Amsal 11:10-14 Mengapa masyarakat menyukai orang benar [7 Ag 2011]

Penggalian Teks

Mulai pasal 10, amsal-amsal tidak tersusun secara sistematis. Hanya, seringkali ada hubungan antara amsal yang satu dengan amsal berikutnya, seperti kata kunci atau tema. Jadi, 11:9 berakhir dengan keselamatan orang benar, dan a.10 mengatakan bahwa hal itu menimbulkan keria-riaan. A.10 berbicara tentang tanggapan (rakyat) kota terhadap nasib orang, dan a.11 juga berbicara tentang kota, tetapi dalam rangka nasib kota sendiri. A.11 membandingkan dua cara bertutur, dan aa.12-14 merincikan kedua cara itu, dengan sorotan dalam a.14 tentang pentingnya kepemimpinan yang banyak mendengar. Jadi, setiap amsal dapat berdiri sendiri, tetapi seringkali ada tambahan makna jika dikaitkan dengan amsal-amsal di sekitarnya.

Analisis di atas menempatkan a.11 sebagai kuncinya. “Orang jujur” secara harfiah adalah “orang lurus”, yaitu orang yang caranya berelasi tidak berliku-liku. Apa yang mereka katakan membawa berkat bagi kota, sedangkan apa yang dikatakan orang fasik membawa banyak masalah. Orang fasiklah yang menghina sesamanya dan merusak nama orang dengan membuka rahasia, sehingga kota tidak lagi damai. Orang fasiklah yang menjadi pemimpin yang tidak mencari nasihat karena hanya kepentingan pribadi yang dikejar. Sebaliknya, orang jujur akan peka tentang waktunya berbicara, setia dalam menjaga rahasia, dan sebagai pemimpin terbuka pada nasihat orang lain. Semuanya itu menjelaskan mengapa rakyat begitu senang bila orang benar mujur dan orang fasik binasa (a.10).

Maksud bagi Pembaca

Kitab Amsal banyak memakai perbandingan antara orang benar dan orang fasik supaya kedua pola hidup dapat dilihat dengan jelas, dan pola yang baik dihayati. Dalam perikop ini kita melihat beberapa cara untuk membina pembaca. A.10 menyangkut tanggapan orang lain, yaitu dorongan sosial. Aa.11, 14, dan mungkin juga a.13 menyangkut akibat. A.12 langsung menyampaikan penilaian. Semestinya orang fasik yang mendengar amsal-amsal ini menjadi malu sendiri, sadar bahwa kebencian orang banyak terhadap gaya hidupnya searah dengan akibatnya dan juga dengan penilaian etis. Sedangkan orang benar semestinya dikuatkan untuk makin melakukan pola-pola yang baik.

Makna

Kitab Amsal mengungkapkan “bentuk etis” dunia ini, yaitu, cara hidup yang sesuai dengan hikmat yang dengannya Allah menciptakan dunia. Di balik perikop kita adalah bentuk sosial manusia (“kota”)—manusia sejahtera ketika bergabung dalam dunia. Orang fasik pada dasarnya egois dan tidak saleh, atau dengan kata lain, tidak peduli terhadap Allah atau sesama. Jadi, mereka mengancam kebersamaan itu. Malahan, mereka menjadi semacam parasit—mereka beruntung dari kota yang sejahtera, tetapi mengurangi kesejahteraan itu. Sebagai contoh, orang menjadi lurah, kepala sekolah dsb, untuk mengatur suatu bagian masyarakat. Jabatannya ada untuk tujuan itu, dan digaji karena fungsi itu penting. Ketika orang fasik menggunakannya untuk kepentingan lain, masyarakat rugi dua kali—gaji dibayar tetapi fungsinya tidak berjalan. Jika ada korupsi, runginya tiga kali! Perusahaan swasta yang diserang demikian akhirnya akan runtuh. Sayangnya, negara-negara yang kaya sumber daya alam terlindung dari akibat itu dalam jangka pendek. Namun, kefasikan tetap ada akibatnya dalam kinerja yang bobrok dan kuasa yang disalahgunakan. Sebaliknya, orang jujur searah dengan kebutuhan manusia untuk bekerja sama. Jika orang jujur menjabat, masyarakat tetap beruntung, karena manfaatnya jauh di atas gajinya.

Dalam negara “hukum positif” ini, perlu ditegaskan bahwa benar/fasik tidak sama dengan legal/tidak legal. Cara mengejar kepentingan diri yang paling ampuh ialah melalui jalur hukum, karena dengan demikian aparat negara akan mendukung usaha kita. Hukum yang kuat adalah berkat, tetapi bagi orang fasik bisa menjadi tantangan untuk menemukan cara yang lebih licik. Banyak kefasikan berada di luar jangkauan hukum, seperti yang digambarkan dalam aa.12-13.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s