Yoh 18:38b-19:16a Kebenaran yang diungkapkan Mesias yang menderita

Injil Yohanes memberi fokus khusus ketimbang Injil-Injil yang lain pada perjumpaan antara Yesus dengan Pilatus. Pilatus tidak bodoh, dan mulai dengan alasan para pemimpin orang Yahudi yang kabur—“Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” (18:30)—dia duga bahwa Yesus dibawa karena masalah intern bukan karena sungguh berbahaya. Walaupun mungkin semua kecuali Yesus sendiri menganggap bahwa Dia masuk ke dalam Yerusalem untuk memperjuangkan takhta Israel ala Daud, ternyata tidak ada jaringan militer-Nya atau sedikitpun yang lain terkait dengan hal itu. Ketika Pilatus bertanya tentang tuduhan politik bahwa Yesus mengklaim diri sebagai raja Yahudi, Yesus menjelaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari sini (18:36), melainkan terkait dengan kebenaran. Kata kebenaran (Inggris truth, Yunani aletheia) berarti apa yang sesungguhnya di balik permukaan yang kelihatan. Pilatus, dari budaya Roma yang pragmatis, mempertanyakan pernyataan Yesus. Yang berikut memperbandingan kebenaran yang disaksikan Yesus dengan pragmatisme Pilatus, kebenaran versi Yesus dan kebenaran versi Kaisar. Kebenaran versi Yesus (ala kerajaan “bukan dari dunia ini”, yakni dari Allah, 18:36) terpola oleh salib, sehingga banyak diungkapkan dengan ironi. Kebenaran versi Kaisar (kerajaan dunia, seperti Kaisar) penuh kerancuan. Tetapi yang menarik, para pemimpin Yahudi yang paling sempurna mempraktekkan pola Kaisar, dan Pilatus menjadi plin-plan di antaranya. Hal itu nampak dalam bolak-balik Pilatus: Yesus berbicara di dalam gedung, sedangkan para pemimpin Yahudi berbicara di luar gedung. Tetapi baik di dalam maupun di luar kita pembaca belajar tentang apa itu kebenaran.

Termasuk 18:28-38a, Pilatus keluar empat kali dan masuk tiga kali. Kali kedua dia keluar (tetapi kali pertama dalam perikop ini) dalam 18:38b-40. Ada dua kebenaran yang diucapkan oleh Pilatus, yakni bahwa Yesus tidak bersalah (18:38b) dan bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (18:39). Kedua kebenaran ini lebih dalam daripada pemahaman Pilatus. Yesus tidak hanya tidak bersalah dalam rangka memberontak, tetapi Dia adalah manusia sempurna yang siap untuk menjadi Anak Domba Allah yang tak tercacat. Yesus juga adalah raja Allah, Mesias yang diutus untuk menderita bagi umat Allah, walaupun saya duga Pilatus mengatakan hal itu untuk mengganggu para pemimpin Yahudi, bukan karena dia mengerti kerajaan Yesus. Penulis Injil melihat kedua kebenaran yang mendasari kematian Yesus itu disampaikan justru melalui wakil bangsa-bangsa, meskipun dengan tidak sadar. Sedangkan para pemimpin agama Yahudi mengungkapkan cara mereka dengan memilih seorang penyamun di atas Yesus.

Dalam 19:1-3, Pilatus masuk kembali. Dia menyuruh Yesus disesah, padahal dia baru menyatakan Yesus tidak bersalah. Kemungkinan dia berharap bahwa kebencian orang Yahudi bisa diredakan dengan Yesus disiksa, sehingga dia menganggap bahwa dia menyelamatkan nyawa Yesus. Begitulah kerancuan pola Kaisar. Namun, karakter tentara Romawi terungkap dalam perlakuan mereka kepada Yesus, sebagaimana dibahas minggu yang lalu (19:2-3). Tetapi mereka juga mengungkapkan kebenaran tentang Yesus secara ironis, yaitu bahwa Dia adalah raja.

Ketika Pilatus keluar (19:4), dia menegaskan bahwa Yesus tidak bersalah. Yesus diperlihatkan, dalam keadaan baru disesah dan sebagai raja main-mainan. Jika tafsiran tentang tujuan Pilatus untuk menyesah Yesus di atas tepat, ucapan Pilatus, “Lihatlah, manusia itu” kurang lebih berarti, “kasihan orangnya; cukup, bukan?” Tetapi oleh penulis Injil kita diajak untuk melihat kebenaran lebih dalam. Yesus adalah manusia sempurna, yang di sini terungkap baik sebagai raja yang rendah maupun sebagai manusia yang rela berkorban bagi orang lain. Yang berikut (19:5-7) memperpanjang pertengkaran antara Pilatus dengan mereka, hanya, alasan mereka dalam 19:7 belum berhasil membuat Pilatus menyerah. Walaupun istilah “anak Allah” dapat dipakai untuk raja Israel sehingga memiliki unsur politik, istilah itu akan didengar oleh Pilatus sebagai klaim keagamaan yang bukan wilayahnya.

Namun, Pilatus merasa makin terpojok (19:8). Jangan sampai Yesus memiliki hubungan dengan salah satu dewa! Jadi, Pilatus bertanya tentang asal usul Yesus yang “bukan dari dunia ini”, suatu pernyataan yang dia abaikan sebelumnya (18:37). Karena PIlatus barangkali tidak sanggup memahami jika dijawab Yesus, Yesus diam saja. Dalam kedua ayat berikut (19:10-11) ada kebenaran mendasar tentang Pilatus dan kerajaan Kaisar diungkapkan. Pilatus menganggap diri orang berkuasa. Tetapi Yesus melihat bahwa di hanya menerima kuasa “dari atas”. Pada satu segi, hal itu mengatakan bahwa Pilatus sebenarnya pesuruh saja. Ketika orang Yahudi mengancam “naik banding” ke Kaisar (19:12), Pilatus harus menyerah. Dia mau membebaskan Yesus tetapi tidak sanggup melakukannya. Pada segi yang lain, Allah sudah memiliki rencana, dan Pilatus maupun Kaisar tidak bisa bertindak di luar izin Allah.

Akhirnya PIlatus keluar untuk kali terakhir. Dalam adegan ini, sifat Pilatus dan para pemimpin Yahudi sungguh tersingkap. Jika para pemimpin Yahudi tadinya memilih kekerasan (penyamun) di atas kedamaian (Yesus), di sini mereka dengan terus terang memilih Kaisar di atas raja yang dipilih Allah (19:15). Setelah Pilatus berjuang sekeras-kerasnya, dia harus menyerah. Mengapa harus menyerah? Bukan karena dia lemah dalam karakternya, tetapi karena konsepnya tentang kebenaran salah. Dalam pola dunia, kepentingan Kaisar identik dengan kebenaran. Tidak mungkin kepentingan satu orang diangkat di atas kepentingan kaum berkuasa, sekalipun dia tidak bersalah (bnd. 11:50, dari pemimpin orang Yahudi!). Sebagai contoh, jika saya membawa motor pada jalan yang becek, dan harus memilih antara menggilas burung dengan motor tergelincir dan mungkin rusak, saya akan memilih menggilas burung, memang dengan rasa kasihan tetapi juga ungkapan, “apa boleh buat”. Begitulah Pilatus. Dia merasa kasihan, tetapi apa boleh buat.

Jadi, Yesus diungkapkan sebagai manusia sejati dan Raja umat Allah yang layak menjadi korban bagi manusia. Manusia (paling sedikit, kaum penguasa) diungkapkan sebagai kaum yang mengidentikkan kebenaran dengan kepentingan kelompok. Agama pun diungkapkan memiliki pola yang sama. Selalu dalam Injil Yohanes kita diperhadapkan dengan pilihan. Apakah kita memilih kerajaan Allah, yang menyatakan benar / salah berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan? Meskipun jalan itu mengandaikan mengikuti Yesus dalam penghinaan dan pengorbanan, sampai Allah mewujudkan kerajaan-Nya di dunia ini juga.

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Yoh 18:38b-19:16a Kebenaran yang diungkapkan Mesias yang menderita

  1. Indry berkata:

    Kurre pak.
    Saya heran pesan cerita ini yang dimuat dalam kurikulm untuk anak kecil adalah “mengharagai kelebihan teman”
    Sungguh-sungguh di luar teks.

  2. abuchanan berkata:

    I share your pain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s