Luk 22:1-6 Jatuhnya seorang murid ke dalam pencobaan (3 Apr 2011)

Aa.1-2 merupakan latar belakang yang penting untuk aa.3-6. Dari pp.20-21 ternyata sudah cukup banyak orang di Yerusalem, dan mereka terpesona dengan Yesus. Mendekatnya hari H, yakni Paskah (yang langsung disusuli dengan hari raya Roti Tidak Beragi), makin mendesak pimpinan Yahudi, karena jika Yesus berencana menentang kuasa kafir, yakni orang Roma, pada hari itu jumlah dan semangat perjuangan orang banyak akan memuncak. Tetapi karena orang banyak terpesona dengan Yesus mereka tidak bisa menangkap Yesus langsung di depan umum. Mereka membutuhkan jalan yang lain. Hal itu yang diberikan kepada mereka oleh Yudas (a.6).

Jadi, penawaran Yudas datang pas pada waktunya, dan mungkin saja mereka menganggap bahwa hal itu adalah pemeliharaan Tuhan sendiri. Tetapi menurut Lukas yang mengatur bukan Allah melainkan Iblis. Tentu, Iblis tidak di luar kuasa Tuhan—sebaliknya semuanya ini termasuk rencana-Nya—tetapi Iblis yang menggerakkan hati Yudas. Bahasa “masuklah Iblis ke dalam Yudas” terjadi juga dalam Yoh 13:27, dengan terjemahan yang lain, yaitu, “ia kerasukan Iblis”. Jika gambaran orang kerasukan di Toraja adalah orangnya berteriak dan bergerak-gerak dengan tidak sadar, maka jelas Yudas tidak kerasukan. Dalam Yoh 13:2 Iblis sudah “membisikkan rencana dalam hati” (harfiah: “melemparkan ke dalam hati”) untuk menyerahkan Yesus, dan dalam Yoh 13:27 Iblis masuk untuk meneguhkan bisikan itu. Jadi, Iblis yang memberanikan Yudas untuk melakukan sesuatu yang sangat menantang—mengkhianati guru tercinta. Ternyata tidak semua kebetulan yang cocok dengan rencana kita datangnya dari Tuhan, dan tidak semua semangat yang datang dari luar datangnya dari Roh Kudus, sekalipun tidak ada gejala-gejala kerasukan.

Tidak jelas seberapa jauh Yudas menganggap bahwa dia melakukan sesuatu yang baik atau yang perlu ketika dia pergi kepada para pemimpin Yahudi. Saya duga Suharto sungguh percaya bahwa jika dia tidak memegang kuasa, Indonesia akan runtuh dan hancur. Aparat di bawahnya yang mengatur pembunuhan para aktivis mungkin saja menganggap bahwa mereka berjuang untuk mempertahankan kedamaian yang dijamin oleh penguasa yang kuat itu. Yudas ditanggapi dengan serius oleh para pemimpin Yahudi, dan aparat (pengawal Bait Allah) dilibatkan untuk membahas strategi penangkapan Yesus (a.4). Paling sedikit, mereka percaya bahwa mereka melakukan kehendak Allah. Hanya, ketika kesepakatan mereka sampai pada soal uang, suatu anggapan bahwa Yudas (dan mereka) memiliki prinsip menjadi sulit dipertahankan. Yudas tidak digerakkan oleh uang, dia digerakkan oleh Iblis. Tetapi penawaran uang itu bisa mengobati gejolak hati yang masih ada di dalam dirinya, sehingga dia dengan tekun mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Dalam perikop sebelumnya (yang dibahas beberapa minggu yang lalu) dikatakan bahwa kita harus berjaga-jaga sambil berdoa (Luk 21:36). Menghadapi pencobaan terkait dengan kehadiran Kristus di Yerusalem, Yudas adalah yang pertama yang jatuh. Penerimaan uang itu menjadi gejala atau tanda akan suatu hati yang dengan mudah dipengaruhi oleh Iblis sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s