1 Yoh 3:11-18 (& 19-24) Gambaran kasih yang sejati [3 Jul 2011]

Jemaat atau kelompok yang kepadanya Yohanes menulis pernah mengalami perpecahan yang mengguncang (2:19). Dengan berbagai perbandingan penulis mau menguatkan mereka supaya jangan mereka disesatkan oleh keguncangan itu. Dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (3:9-10) dia membandingkan anak-anak Allah karena lahir dari Allah dengan anak-anak Iblis. Perikop setelah perikop kita membandingkan Roh dari Allah (3:24) dan roh-roh yang lain (4:1-6). Dalam seluruh surat salah satu ukuran utama adalah kasih. Dalam perikop kita aa.11-18 memberi gambaran negatif dan positif tentang kasih itu, dan aa.19-24 membahas bagaimana kita bisa tahu kita hidup dalam kasih itu.

Penggalian Teks

A.11 mengulang apa yang sudah dibahas pada 2:7 dst, yaitu bahwa saling mengasihi adalah perintah Allah. Aa.12-15 membahas lawan dari kasih, yaitu kebencian. Kain membunuh adiknya karena adiknya mengungkapkan kejahatan hati Kain (a.12). Orang-orang yang berbuat benar bisa saja mengundang reaksi yang sama dari dunia, misalnya, orang yang tidak mau ikut main judi / curang / mabok-mabokan dsb (a.13). Tentu, penulis tidak membayangkan bahwa dunia akan selalu membunuh orang benar, tetapi, sesuai dengan ajaran Yesus dalam Mt 5:21-22, tindakan membunuh dilihat sebagai ujung dari sikap marah atau benci yang sudah merupakan dosa. Namun, jemaat semestinya tidak mengikuti pola dunia itu, karena jemaat sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup (a.14). Ranah maut dicirikan oleh tidak mengasihi, sedangkan ranah hidup dicirikan oleh mengasihi saudara-saudara. A.15 mempertegas bahwa kebencian adalah satu bentuk pembunuhan, sehingga jelas bertentangan dengan hidup kekal, yaitu hidup yang cocok dengan zaman mendatang, hidup yang mengenal Allah.

Bentuk positif dari kasih dinyatakan dalam a.16a: Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Sikap itu harus langsung diteladani (a.16b). Tetapi, sama seperti kebencian belum tentu berarti ada yang meninggal, penyerahan diri juga belum tentu berarti ada yang meninggal. Membagikan harta duniawi kepada saudara yang membutuhkannya adalah juga bentuk penyerahan diri (a.17), sama seperti membenci adalah bentuk pembunuhan. Dan mungkin saja penulis secara tersirat mengatakan bahwa “menutup pintu hati” adalah bentuk kebencian. “Pintu hati” menerjemahkan kata untuk perut yang menjadi kiasan untuk perasaan kasihan yang kuat. Yohanes mempertanyakan apakah orang yang tidak tahu kasihan masih hidup dalam terang pengorbanan Kristus.

Kesimpulannya dalam a.18 memperlawankan perkataan dan lidah dengan tindakan dan kebenaran. Perkataan dan lidah merujuk pada konsep dan wacana. Banyak orang suka berbicara tentang kasih. Dan hal itu tidak salah; surat 1 Yohanes ini adalah wacana tentang kasih! Tetapi wacana kasih belum “kasih dalam kebenaran”, artinya, kasih yang sebenarnya. Kata aletheia (“kebenaran”) berarti apa yang sesuai dengan kenyataan, dan dalam konteks ini merujuk pada kesesuaian antara perkataan dengan tindakan. Kasih yang sekadar wacana belum menjadi kasih yang sebenarnya. Tetapi aletheia itu merujuk lebih luas pada kenyataan di dalam Allah. A.18 ini tetap kesimpulan dari a.16. Kristus tidak mengasihi dengan wacana saja, melainkan berkorban secara sangat konkret untuk melayani kebutuhan paling mendasar kita, yakni akan hidup yang kekal.

Jadi, hidup dalam kasih membuktikan bahwa kita berasal dari kebenaran (a.19a). Jika kita sadar akan kegagalan kita, kita mesti mengingat bahwa perspektif Allah lebih luas dari perspektif kita, seperti sudah disampaikan dalam 1:9 dan 2:1-2 tentang penebusan yang ada di dalam Kristus (aa.19b-20). Namun, ada keuntungan jika kita jelas hidup dalam kasih, yaitu kita memiliki keberanian dalam doa (aa.21-22). Jadi, dalam a.23 dia meringkas perintah Allah, yaitu percaya akan Kristus dan saling mengasihi. Dengan demikian ada persekutuan dengan Allah yang dibawa oleh Roh Kudus (a.24).

Maksud bagi pembaca

Tujuan utama di sini adalah mendorong pembaca untuk saling mengasihi. Dari contoh Kain kebencian dikaitkan dengan ranah maut. Membenci sama buruknya dengan membunuh, sama-sama bertentangan dengan tujuan Allah dalam menyelamatkan manusia (a.15). Dari teladan Kristus hakikat kasih diperlihatkan, yaitu menyerahkan nyawa bagi sesama, yang diartikan sebagai memberi bantuan konkret, bukan wacana saja.

Namun, di balik tujuan itu tujuan utama surat ini masih tampak, lebih lagi dalam aa.19-24, yaitu supaya kita mengenal Allah dalam Kristus dan menikmati hidup di dalam-Nya. Tidak ada keberanian di hadapan Allah jika kita hidup dengan hati tertutup terhadap saudara.

Makna

Yohanes memperlawankan wacana tentang kasih dengan tindakan konkret. (Perhatikan bahwa ada banyak perkataan yang merupakan tindakan kasih yang konkret, misalnya menjawab pertanyaan, memberi tanggapan yang berguna, mengajarkan firman Allah. Perkataan dalam a.18 merujuk pada pernyataan kasih.) Tetapi apa kaitan aletheia (“kebenaran”) dengan tindakan konkret? Ternyata maksud Yohanes bukan pragmatis saja. Bukannya yang penting ada tindakannya saja. Kasih harus muncul dari kebenaran, dari kenyataan. Yang pertama, tindakan kasih harus muncul dari kenyataan dalam hati, dari hati yang terbuka. Yang kedua, tindakan kasih harus sesuai dengan kenyataan sumber kasih, yaitu Allah. Banyak yang disebut kasih tidak lulus kriteria ini. Ada kasih karena pemberi berharap beruntung. Ada kasih hanya karena rasa kasihan (misalnya, membantu orang mencontek). Kasih yang sejati muncul dari pengenalan akan Allah yang adalah terang, dan Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya.

Kemudian, seluruh perikop ini berbicara tentang saudara, entah saudara-saudara seiman atau Kain dan Habel yang bersaudara. Maksudnya jemaat yang saling mengenal, suatu komunitas iman. Apakah dengan demikian kasih hanya terbatas pada kelompok sendiri?

Kasih dalam surat-surat Yohanes berakar dalam Allah. Allah telah memperlihatkan kasih yang sejati dalam Kristus, dan lebih lagi, pertunjukan itu menyatakan hakikat Allah sendiri, Allah adalah kasih (4:16). Jika fokus Yohanes ada pada kasih Allah kepada jemaat, namun dalam satu ayat kita melihat bahwa kasih Allah lebih luas, yaitu 2:2 di mana dikatakan bahwa Kristus mati bagi seluruh dunia, bukan hanya jemaat. Di situ kita melihat Allah mengasihi semua orang, termasuk musuh (orang berdosa), sesuai dengan ajaran Yesus. Yohanes tidak mau menyangkal ajaran itu. Jadi, mengapa fokusnya pada saling mengasihi?

Hal itu sejalan dengan tekanan seluruh surat, yaitu persekutuan. Persekutuan antara orang percaya adalah juga persekutuan dengan Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus (1:3). Persekutuan berarti hubungan yang erat, sehingga memiliki kepentingan atau perhatian yang sama. Orang-orang yang bersekutu dengan Allah mau hidup dalam terang seperti Dia adalah terang (1:7), mau hidup sama seperti Kristus (2:6), dan mau hidup dalam kasih karena Allah adalah kasih (4:16). Dalam jemaat keakraban yang memungkinkan persekutuan seperti itu dapat dialami. Namun, keakraban itu yang juga paling memungkinkan kebencian, dan membuat paling kentara sikap acuh tak acuh terhadap orang yang berkebutuhan. Wacana tentang kasih sering mencakup seluruh dunia, tetapi kasih hanya dapat dipraktekkan kepada orang yang dengannya saya berhadapan. Tidak salah berbicara tentang suku-suku yang belum terjangkau dengan Injil Kristus, tetapi apakah saya bersaksi tentang Kristus kepada orang di hadapan saya? Tidak salah mengingat orang yang berkekurangan dalam doa makan, tetapi apakah saya terbuka pada kebutuhan orang-orang di sekitar saya?

Ada kesimpulan yang luar biasa dari istilah “dengan perbuatan dan dalam kebenaran” itu. Jika saya membantu sesama karena mencontoh Kristus, tindakan sederhana itu berbagi dalam kenyataan paling mendalam, yaitu hakikat Allah sebagai kasih.

Pos ini dipublikasikan di 1 Yohanes dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke 1 Yoh 3:11-18 (& 19-24) Gambaran kasih yang sejati [3 Jul 2011]

  1. Abi berkata:

    Nice explanation…. Kasih tidak akan pernah dapat dirasakan keberadaannya bila belum terwujud dalam perbuatan dan kebenaran.
    Kasih yang menghidupkan… :)

  2. Ping balik: 1 Yohanes 3:19-24 [31 Juli 2011] « To Mentiruran

  3. Andreas Soepono berkata:

    Terima kasih untuk artikelnya, sangat memberian pengertian yg jelas dan membangun iman saya, Tuhan memberkati !!!

  4. emanuel berkata:

    thnks….buat artikelnya………semoga ini juga bisa memberkati org lain….God Bless……

  5. Jefta D. Knaufmone berkata:

    terima kasih untuk artikel ini yang membangun iman saya kepada Tuhan Yesus. saya senang jika dikirim ke email saya artikel2 lain.

  6. abuchanan berkata:

    Di kolom sebelah kanan di atas ada kotak di bawah “Pendaftaran”. Jika imel dimasukkan semestinya setiap artikel yang baru akan dikirim. Hanya, tidak seratus persen andal. Renungan mengikuti jadwal khotbah Gereja Toraja, lingkup pelayanan saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s