Mt 28:1-10 Dari Kecemasan sampai Pengharapan

Kedua Maria pergi ke kubur Yesus dalam dunia yang kita kenal, yaitu dunia yang di dalamnya kebenaran ditindas oleh kepentingan kuasa dan pengharapan hanya mengecewakan. Dalam dunia seperti ini, tinggal tindakan-tindakan kecil yang masih bermakna, seperti menengok kubur pemimpin rohani kekasih yang sudah menjadi korban dunia itu. Berbuat baik dalam dunia seperti ini sulit dipertahankan, karena kebaikannya lenyap dalam kegelapan, seperti dilambangkan oleh kegelapan yang meliputi bumi sambil Yesus di atas salib (27:44). Memang Matius sudah melaporkan dua petunjuk bahwa Yesus justru telah berhasil menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka, tetapi perempuan-perempuan itu belum tahu—yang satu terjadi di dalam Bait Allah, yang satu terjadi setelah kebangkitan Yesus.

Tetapi mereka pergi ke kubur menjelang menyingsingnya fajar (a.1) pada hari pertama, seakan-akan kita ada pada hari pertama penciptaan menunggu Allah berfirman, “Jadilah terang”. Dan itulah yang terjadi. Matius tidak memakai ketegangan seperti ketiga Injil yang lain, sehingga dia melewatkan bagian di mana penengok kubur melihat dulu kubur yang kosong baru diberitahu oleh malaikat (pedoman Gereja Toraja memuat penguraian tentang perbedaan-perbedaan antara keempat Injil soal kebangkitan Yesus). Dia langsung menceritakan suatu pertunjukan yang hebat dari Allah, lengkap dengan kuasa dan terang (aa.2-3). Dengan demikian, keadaan tiba-tiba terbalik. Para penjaga, wakil kepentingan-kepentingan yang membunuh Yesus, tidak dapat bicara lagi dan malah tergolong dengan orang mati (a.4). Sebagai lawan dan musuh Yesus, kebangkitan Yesus bukan kabar baik. (Jika kita melihat 28:16-20, satu hal yang menarik ialah bahwa kepada musuh Yesus ditawarkan kesempatan untuk bertobat, bukan pembalasan langsung.) Yang berada dan yang hidup adalah kedua perempuan itu, dan mereka tidak usah takut karena mereka tergolong orang yang mau menemukan Yesus, bukan meniadakan Dia (a.5).

Namun, mereka takut. Mengapa? Mereka mencari Yesus yang disalibkan, bukan yang telah bangkit; mereka lupa bahwa Dia sudah mengatakan bahwa Dia akan bangkit. Matius memperlihatkan suatu ironi di sini. Musuh-musuh Yesus mengingat pemberitahuan Yesus itu (27:63), tetapi teman-teman-Nya tidak. Namun, buktinya ada di depan mata mereka—tempat dia dibaringkan kosong (a.6). Jika sebagai Raja Israel Yesus harus mengalami pembuangan Israel dalam bentuk penghinaan dan kematian di kayu salib sebagai pengganti bagi orang berdosa, sekarang jelas bahwa Allah sudah menuntaskan proses keselamatan itu dengan membangkitkan Dia. Yesus masuk ke dalam ranah maut supaya semua yang bergabung dengan-Nya bisa dibawa keluar ke dalam hidup yang baru (bnd. Rom 6:4). Kegelapan sudah menjadi terang, kecemasan sudah dikalahkan oleh pengharapan baru: Allah tidak alpa dari dunia ini, tetapi sudah bertindak merintis pembaruannya dan menyelamatkan manusia di dalamnya. Makanya, mereka disuruh untuk mengabarkan berita itu kepada murid-murid Yesus, bahwa mereka dapat melihat Yesus kembali (a.7).

Mereka keluar dengan sukacita yang besar, dan semangat yang tinggi untuk mengabarkan berita ini, tetapi mengapa masih ada ketakutan (a.8)? Dugaan saya bahwa kita melihat bagaimana kecemasan itu sulit dilepaskan sepenuhnya. Kabar itu “too good to be true”, terlalu baik untuk dipercayai. Jangan sampai mereka dikecewakan kembali. Hanya dalam perjumpaan dengan Yesus, ketika mereka dapat memegang dan menyembah-Nya, berita tentang kebangkitan-Nya menjadi utuh. Pesan Yesus kepada mereka hanya ringkasan dari pesan malaikat, tetapi mereka mulai mengalami berkat utama dari kebangkitan, yaitu persekutuan dengan Yesus sendiri.

Dunia mereka tidak pernah sama lagi, dan jika kita menerima berita ini dan membiarkan diri berjumpa dengan Yesus, dunia kita juga tidak akan sama. Yesus adalah Raja Juruselamat: di dalam-Nya Allah sudah bertindak untuk memulihkan dunia ini, sehingga di tengah kegelapan yang teramat buruk ada pengharapan bahwa fajar mau menyingsing. Yesus adalah Bait Suci yang dibangun kembali: dengan kenaikan Yesus dan pengutusan Roh Kudus, kita semua bisa menyembah Yesus dan menikmati hadirat Allah langsung melalui-Nya. Tetapi, di manakah kita dalam cerita ini? Tentu bukan pada musuh Yesus. Tetapi apakah masih mencari Yesus yang disalibkan sehingga larut dalam kecemasan? Atau sudah menerima kabar kebangkitan-Nya, tetapi belum masuk hati sehingga plin-plan antara sukacita dengan kecemasan? Atau sudah bersekutu dengan Kristus sehingga siap memberitakan-Nya kepada orang lain?

Selamat merayakan harapan hari kebangkitan, dan persekutuan dengan Kristus yang telah bangkit.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s