

Perkataan para pemimpin Israel dalam aa.24-27 bertujuan untuk membuat nyata kembali penampakan Allah yang dahsyat di Sinai itu bagi generasi-generasi berikut yang tidak menyaksikannya langsung, serta menjelaskan mengapa penampakan itu tidak terjadi berulangkali. Dahsyatnya ditunjukkan dengan keheranan mereka bahwa mereka bisa melihat kemuliaan Allah dan mendengar suara-Nya dan hidup (a.24). Makanya, mereka memohon Musa untuk menjadi perantara mereka (a.27, dikabulkan dalam a.31). Allah yang demikian yang memberi perintah yang daripadanya Israel dihimbau untuk tidak menyimpang. Jika Musa menjadi perantara, hal itu tidak mengurangi wibawa penyampaian Musa sebagai firman Allah. Sama halnya untuk seluruh Alkitab, yang ditulis oleh manusia tetapi harus kita hormati sebagai firman Allah.

Permohonan mereka dianggap baik oleh Tuhan (a.28), karena menunjukkan bahwa Israel takut akan Dia (a.29). Takut akan Allah adalah soal hati (“Kiranya hati mereka selalu begitu” a.29), hati yang sadar dan kagum akan kemuliaan dan kebesaran Allah. Hati yang demikian tidak memperlakukan Allah sebagai sekadar dewa pelindung yang tugas-Nya adalah memberkati cita-cita kita. Allah itu berbahaya (aa.24-26). Sebaliknya, hati yang demikian akan berpegang pada perintah-Nya (bukan Allah berpegang pada perintah kita), bukan hanya karena sadar akan kuasa Allah tetapi juga karena sadar bahwa hidup yang sejati didapat dari Allah yang dahsyat ini (“supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya”, diulang dalam a.33). Hati ini mensyukuri keselamatan yang telah dianugerahkan (penyelamatan dari Mesir, penebusan dalam Kristus), mengharapkan janji keselamatan (memasuki tanah perjanjian, kebangkitan ke dalam dunia baru), dan menempuh jalan hidupnya dalam ketaatan kepada Allah sebagai jalan yang indah.

Jadi, dasar untuk tidak menyimpang dari hukum Allah adalah bahwa yang disampaikan melalui Musa berasal dari Allah yang mulia dan besar, yang menawarkan hidup yang sejati, tetapi juga berbahaya. Allah itu tidak berubah ketika Dia mengutus Yesus Kristus, tetapi justru nampak makin mulia, besar dan berbahaya. Kristus menebus kita dari dosa dan maut, bukan hanya belenggu politik. Dunia baru adalah dunia hidup kekal, bukan hanya umur yang lanjut. Sebaliknya, karena hidup yang sejati adalah hidup yang kekal, kematian juga memiliki makna lebih dalam dan mengerikan, sebagaimana diperlihatkan oleh perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang kesadaran orang yang tidak masuk ke dalam kerajaan Allah akan kehilangan mereka yang total. Dalam perjuangan rohani kita, Allah Roh Kudus yang menyertai kita dengan mengubah hati kita supaya takut akan Allah dan taat, serta berkarya dalam dunia sekarang. Makanya, bagi kita dalam Kristus makin kuat alasannya untuk kita mengagumi Allah, mensyukuri keselamatan-Nya dan hidup sesuai dengan Injil.

Pos ini dipublikasikan di Ulangan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s