Kid 1:9-2:17 Cinta yang tidak hambar

Gereja sepanjang sejarah sering was-was tentang nafsu berahi. Hal itu terjadi di bawah pengaruh filsafat Yunani yang menekankan bahwa rasio harus mengendalikan tubuh. Karena dalam persetubuhan rasio lepas kendali, persetubuhan dianggap pada prinsipnya tidak baik. Tetapi dalam Kidung Agung kita melihat bahwa tidak demikian dalam Alkitab. Allah menciptakan kita dengan tubuh untuk menikmati dunia Allah dalam tubuh itu. Nafsu makan, nafsu berahi dsb adalah pemberian Allah. Kidung Agung adalah serangkaian puisi cinta yang merayakan cinta, termasuk rangsangan-rangsangan yang terjadi ketika kekasih ada dekat atau dipikirkan.

Konon ada penelitian yang membandingkan tingkat kecelekaan hamil di satu daerah Toraja yang bebas berbicara tentang soal-soal berahi dan satu daerah di mana hal itu tabu. Ternyata, daerah yang terbuka kurang tingkatnya. Dapat dibayangkan, jika ada gadis yang merasa tergiur oleh pacarnya, di daerah yang terbuka dia akan bebas untuk membuka pergumulannya kepada orang yang dipercaya, entah itu orangtua, kakak atau teman. Di daerah yang di dalamnya tabu dibicarakan, gadis itu harus menanggung pergumulan seorang diri. Jelas keadaan mana yang akan lebih menolong. Jadi, cinta, dan keterbukaan tentang cinta seperti dalam kitab ini, sehat.

Persetubuhan dalam Alkitab dikhususkan bagi pernikahan bukan karena tidak baik, tetapi karena begitu khusus. Makanya, Kid 2:7 mengatakan bahwa cinta jangan dibangkitkan sebelum waktunya. Jadi, bagi yang sudah menikah, Kidung Agung menjadi sumber dan pendorong untuk saling menikmati dalam wadah yang diberikan Allah. Bagi yang belum menikah, ayat 7 ini mengusulkan untuk bersabar dulu, supaya pemberian Allah ini sungguh dinikmati pada waktunya.

Ada penafsir yang menganggap topik cinta berahi tidak pantas dalam kitab suci, sehingga menafsir Kidung Agung sebagai gambaran hubungan Allah dengan umat-Nya. Tafsiran itu sepertinya akan menimbulkan banyak keanehan, tetapi secara tidak langsung ada benarnya. Dalam Alkitab Allah / Kristus adalah suami Israel / Gereja, dan dalam Kidung Agung kita melihat bahwa maksud pernikahan bukan sekadar perjanjian antar keluarga atau tatanan ekonomi melainkan ada kasih yang eksklusif dan menyeluruh. Kasih Allah bagi kita demikian, dan semestinya juga kasih kita bagi Allah. Saya tidak tahu apakah ada korelasi antara pola pernikahan yang ramah tetapi kurang hangat dengan pola beriman yang sama, tetapi keduanya dinyatakan kurang oleh kitab ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kidung Agung dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s