Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat

Bagian pertama dari surat Yakobus, adik Kristus itu, berujung pada a.18. Atas kehendak, keputusan, rencana Allah Bapa, Dia telah “melahirkan” (harfiahnya) kita untuk menjadi buah sulung (harfiahnya) pembaruan ciptaan-Nya (LAI mungkin was-was dengan konsep “Allah melahirkan kita” sehingga dirumus kembali sebagai “menjadikan kita…untuk menjadi anak sulung”). Hal itu dihasilkan oleh “firman kebenaran”-Nya, yang menjadi pokok berikut (lihat aa.19 dst: dalam a.21 firman yang menyelamatkan diterima, dalam aa.22 dst dipraktekkan). Ayat ini menyampaikan bahwa Allah mengambil keputusan atau memiliki rencana yang jelas, sehingga mengubah kita secara mendalam pada titik tertentu (bnd. Yoh 3:6-7, “dilahirkan kembali”). Itulah dasar anugerah, bahwa keselamatan kita diprakarsai oleh Allah sendiri. Tetapi anugerah menjadi landasan untuk suatu proses yang di dalamnya kita makin diperbaharui sebagai perintisan (“buah sulung”) pembaruan seluruh ciptaan Allah. Jadi, dalam ayat ini kita melihat makna paling dalam dari pembahasan sebelumnya tentang pencobaan. Pencobaan ikut serta dalam proses pembaharuan itu. Perhatikan bahwa hal itu tidak hanya secara perorangan. Allah melahirkan kita (jamak) untuk kita menjadi buah sulung.

Para pendengar pertama surat ini mengalami langsung keburukan dunia yang membutuhkan pembaruan itu, karena pada umumnya mereka tergolong miskin (Yak 2:5-6). Bagian 1:1-18 ini menunjukkan kepada mereka bahwa walaupun mereka mengalami banyak masalah (aa.2-4), dianggap bodoh (aa.5-8), dan rendah kedudukannya (1:9-11), mereka sebenarnya berbahagia jika mereka bertahan dalam pencobaan (1:12) dengan tidak diseret oleh nafsu yang menyesatkan (aa.13-15) tetapi tetap mengharapkan apa yang baik hanya dari tangan Allah Bapa (aa.16-17). Mereka berbahagia karena sudah memiliki status yang tinggi di hadapan Allah (1:9) dan akan menerima mahkota kehidupan (a.12), yaitu pengakuan oleh Allah (“mahkota”) dan bagian dalam dunia yang sudah diperbaharui (“kehidupan”).

Jadi, perikop kita menunjukkan bagaimana pencobaan dapat membantu kita dalam proses pembaruan itu, yaitu membantu kita “menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (a.4). Kata “matang” dan “sempurna” dalam a.4 sama (Yunani teleios; mungkin terjemahan “kamu menjadi matang” tepat juga dalam konteks ini), dan Yakobus melihat bahwa tanpa kesulitan yang menguji, yang menuntut ketekunan, kita tidak bisa matang. Semua manusia menghadapi masalah, tetapi yang cepat menyerah tidak memetik hasil yang semestinya dari masalahnya. Sebaliknya, yang bertekun dalam iman kepada Kristus dapat bersukacita di tengah masalahnya, karena di dalamnya dimatangkan sehingga menjadi bagian dari pembaruan Allah, bukan penghalang.

“Tak kekurangan suatu apapun” tidak merujuk pada materi, tetapi pada karakter, dan ciri khas karakter yang matang ialah hikmat. Menghadapi pencobaan dengan baik dapat menghasilkan hikmat, tetapi juga membutuhkan hikmat! Jadi, kepada pendengar yang masih bergumul untuk bertekun dalam pencobaan (saya rasa itu kita semua!), Yakobus memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan doa untuk mendapat hikmat. Allah tidak akan mencari kesalahan kita sebagai alasan untuk menolak permintaan itu, tetapi dengan murah hati akan memberi kita hikmat yang begitu dibutuhkan itu.

Hanya, ada syarat, yaitu, jangan bimbang. Ada yang menafsir syarat itu bahwa peminta harus merasa sungguh yakin bahwa doa ini akan dikabulkan, baru boleh berharap bahwa doanya akan dikabulkan. Tetapi di sini keyakinan iman adalah soal tindakan bukan perasaan. Sebagai contoh, saya bisa merasa yakin bahwa pesawat terbang aman, tetapi jika saya selalu naik kapal apakah itu keyakinan yang sejati? Sebaliknya, jika saya merasa takut tetapi tetap menaiki pesawat itu (seperti beberapa kali penumpang di samping saya terdiam dan agak pucat ketika mau lepas landas), saya tidak bimbang dalam artian yang disampaikan dalam a.6. Bimbang berarti diombang-ambingkan, tidak memiliki pendirian yang jelas, minta pendapat teman tentang penerbangan tetapi ketika ke travel membeli tiket kapal. Bimbang berarti orangnya memohon hikmat kepada Allah, mungkin dengan semangat, teriakan dan puasa, tetapi dalam hati tidak ingin menjadi orang yang berhikmat, karena tahu bahwa hikmat membawa akibat perubahan sikap, misalnya tidak bisa lagi melemparkan tanggung jawab atas kegagalan dan dosa sendiri kepada keadaan atau Allah yang berkuasa atas keadaan itu.

Jadi, bimbang adalah mendua hati: memohon hikmat sebagai jalan keluar, tetapi tidak menginginkan hikmat dari Allah yang akan membawa pada pembaruan diri. Orang itu masih penghalang bagi rencana pembaruan Allah. Orang itu perlu bertobat dengan menerima firman kebenaran dengan jelas dan tegas, baru orang itu menjadi mitra Allah sehingga pasti akan dibekali dengan hikmat untuk berperan dalam rencana Allah.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Yakobus dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat

  1. abuchanan berkata:

    Syukur, Tuhan memberkati.

  2. hari wahyu berkata:

    Terima kasih, selama ini saya bingung deh mau kemana saya harus pergi, ternyata jawabannya sederhana saja yaitu Hikmat Allah, sekali lagi terima kasih kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua

    Syaloom

    HK Wahyudi
    Wong nDeso Blitar (Jatim)

  3. Ping balik: Yakub 1:19-27 Firman yang menjadi cermin dan kuasa pembaruan [21 Agustus 2011] « To Mentiruran

  4. menemani berkata:

    Penguraian yang bagus! Benar sekali :)Terima kasih.

    Salam hangat,
    eva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s