2 Yoh 7-11 Menolak penyesat demi kasih

Ketegasan merupakan hal yang bisa sulit dalam budaya Indonesia. Makanya, nasihat dalam a.10 kedengaran keras: “janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” Tidak memberi salam adalah tindakan penolakan, padahal gereja akhir-akhir ini justru berupaya keras untuk membangun penerimaan. Apa maksudnya?

Bertolak dari informasi dalam beberapa tulisan bapa-bapa gereja pada abad kedua dst, Yohanes kemungkinan besar tinggal di Efesus di Asia Kecil, dan menjadi pemimpin rohani dari sekelompok jemaat di kawasan itu. Namun, sudah ada perpecahan dalam mazhab itu, sampai ada yang keluar. 1 Yoh 2:18-25 menggambarkan hal itu: ada kelompok yang keluar, yang tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus. Dari beberapa tulisan yang lain dari zaman itu, hal itu bukan penyangkalan akan adanya Kristus, tetapi ajaran yang membedakan Yesus sebagai manusia biasa dari Kristus sebagai oknum ilahi yang turun ke atas-Nya, kemudian meninggalkan-Nya sebelum Dia disalibkan dan dibangkitkan, karena yang ilahi itu tidak bisa menderita. Jika demikian, mungkin maksud 2 Yoh 7 ialah bahwa pengajar sesat tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus yang datang dalam tubuh yang riil (kata “manusia” menerjemahkan kata “sarks” yang berarti “daging”). Mungkin juga pengajar sesat yang keluar dari komunitas Yohanes itu yang datang ke komunitas “Ibu yang terpilih” (barangkali kiasan untuk sebuah jemaat). Bagaimanapun juga, yang dibayangkan dalam a.10 adalah orang yang datang mengaku sebagai pengajar yang membawa kebenaran Injil.

Salam dalam aa.1-3 menekankan kasih dan kebenaran (aletheia, “truth”, yaitu, merujuk pada ajaran yang benar, bukan tingkah laku yang baik). Kebenaran adalah kebenaran yang tinggal dalam kita dan menyertai kita (a.2). Jika dikaitkan dengan Yoh 14-16, kita melihat bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran di dalam Kristus. Kebenaran ini tidak hanya diketahui melainkan dikenal, dikenal dalam Kristus. Adanya pengenalan itu dilihat dalam kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Anak. Kasih karunia adalah sikap Allah yang berkenan kepada kita—bukan karena kelayakan kita tetapi karena Kristus. Rahmat Allah adalah pertolongan Allah kepada orang yang tidak berdaya. Oleh karena kasih karunia dan rahmat Allah maka kita mengenal damai sejahtera. Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera itu muncul dari pengenalan akan kebenaran, dan memungkinkan kasih yang sejati. Walaupun pokok surat ini adalah kebenaran yang terancam, dalam a.1 Yohanes menyebut kasih sebelum kebenaran, dan dalam a.3 dia menutup dengan kasih. Ancaman terhadap kebenaran adalah ancaman terhadap kasih yang sejati.

Dalam aa.4-6 penghubung antara kebenaran dan kasih adalah perintah Allah. Perintah itu bagian dari kebenaran, dan isinya adalah untuk saling mengasihi. Perintah itu baru ketika disampaikan Yesus tetapi tidak lagi baru. Yohanes bersukacita oleh karena bagian jemaat yang tetap berpegang pada kebenaran ini, walaupun ada yang juga sudah jatuh.

Dalam a.7 kita sampai pada pokok, yaitu ajaran yang mengancam kebenaran. Kelompok yang menyangkal kemanusiaan Yesus yang sejati dicap penyesat dan antikristus. Apa kaitan ajaran ini dengan kasih?

Yang pertama, jika orang percaya pada ajaran yang menyesatkan itu, mereka akan kehilangan upah mereka (a.8), atau dalam kata lain, mereka tidak lagi memiliki Allah (a.9). Jadi, kasih untuk jemaat menuntut bahwa ajaran itu ditentang.

Yang kedua, jika Kristus tidak datang sebagai manusia sejati, kasih Allah yang Dia nyatakan menjadi kasih yang terbatas, bukan kasih yang sampai pada menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (bnd. 1 Yoh 4:10). Ajaran itu tidak lagi menjadi kebenaran yang akan memotivasi kasih yang tak terbatas kepada sesama (bnd. 1 Yoh 3:16).

Yang ketiga, ajaran itu mengandaikan bahwa tubuh itu kurang penting, atau malah jahat. Allah hanya mencari jiwa, bukan manusia yang seutuhnya. Wujud kasih berdasarkan kebenaran ini juga akan terbatas, bukan seperti yang diharapkan dalam 1 Yoh 3:17-18.

Oleh karena itu, Yohanes tidak mau supaya pengajar yang demikian diterima dalam konteks yang akan merestui kehadiran mereka sebagai pengajar (a.10). Yang ditolak bukan orangnya, melainkan ajarannya. Penolakan itu demi kasih, bukan langsung kepada orangnya sendiri, melainkan kepada jemaat yang terancam.

Dua hal perlu ditegaskan di sini. Yang pertama, ada yang terlalu cepat menolak siapa saja yang tidak setuju dengannya. Hal itu bukan maksudnya di sini. Ajaran sesat di sini menyangkut sesuatu yang mendasar, yakni siapa Kristus, bukan soal seperti baptisan anak atau gaya lagu yang dipakai. Yang ditolak adalah pembawa ajaran itu, bukan orang biasa dan bukan orang luar. Orang biasa yang pemikirannya kacau, dan perlu dibimbing, bukan ditolak. Orang luar juga perlu dikabari Kristus, bukan ditolak. Kedua kelompok ini tidak memiliki kedudukan sebagai pengajar resmi untuk mengacaukan jemaat.

Yang kedua, ada waktunya kita harus menolak penyesat demi kasih kepada jemaat. Masih ada beberapa aliran yang jelas melangkah keluar dari ajaran Kristus, seperti Saksi Jehovah. Jika ada tetangga atau rekan kerja yang demikian, maksud a.10 bukan untuk tidak pernah memberi salam atau menerimanya di dalam rumah selaku pribadi. Tetapi jika mereka diterima dalam acara KPI bersama, misalnya, hal itu bisa saja memberi legitimasi bahwa mereka hanya sebuah denominasi seperti yang lain. Bahkan di dalam gereja arus utama, sewaktu-waktu ada pengajar yang mau menyangkal hal-hal mendasar tentang siapakah Kristus. Di dunia Barat ada denominasi yang ajarannya sudah begitu melenceng sehingga agak sulit dikenali sebagai lembaga Kristen.

Namun, pada umumnya di Indonesia masalah utama bukan orang melangkah keluar dari ajaran Kristus, melainkan Kristen KTP yang belum melangkah dengan jelas ke dalam ajaran Kristus. Kebenaran belum sungguh tinggal di dalamnya. Jika penyesat perlu diperlakukan seperti dalam a.10, hal itu menunjukkan betapa penting dan berharga ajaran yang benar itu.

Pos ini dipublikasikan di 2 Yohanes dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 2 Yoh 7-11 Menolak penyesat demi kasih

  1. Mega Sambo berkata:

    Thanks for this wonderful reflection. It’s really help me make my Sermon this Sunday :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s