Mzm 119:105-112 “Menghayati Firman Tuhan sebagai Pelita” [4 September 2011]

Mazmur 119 adalah perenungan yang panjang lebar tentang firman Allah. Bagi pemazmur, sebagai orang Israel, firman itu dikenal dalam hukum Taurat, dan berbagai istilah yang dipakai berasal dari hukum itu (lihat di sini). Jika dibaca seluruhnya, kesannya berbelit-belit. Lebih cocok satu bait (8 ayat masing-masing) dibaca dan direnungkan. Dengan demikian, kekayaan makna tidak membuat pembaca kekenyangan.

Penggalian Teks

Pembagian bait ini tidak terlalu pasti, tetapi pada hemat saya ada empat pasang dalam kedelapan baris. Kedua pasang pertama memakai kata “firman” dan “hukum”. Pasangan ketiga menyangkut bahaya yang dihadapi pemazmur, dan pasangan keempat berakhir dengan harapan pemazmur, dengan kata kunci “hati” dan “selama-lamanya”.

A.105 mulai dengan kiasan firman sebagai pelita yang menerangi bagian jalan di mana kaki mau melangkah. Tersirat dalam kiasan ini ialah bahwa pemazmur berjalan dalam kegelapan, pada waktu malam. Firman tidak memberi terang seperti matahari yang membuat semuanya terang, tetapi memberi terang yang cukup untuk pemegangnya mengambil langkah berikutnya. Jika a.105 berbicara tentang suatu sifat firman Tuhan, a.106 menyampaikan respons pemazmur. Ada keputusan yang tegas untuk berpegang pada hukum-hukum Tuhan. Kata “hukum” (Ibrani: mishpat) berasal dari kata kerja untuk mengadili atau menata. Dalam bentuk jamak seperti di sini, kata itu merujuk pada keputusan-keputusan yang sudah dibuat oleh Tuhan sebagai hakim, khususnya dalam hukum Taurat. Sifatnya bukan hukum positif melainkan banyak contoh bagaimana berbagai prinsip mendasar seperti keadilan, harkat manusia, dsb, diterapkan dalam kehidupan Israel. Jika pasangan aa.105-106 dilihat bersama, firman Tuhan menjadi pelita karena ada ketegasan hati untuk hidup sesuai dengan keadilan yang terkandung di dalamnya.

A.107 merincikan kegelapan yang dialami pemazmur, yakni, penindasan. Penindasan merendahkan harkat manusia, semacam maut, sehingga pemazmur berdoa supaya Tuhan menghidupkannya kembali sesuai dengan firman-Nya. Paling sedikit, pertolongan Tuhan yang diharapkan dalam doa akan sesuai dengan keselamatan Israel dari penindasan di Mesir, dan mungkin banyak kisah lagi dalam firman Tuhan. Sama seperti a.107 mencerminkan a.105, a.108 mencerminkan a.106. Dia berdoa supaya persembahannya berkenan kepada Tuhan. LAI “yang berupa pujian-pujian” menerjemahkan pi, yang berarti “dari mulutku”. LAI menganggap bahwa persembahan ini adalah pujian, seperti mazmur yang dinyanyikan setelah mengalami keselamatan Tuhan, atau bahkan seluruh mazmur 119 ini. Tetapi dalam Ul 23:23 kata-kata yang sama merujuk pada nazar, mirip dengan a.106. A.108 merupakan doa supaya sumpah dalam a.106 berkenan. Makanya, dia juga berdoa supaya hukum-hukum Allah diajarkan, yaitu, dipahami sehingga bisa menjadi terang baginya.

Aa.109-110 menyampaikan kesetiaannya dalam menghadapi penindasan itu. Keadaannya rawan (a.109) oleh karena orang-orang fasik (a.110). Jerat yang dipasang dalam a.110 bisa termasuk usaha supaya dia bertindak ceroboh, menyimpang dari titah-titah Tuhan. Tetapi itulah yang tidak dia lakukan, mungkin karena firman Tuhan menerangi kakinya.

Bagaimana caranya? Aa.111-112 mengungkapkan hati pemazmur. Kata edot yang diterjemahkan “peringatan-peringatan” dalam a.111 merujuk pada hukum Allah, tetapi sebagai semacam kesaksian (peringatan) tentang jalan yang benar. Sebagai orang Israel, hal-hal itu adalah milik pusakanya untuk selama-lamanya. Bahasa “milik pusaka” sering dipakai untuk tanah yang menjadi milik pusaka setiap keluarga, bani dan suku, tetapi di sini merujuk pada hukum Allah. Dia memakai kiasan itu karena hukum Allah menggirangkan hatinya. Entah dia memiliki tanah atau tidak, tetapi dambaannya terang bagi kakinya itu. Oleh karena itu, dalam a.112 dia menempatkan ketaatan pada hukum Allah sebagai salah satu tujuan hidupnya—sampai saat terakhir.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 119, termasuk perikop ini, merupakan doa kepada Allah, dalam bentuk meditasi. Mazmur ini mengajar kita dengan kita mendoakan dan merenungkannya. Dengan demikian kita diajak untuk menempatkan firman Allah sebagai terang bagi jalan kita, dengan sikap yang tegas untuk menerapkan kehendak Tuhan yang adil di hadapan ancaman dan perlawanan. Kemudian, kita akan merenungkan dambaan hati dan tujuan hidup.

Makna

Firman dalam a.105 itu firman Allah, Allah yang menyelamatkan Israel dan juga Allah yang mengutus Anak-Nya sebagai Firman yang hidup. Bagaimana makna perikop ini diperkaya bagi kita yang mengenal Allah dalam Kristus?

Yang terutama, firman Tuhan telah menjadi daging. Dia datang dalam kegelapan (Yoh 1:5), dan menjadi terang dunia—bukan hanya orang Yahudi yang mengenal Taurat tetapi semua yang percaya kepada-Nya (Yoh 1:12). Namun, kegelapan itu masih ada. Dalam dunia baru Allah dan Kristus menjadi terang, sehingga tidak ada lagi malam (Why 22:5). Tetapi untuk sementara, siang belum datang (Rom 13:11-12). Jadi, Kristus tetap adalah pelita bagi kaki kita, menerangi langkah berikut, bukan seluruh jalan ke depan. Kita mengalami terang itu dengan berpegang pada hukum Kristus yang mempertegas keadilan dalam Taurat. Ketika kita tertindas, berita sukacita bahwa Allah membangkitkan Yesus yang disalibkan dengan sangat tidak adil menghidupkan kita kembali. Injil menjadi milik pusaka kita, sambil kita menantikan bagian dalam dunia baru itu. Harapan “untuk selama-lamanya” menjadi harapan harfiah—bukan sampai ajal (“saat terakhir”) melainkan hidup kekal.

Seperti saya katakan di atas, tafsiran kristologis ini tidak meniadakan makna aslinya, melainkan memperkayanya. Kita dapat mendoakan bait ini di dalam Kristus. Jika hal itu kita lakukan, kita akan tetap tertantang oleh semangat pemazmur: ketegasannya untuk hidup sesuai dengan terang firman, kegirangannya akan firman itu, hatinya yang dia condongkan untuk melakukannya. Hanya Kristus yang dapat mendoakannya dengan sempurna. Semoga renungan para pengkhotbah dalam persiapan dan bersama dengan jemaat membuat kita semua lebih seperti Firman yang sejati itu.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Mzm 119:105-112 “Menghayati Firman Tuhan sebagai Pelita” [4 September 2011]

  1. menemani berkata:

    Sekalipun sejak gadis kecil saya sudah hafal Mazmur 119:105 dan menghafalnya di saat acara Natal di depan jemaat, namun saya baru benar-benar paham maknanya saat merenungkannya untuk buku renungan orangtua-anak yang saya tulis tahun 2004. Bagi Daud, dunia ini gelap pekat, sehingga terang pelita mutlak dibutuhkannya untuk berjalan, dia tak berani melangkah setapak jua tanpa terang Firman menerangi jalannya setapak demi setapak. Saat itu saya tertegur: apakah bagi saya tempat Firman Tuhan di hidup saya itu semutlak Daud menempatkan Firman itu dalam setiap langkah hidupnya? Terima kasih renungannya.

    Salam hangat,
    eva

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih kesaksiannya. Semoga makin banyak yang menempatkan Alkitab sebagai kebutuhan, bukan sesuatu yang terkadang berguna.

  3. Ping balik: Mzm 45:11-18 Identitas dan hormat di dalam Kristus [6 Jul 2014] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s