Kej 41:37-45 Siap berperan besar dalam misi Allah

Peristiwa yang diceritakan ini merupakan titik balik dalam kehidupan Yusuf, di mana tahap pertama untuk penggenapan mimpi-mimpi Yusuf terjadi, yakni Yusuf menjadi seorang penguasa. Pasal-pasal berikut menceritakan tahap kedua, yaitu ketika saudara-saudara Yusuf bersujud di hadapan Yusuf (mimpi pertama), kemudian Yakub sekeluarga bersujud (mimpi kedua). Pada akhirnya, semuanya itu dinyatakan sebagai rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya (45:5; 50:20).

Penggalian teks

Yusuf telah mengartikan mimpi Firaun, lengkap dengan usul tentang bagaimana tujuh tahun kelimpahan itu dipakai untuk menangani ketujuh tahun kelaparan. Dalam perikop kita dilaporkan tanggapan Firaun serta semua pegawainya (a.37-38), kemudian usul Firaun (aa.39-40), kemudian pelantikan Yusuf (aa.41-43), kemudian beberapa peneguhan lagi oleh Firaun (aa.44-45). Yusuf menjadi pelaku dalam perikop sesudahnya, tetapi di sini Firaun adalah pelaku. Semangat Firaun untuk Yusuf nampak dalam pelantikannya, yang diceritakan secara terperinci, termasuk pakaian, cincin, dan memperkenalkan Yusuf kepada rakyat. A.44 menekankan lengkapnya kuasa Yusuf, dan a.45 bahwa dia menjadi terintegrasi dalam jaringan para pengauasa.

Namun, di balik keputusan Firaun ada tangan Allah, yakni Roh Allah. Roh (diterjemahkan “hati” dalam LAI) Firaun digelisahkan oleh mimpinya (41:8), tetapi pengartian serta usulan Yusuf yang begitu masuk akal menunjukkan adanya roh di dalam diri Yusuf yang hanya dapat disebut ilahi (a.38). Roh itu yang mendasari akal budi dan kebijaksanaan Yusuf (a.39), sehingga Firaun merasa sangat membutuhkan jasa Yusuf untuk menghadapi masalah yang akan datang.

Maksud bagi pembaca

Mimpi Yusuf (p.37) menimbulkan ketegangan dalam pembaca / pendengar kisah Yusuf, karena setiap saat dia mulai berhasil, ada bencana lagi yang tidak adil yang memaksa Yusuf untuk bersabar lagi. Yusuf mewakili orang bijak yang takut akan Tuhan namun tidak dapat penghargaan yang semestinya. Dalam perikop ini ketegangan itu hilang, karena dia mendapat pengangkatan yang dahsyat dan tak terduga. Dia mengalami pembalikan nasib yang diharapkan oleh semua orang bijak dalam kesusahan, bahkan dia mewakili nasib yang semestinya dari bangsa Israel, yaitu menjadi penguasa yang menyelamatkan atas bangsa-bangsa. Tetapi hal itu tidak lepas dari kebijaksanaannya yang diberikan oleh Roh Kudus. Yusuf menjadi berguna di mana saja dia ditempatkan, dan dia dilantik bukan hanya untuk menyelamatkan Israel tetapi juga Mesir. Sepanjang sejarah Israel dia adalah teladan kegunaan orang bijaksana, dan lebih lagi ketika Israel mulai tinggal di tengah bangsa-bangsa setelah pembuangan, dia menunjukkan bahwa kebijaksanaan itu memuliakan sumbernya, Allah, karena berguna bagi semua.

Makna

Dalam perikop ini kita melihat bagaimana Yusuf mulai berperan besar dalam misi Allah oleh karena kebijaksanaan dari Roh Allah.

Roh Allah dalam PL hanya diberikan kepada orang-orang tertentu, termasuk orang-orang yang memerlukan hikmat untuk suatu tugas, termasuk Bezaleel (Kel 31:3), Musa dan tua-tua Israel (Bil 11:17, 29) serta para nabi dan para raja. Musa menyatakan harapan supaya seluruh umat Allah boleh menikmati Roh Allah (Bil 11:29), dan nubuatan Yoel 2:28-32 yang terkenal itu meneguhkan harapan itu. Orang percaya di dalam Kristus telah menikmati penggenapan nubuatan itu, sehingga memiliki hikmat oleh Roh, suatu hikmat yang berpusat pada salib Kristus (1 Kor 1-2). Oleh karena itu, Paulus dapat berdoa bagi jemaat supaya dengan segala macam pengertian mereka penuh dengan buah kebenaran dan memuliakan Allah (Fil 1:9-11).

Tentu, pemahaman tentang Roh Allah masih samar dalam PL dibanding dengan pemahaman PB tentang Roh sebagai Penghibur pengganti Kristus. Lebih lagi pemahaman Firaun. Dia seorang politeis, dan pada saat ini sama sekali belum mengenal Yusuf atau Allah yang dipercayai Yusuf. Kemungkinan besar yang dia maksud ialah “roh dari dewa-dewa” atau “roh ilahi”, mengingat bahwa kata ’elohim (Allah) berbentuk jamak sehingga dapat berarti “dewa-dewa”. Namun, kita memahami apa yang dirujuk oleh Roh di sana dalam terang penyataan seluruh Alkitab. Yang memampukan Yusuf menjadi orang bijak tidak lain dari Roh Kudus yang turun ke atas Yesus dan kemudian ke atas kita, murid-murid-Nya, sejak hari Pentakosta. Makanya, kita dapat mengangkat Yusuf sebagai teladan.

Teladan bukan hanya dalam soal bertindak bijak. Kisah Yusuf mencerminkan pola yang terdapat dalam seluruh Alkitab yang berbentuk “U”. Yusuf berjalan dari anak emas menjadi budak menjadi penguasa Mesir. Dunia berjalan dari taman Eden masuk ke dalam dosa kemudian akan dipulihkan pada akhir zaman. Yesus yang mencakup pola ini: turun dari sorga sampai pada salib, baru diberi nama di atas segala nama (Fil 2:6-11). Nasib Yusuf setelah begitu lama bersabar adalah harapan semua pengikut Kristus untuk dunia mendatang, bdk. 2 Tim 2:12. Dalam kesabaran dia berbuat bijak selama kesusahannya, sehingga siap ketika diangkat.

Namun, dia diangkat bukan supaya tidak bersusah lagi melainkan supaya berperan dalam misi Allah untuk menyelamatkan umat-Nya—akhirnya supaya dari umat itu Juruselamat dunia dapat lahir. Kesusahan yang tetap dia rasakan dalam kejayaannya dapat dilihat dalam 41:51-52. Demi misi itu dia juga akhirnya harus mengampuni saudara-saudaranya, suatu tugas yang juga diceritakan panjang lebar dan berat baginya. Tetapi karena masa persiapannya, dia siap untuk berperan dengan cara yang akan memuliakan Allah.

Jadi, dalam meneladani Yusuf kita akan memikirkan peran kita dalam misi Allah sekarang, yang belum tentu menjadi wakil presiden Indonesia: dalam Kisah Para Rasul Roh Kudus menjadi pokok bagi berperannya gereja dalam misi Allah supaya semua bangsa mengenal berkat Allah di dalam Kristus. Peran itu dapat kita lakukan bukan karena kita mengucapkan semboyan “damai sejahtera bagi semua” terus-menerus, tetapi karena kita menemukan dan mengembangkan karunia-karunia Roh Kudus yang memampukan kita menjadi berguna bagi sesama. Sejauh mana hikmat kita sesuai dengan salib Kristus dilihat antara lain dengan sejauh mana kita tetap bertumbuh dalam hikmat dalam kesusahan sambil menunggu Allah mengangkat dan memakai kita, sama seperti Yusuf. Sejauh mana kita telah belajar dari masa kesusahan dilihat pada saat kita menerima tanggung jawab, kadangkala juga secara mendadak dan tak terduga, yaitu apakah kita siap untuk melakukannya demi kemuliaan Allah.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kej 41:37-45 Siap berperan besar dalam misi Allah

  1. AC berkata:

    Tulisan paling terakhir kembali menegurku……. Belajar dari keteladanan Yusuf….. Sejauh mana AC telah belajar dari masa kesusahan dilihat pada saat AC menerima tanggung jawab, kadangkala juga secara mendadak dan tak terduga, yaitu apakah AC siap untuk melakukannya demi kemuliaan Allah.

    trima kasih atas uraian perikop ini.

  2. kartauli kaban berkata:

    terima kasih,.. kitalah sekaarang ini jadi Anak-anak Abraham seperti si Jusuf yang tetap mengucap syukur kepada Tuhan walaupun dalam suka maupun duka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s