Mt 27:27-31 Pelantikan Raja Israel

[Catatan untuk pelayan GT: perikopnya ternyata Mt 27:27-31, dengan maksud tema seperti di bawah, sebagaimana telah saya konfirmasi kepada salah satu anggota tim MJ. Pilatus menjadi tema minggu depan.]

Untuk menafsir kisah satu cara yang paling sering berguna adalah beranjak dari tokoh-tokoh di dalamnya. Dua tokoh yang muncul dalam perikop ini adalah Yesus dan pasukan. Yang disebut pasukan adalah cohors, sepersepuluh dari sebuah legio yang berjumlah 6.000 orang. Belum tentu 600 orang yang mengelilingi Yesus, karena istilah itu dapat dipakai untuk sebagian dari satu cohors, tetapi sepertinya semua yang bertugas pada saat itu ikut mengolok-olokkan Yesus.

Jika dilihat dari segi pasukan, kita melihat pola yang melekat pada orang di pertengahan jenjang kuasa sampai pada saat ini. Tugas mereka adalah mengamankan Yesus. Pemimpin yang ada di atas jenjang itu sudah sepakat bahwa Yesus mengancam keamanan (keamanan bangsa atau keamanan kedudukan pemimpin biasanya tidak dibedakan oleh kelompok itu), sehingga harus dibereskan. Pasukan bertugas untuk membawa Yesus ke tempat penyaliban melalui orang banyak tanpa Yesus dibunuh atau melarikan diri. Walaupun orang banyak di halaman sudah dihasut untuk meminta Yesus disalibkan (27:20), bisa saja, setahu mereka, ada pendukung Yesus di luar yang akan membuat masalah. Jadi tugas itu tetap ada risikonya.

Berhadapan dengan ketegangan, mereka bertindak seperti banyak aparat sebelum dan sesudahnya, yaitu mereka bersenang-senang dengan mengolok-olokkan seorang kecil yang ada dalam kuasa mereka. Ingat bahwa mereka adalah bawahan, pesuruh dari semua di atas mereka dalam hierarki militer. Cara untuk menyelamatkan harga diri yang tertekan oleh kedudukan itu ialah menekan orang kecil ketika ada kesempatan. Makanya, secara teratur dilaporkan bahwa ada polisi dan militer di Indonesia menyiksa tawanan (tentu oknum-oknum tertentu). Makanya, tentara AS membuat foto-foto penganiayaan teroris tersangka di penjara Abu Ghraib dan Guantánamo Bay. Bahkan pejabat kecil bisa melampiaskan stres mereka kepada orang yang ada di bawah kuasa mereka, yang dianggap sepele dan sampah. Bagi pasukan pada saat itu, tuduhan bahwa Yesus mengaku sebagai Raja Israel amat lucu. Keadaan Yesus, seorang tukang dari pelosok yang baru disesah, hanya membuktikan bahwa yang berkuasa layak berkuasa, dan yang rendah layak direndahkan. Sikap mereka terhadap kuasa dan kedudukan adalah khas sikap dunia, sampai sekarang.

Soalnya, ternyata yang mereka aniaya tidak lain dari Anak Allah.

Ternyata, menurut Mt 25:41-46 (perikop PA minggu ini), setiap orang kecil adalah wakil Yesus. Sikap kita terhadap orang kecil adalah sikap kita terhadap Yesus. Pengolok-olokan pasukan itu mengungkapkan makna dari semua peremehan dan penindasan orang kecil, yaitu penghinaan terhadap Allah sendiri.

Kemudian, bagaimana jika dilihat dari segi Sang Korban, Yesus? Jika pada baptisan-Nya Yesus diurapi sebagai Mesias, alias raja Israel, di sini baru Yesus diakui sebagai raja. Menurut penulis Injil, yaitu menurut Roh Kudus yang mengilhami penulis itu, di sini Kristus dilantik sebagai raja. Dia dipakaikan jubah ungu, dimahkotai, diberi tongkat, dan pasukan itu berlutut di hadapan-Nya. Kemudian, pelantikan itu diumumkan dengan papan di salib, “Inilah Yesus Raja orang Yahudi” (Mt 27:37). Daud juga mengalami jangka waktu yang lama antara pengurapannya dengan pelantikannya sebagai raja. Tetapi, suasananya berbeda. Daud sudah melewati masa pergumulannya ketika dilantik. Yesus dilantik pas pada puncak pergumulan-Nya. Daud dilantik atas aklamasi seluruh Israel. Yesus dilantik dalam keadaan yang serba ironis. Semua yang mengaku-Nya sebagai Mesias dan raja mengolok-olokkan-Nya. Apa yang mereka katakan persis benar, tetapi hanya Yesus mengetahuinya, dan itulah hanya oleh iman—tidak ada petunjuk sedikitpun dalam keadaan-Nya untuk membuktikan bahwa Allah berpihak pada Dia. Baru ketika Dia bangkit menjadi jelas bahwa Yesus adalah Raja Israel, bahkan Raja di atas segala raja.

Dalam perikop ini unsur kehinaan dalam pengorbanan Yesus paling ditonjolkan. Unsur itu yang menjungkirbalikkan nilai budaya yang terlalu asyik dengan hormat. Apa kita lebih mulia daripada Kristus, sehingga kita merasa terlalu tinggi untuk ini dan itu, sedangkan Kristus dilantik dengan cara begitu demi keselamatan kita?

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s