Yes 63:7-14 Mengingat kasih setia Tuhan sebagai dasar doa yang sungguh-sungguh [26 Jun 2011]

Israel pasca-pembuangan mengalami krisis iman. Yesaya menyampaikan janji-janji yang luar biasa, tetapi sikap Israel belum juga berubah (Yes 63:17). Sang nabi kemudian berdoa bagi umat-Nya, suatu doa yang penuh pengajaran bagi kita yang diperhadapkan dengan keadaan yang tidak jauh beda.

Penggalian teks

Dalam posting ini saya menggambarkan kitab Yesaya secara keseluruhan. Hamba Tuhan dalam p.53 adalah kunci keselamatan Sion, simbol untuk umat Allah itu, dan keselamatan itu digambarkan dalam pp.60-62, tentang Yerusalem baru yang di dalamnya hamba Tuhan memulihkan (p.61). Keselamatan itu ditopang dengan hukuman Allah terhadap bangsa-bangsa dalam 63:1-6, pas sebelum perikop kita.

Perikop kita memulai sebuah doa yang berlangsung sampai akhir p.64, dan dibalas dengan janji-janji Tuhan pada pp.65-66. Perikop kita mengingat dasar kasih setia Tuhan sebagaimana dilihat dalam sejarah keselamatan. Berdasarkan perenungan itu, Yes 63:15-64:12 membawa doa yang penuh semangat dan desakan, seperti mazmur-mazmur protes. Perikop kita menjadi lebih tajam jika kita melihatnya sebagai dasar untuk doa yang sungguh-sungguh itu.

Aa.7-9 menceritakan asal usul hubungan Tuhan dengan Israel. “Kasih setia” (khesed) mengawali dan mengakhiri a.7, dalam bentuk jamak sehingga artinya “perbuatan-perbuatan yang menyatakan kasih setia”. Kasih sayang yang dengannya kasih setia itu dinyatakan menjadi dasar permohonon dalam 63:15. Dalam aa.8-9 kasih setia itu disampaikan sebagai kisah. A.8 adalah keputusan Tuhan untuk menjadi Juruselamat sehingga berulang kali menyelamatkan mereka dari kesesakan, mulai dengan zaman Musa. Israel disebut sebagai anak-anak-Nya, yang menjadi dasar permohonan kepada Tuhan sebagai Bapa (63:16; 64:8). Kembali perasaan Tuhan digambarkan dengan kata “kasih” dan “belas kasihan”. Soal relasi disoroti, bahwa “wajah” Tuhan (diterjemahan “Ia sendiri”) yang menyelamatkan Israel. Makanya, 64:7 mengeluh bahwa wajah Tuhan disembunyikan.

Sayangnya, kisah itu menemukan titik balik yang buruk (a.10). Titik balik itu digambarkan dengan bahasa militer / politik: Israel memberontak, sehingga Tuhan berperang melawan mereka. Tetapi ada juga unsur lain, yaitu Roh Kudus Tuhan yang didukakan. Roh Tuhan telah disebut dalam 59:21 sebagai janji, dan dalam 61:1 terkait dengan pelayanan hamba Tuhan dalam rangka keselamatan (bdk. Yes 11:2), tetapi belum dalam konteks masa lampau.

Aa.11-14 menggambarkan respons Israel. “Teringat” dalam a.11 memakai kata dasar yang sama dengan “menyebut-nyebut” dalam a.7. Sang nabi mau mengingatkan Israel tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, tetapi dalam a.11 justru permusuhan Tuhan yang menjadikan mereka sadar. Yang diingat adalah masa Musa. Pada saat itu Roh Kudus berkarya di antara mereka, khususnya di dalam mujizat-mujizat yang dilakukan melalui Musa (a.12-13a) sampai Israel mencapai tempat perhentian, yaitu tanah Israel. Terhadap karya itulah Israel memberontak, sehingga Roh Kudus didukakan. Aa.12 & 14 juga mengangkat nama Tuhan sebagai tujuan Tuhan dalam menyelamatkan Israel. Nama itu menjadi satu dasar lagi dalam doa yang berikut, karena keadaan buruk yang dialami Israel bertentangan dengan tujuan itu. Pada akhir a.14 Tuhan mulai menjadi alamat langsung (“Engkau”) untuk mengantarkan doa itu.

Maksud bagi pembaca

Bagaimana semestinya mengartikan sebuah doa? Tentu ada makna teologis di dalamnya yang harus digali, tetapi doa sang nabi direkam untuk mengajar pembaca juga bagaimana berdoa. Ketika Israel merasa dijauhi oleh Allah, Israel harus mengingat dosanya tetapi lebih lagi mengingat kasih setia Tuhan, kemudian berdoa dengan semangat supaya Tuhan bertindak. Dalam Kristus harapan Yesaya 60-62 mulai terwujud, sehingga ada jaminan akan penggenapannya ketika Kristus kembali. Namun, gereja pun sering menjadi kacau karena mendukakan Roh Kudus. Semangat rohani akan dipicu jika kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan itu.

Menghadapi keadaan gereja yang sering memprihatinkan, kesimpulan itu perlu digarisbawahi. Solusi bagi masalah-masalah gereja jangan diawali dengan rencana, semboyan dan kecaman, melainkan dengan mengingat kembali dasarnya: kita adalah orang berdosa yang harapan satu-satunya ialah kasih setia Allah yang diwujudkan dalam Kristus. Mengingat hal itu, mungkinkah kita akan mulai dengan doa yang sungguh-sungguh? Bukan doa formalistik, bukan semangat yang mengada-ada, tetapi doa karena hanya jika Allah bergerak maka gereja bisa kembali menjadi alat yang membuat nama yang agung bagi Allah.

Makna

Banyak yang dapat dikatakan dari perikop yang kaya ini, tetapi hanya dua akan disoroti, yaitu soal relasi dengan Tuhan dan soal Roh Kudus.

Istilah “kasih setia” biasanya merujuk pada perbuatan di dalam relasi yang melampaui kewajiban tetapi menjawab kebutuhan. Misalnya, dalam Kej 47:29 Yakub meminta supaya dikuburkan di tanah Kanaan, bersama dengan nenek moyangnya. Yakub meminta dalam konteks relasi keluarga (“setia”), tetapi permintaan itu melampaui kewajiban (“kasih”). Yakub tentu tidak bisa memenuhi permintaan itu sendiri, sehingga membutuhkan kerja sama Yusuf. Tuhan memanggil Israel dalam sebuah perjanjian, dan menyebut mereka “anak-anak” yang disayangi dan digendong, sebuah relasi yang kuat dan akrab. Dalam relasi itu Dia terus-menerus berbuat lebih dari kewajiban-Nya dalam menyelamatkan mereka dari musuh yang terlalu kuat bagi mereka. Doa yang berikut menegaskan relasi itu dengan istilah “Bapa”, dan memohon kasih setia lebih lagi, yaitu pengampunan dan pemulihan.

Roh Tuhan muncul dengan paling jelas dalam kisah keluaran Israel terkait dengan Musa dan tua-tua (Bil 11:25). Kaitan Roh dengan tangan Tuhan yang menyertai Musa mungkin dapat dilihat dalam angin dalam Kel 14:21 dan Bil 11:31, karena kata ruakh dapat berarti roh, nafas atau angin. Apakah Yes 63:11 mengatakan bahwa Roh Kudus ada juga dalam setiap orang Israel? Bahasa aslinya berarti “di tengahnya” (beqirbo, “-nya” merujuk pada Israel). “Di tengah” dapat berarti di tengah setiap orang masing-masing (tafsiran LAI), atau juga “di antara mereka” (misalnya, NIV “among them”). Dalam Bil 11:29 dikatakan dengan jelas bahwa tidak pada seluruh umat Roh Tuhan itu ada, paling sedikit dalam artian yang sama dengan Musa dkk. Oleh karena itu, saya sepaham dengan terjemahan NIV itu. Israel mendukakan Roh Kudus yang berkarya di tengah mereka melalui Musa (dan pemimpin-pemimpin berikutnya). Penting diamati bahwa Roh disebut kudus dalam a.10 ini. Pemberontakan Israel menajiskan Israel sehingga menimbulkan reaksi Tuhan.

Namun, terjemahan LAI cocok untuk kita yang hidup pasca-Pentakosta. Roh Kudus berkarya di dalam hati setiap kita. Jika kita memberontak, kita mendukakan bukan hanya kebajikan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus, tetapi juga belas kasihan-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita (bdk Rom 5:5). Hubungan Allah yang akrab dengan Israel menjadi lebih akrab lagi dalam perjanjian baru yang diadakan Yesus. Karena Roh Kudus berada di dalam kita, kekudusan yang dituntut juga lebih dalam: Paulus mengutip istilah “mendukakan Roh Kudus” dalam Ef 4:30 di tengah nasihat tentang cara berkata-kata. Perkataan yang merendahkan mendukakan Roh yang membuat kita satu (Ef 4:4); sikap hati yang kacau mendukakan Roh yang berkarya di dalam hati kita (Ef 3:16).

Tentu, mendukakan Roh berbeda dengan menghujat Roh. Dalam Mt 12:32, hujat terhadap Roh Kudus merujuk pada keadaan orang Farisi yang menafsir karya Roh Kudus dalam perbuatan-perbuatan belas kasihan Yesus sebagai karya Iblis. Hujat ini tidak akan diampuni bukan karena dosa itu ekstra jahat, melainkan karena orang yang demikian tidak akan bertobat. Mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, ketika kita menjadi sadar dan memohon pengampunan dan pembaruan. Bahkan, kesadaran bahwa kita mendukakan Roh Kudus dapat memicu semangat untuk berdoa demi pemulihan, seperti dalam perikop Yesaya itu. Tetapi tidak ada kesadaran tentang menghujat Roh Kudus. Orang-orang Farisi itu justru menganggap bahwa mereka benar.  

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Yes 63:7-14 Mengingat kasih setia Tuhan sebagai dasar doa yang sungguh-sungguh [26 Jun 2011]

  1. tulistulistulis berkata:

    Uraian yang bagus, padat berbobot, tepat guna. Kiranya dapat dicerna dengan baik untuk disampaikan dalam penyampaian Firman dengan bagus, padat berbobot, dan tepat guna pula. Terima kasih dan Tuhan memberkati.

  2. semuel berkata:

    Tulisan-tulisan menjadi referensi saya dalam mempersiapakan renungan untuk hari minggu, kurre Ambe. Salama

  3. Phapasyalom berkata:

    kurre sumanga buda sebelumnya… saya sering mengutip tulisannya untuk pelayanan hari minggu.. apa mekutana-tanana’ lan penaangku,… mindannarokomi te???

  4. abuchanan berkata:

    Terima kasih tanggapan yang menguatkan. @Phapasyalom: Tentang siapakah saya, lihat di halaman About di atas. Salama’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s