Luk 21:34-38 Doa yang menantikan hari Tuhan

Lukas 19:45-21:38 memberi gambaran tentang pelayanan Yesus di Bait Allah. Dia datang sebagai Raja Israel, Mesias, kemudian menyucikan Bait Allah dan, seperti dikatakan dalam aa.37-38 dari perikop kita, Dia mengajar pada siang hari kepada “seluruh bangsa” (LAI “semua orang banyak”). Namun, 21:7-36, termasuk aa.34-36 dari perikop kita, tidaklah ditujukan kepada orang banyak melainkan kepada para murid (21:7). Dipicu oleh pernyataan provokatif dalam 21:6 bahwa Bait Allah akan dihancurkan, mereka bertanya tentang waktu dan tanda dari peristiwa itu.

Hal itu menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar tentang apa yang disimpulkan sebagai “hari itu” (a.34; LAI “hari Tuhan”), yakni hari kedatangan Kerajaan Allah (21:31). Dalam Injil Lukas, Kerajaan Allah, sama seperti biji sesawi dan ragi, mulai kecil tetapi berdampak besar (13:18-21). Bijinya tidak lain dari Yesus sendiri (8:10), tetapi antara pelayanan Yesus dan kedatangan Kerajaan Allah secara tuntas ada proses. Proses kedatangan Kerajaan Allah digambarkan dalam 21:7-36, dengan fokus pada waktu kehancuran Yerusalem. Proses kedatangan Kerajaan Allah ditandai dengan peperangan, gempa, penyakit, kelaparan dsb (21:11) serta penganiayaan (21:12). Hal-hal itu menjadi peringatan bahwa penggenapannya akan datang, sama seperti tunas pohon menandai kedatangan musim panas (di tempat-tempat yang ada empat musim). Dalam a.36 baik proses maupun puncak dirujuk, yaitu “semua yang akan terjadi” (proses, merujuk ke 21:7-36) dan “berdiri di hadapan Anak Manusia” ketika Dia datang kembali.

Jadi, walaupun “hari itu” merujuk terutama pada akhir dari proses itu, yakni ketika Yesus datang kembali, kita bisa melihat bahwa ada banyak hari-hari Tuhan kecil yang menyingkapkan apakah umat Allah menantikan kedatangan Kerajaan Allah dengan setia atau tidak. (Bandingkan 1 Yoh 2:18, di mana gagasan tentang adanya satu orang antikristus tidak terbatas oleh “satu” itu tetapi menyimpulkan bahwa sudah ada “banyak” yang berfungsi seperti antikristus itu, walaupun dalam rangka yang lebih terbatas.)

Oleh karena itu, peringatan Yesus tetap ada relevansinya bagi kita, entah puncaknya datang dalam waktu dekat atau tidak. Hari Tuhan disebut dalam a.34 “jatuh…seperti suatu jerat”. Jerat jauh lebih susah dihindari atau diluputkan jika kita menanggung beban yang berat. “Pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi” membebani hati. Seperti dalam perumpamaan tentang penabur benih (bnd. 8:14), hal-hal itu mencekik pertumbuhan iman. Dengan demikian, ketika masalah-masalah berat datang, kita tidak dapat bertahan.

Bagaimana caranya untuk mempersiapkan diri? Dalam a.36 dikatakan untuk berjaga-jaga dalam doa. Berjaga-jaga berarti bahwa doa kita terarah, sadar dalam waktu tenang dan aman bahwa kita harus siap untuk menghadapi waktu susah dan berbahaya. Doa berarti bahwa kita mengandalkan Allah untuk meluputkan kita. Apakah doa kita mempersiapkan kita untuk menghadapi tantangan yang berat? Atau doa hanya untuk menghibur jemaat yang sedang tidur?

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s