Ams 19:18-29 Didikan yang bertujuan

Pendidikan menyangkut pengajara dan pelajar, suatu proses yang terjadi di antara mereka, dan terutama suatu tujuan pada para pelajar. Jika tujuannya tidak jelas, maka prosesnya juga tidak akan jelas, baik untuk pendidikan formal maupun yang non-formal (seperti di rumah tangga).

Dalam bacaan kita, kata dasar “didik” (YSR dalam bahasa Ibrani) terjadi 3 kali, yaitu di a.18 (diterjemahkan “hajar”), a.20 dan a.27. Walaupun bacaan kita tidak dapat disebut sebuah perikop, karena Amsal 10:1-22:16 merupakan koleksi amsal yang tidak tersusun secara tematis, namun ayat-ayat yang lain juga bisa dikaitkan, karena akan menyinggung tujuan pendidikan dalam Amsal, yaitu menjadi orang berhikmat.

Menyangkut tujuan itu, mungkin aa.22-23 menyampaikan suatu inti. “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya”, kata a.22a. Hal itu sering kurang disadari. Pemuda menganggap bahwa yang diinginkan pada seseorang adalah gaya yang keren; orangtuanya menganggap bahwa yang diinginkan pada seseorang adalah kesemarakan. Makanya, kita mau menjadi orang yang bersifat keren atau kaya. Tetapi ayat ini menyatakan apa yang sesungguhnya: yang kita butuh dalam diri orang lain dan yang mereka butuhkan dalam diri kita adalah kesetiaan, bukan gaya keren dan bukan kekayaan. Makanya, “lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong”, karena pembohong yang kaya sebenarnya tidak berguna. Sama halnya dengan siswa atau mahasiswa yang mendapat nilai tinggi karena mencontek.

Selain gengsi, orang berbohong karena mencari aman. A.23 menyampaikan sumber keamanan yang sebenarnya: takut akan Allah. Ayatnya tidak berjanji bahwa orang yang takut akan Allah tidak akan pernah menderita (gaya bahasa Amsal tidak dimaksud sebagai janji mutlak ataupun perintah mutlak, tetapi sebagai pengarahan), tetapi menunjukkan sesuatu yang nyata. Orang yang beriman dapat mengandalkan Allah dalam keadaan yang menantang, sedangkan orang yang mengandalkan diri gelisah bahkan dalam keadaan yang aman.

Jadi, jika kedua amsal ini sungguh disadari, maka banyak dorongan untuk mengambil jalan potong akan hilang. Oleh karena itu, adalah penting orangtua menginginkan hidup bagi anaknya dengan memberi mereka didikan. Tidak mendidik anak berarti mengingingkan kematian bagi mereka. Didikan dalam a.20 dan a.27 menyangkut perkataan yang didengarkan, tetapi jika pelajar (anak, murid) mengabaikan nasihat itu, maka tegoran yang lebih tegas dibayangkan (aa.18, 29). Kekerasan di sini bukan luapan amarah (justru cepat marah dikritik dalam a.19), tetapi terfokus pada perbaikan orangnya. Tegoran (secara fisik atau lisan) yang tidak jelas alasannya tentu tidak mengajarkan hikmat, melainkan kebodohan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Ams 19:18-29 Didikan yang bertujuan

  1. ulina berkata:

    Dari tulisan ini dapat saya mengerti bahwa ketika memberikan tegoran terutama kepada seorang anak sedapat mungkin atau harus barangkali disertai dengan arahan apa yang harusnya diperbuat oleh seorang murid atau seorang anak.
    Dari sisi lain saya melihat segi pendidikan kepada murid atau anak adalah role model. Anak atau murid mudah sekali mencontoh gurunya sehingga lahirlah pepatah Guru kencing berdiri murid kencing berlari. kalau gurunya enggak baik apa lagi muridnya. Atau contoh lain yang sangat sehari-hari. seorang bapak melarang anaknya merokok, dengan mengajukan sejumlah argumen yang intinya jangan sampai terlanjur seperti bapaknya. disini memang ada arahan yang jelas, supaya jangan merokok mengingat segala akibatnya. tapi kalau ayahnya tetap merokok sementara anaknya dilarang. jadi bertentangan arahan dan perbuatan, sehingga dalam dunia pendidikan ini membuat kebingungan anak didik. Jadi untuk dapat didengarkan oleh murid maka si pendidik juga perlu ada wibawa melalui teladan hidupnya. mudah mudah-an dapat melengkapi maksud disini.

  2. abuchanan berkata:

    Betul, dan soal teladan makin penting dalam budaya modern. Sepertinya hal itu lebih banyak muncul dalam PB daripada kitab Amsal, dan pengandaian dalam ayat-ayat ini bahwa yang mengajar sudah berhikmat. Tetapi dalam rumah tangga (dan sekolah) tidak selalu demikian, sayangnya. Terima kasih tanggapannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s