Ams 15:20-24 Anak Yang Bijak Membahagiakan Orang Tua [11 September 2011]

Kita kembali pada lima amsal. Karena dipilih untuk hari anak-anak, saya memberi fokus pada aa. 20-21.

Penggalian Teks

Susunan amsal mulai p.10 pada umumnya tidak jelas, tetapi seringkali ada kata kunci dari amsal yang satu ke amsal berikut. Dalam lima ayat yang dipilih di sini, kata “sukacita” muncul tiga kali (diterjemahkan “menggembirakan” dalam a.20, dan “kesukaan” dalam a.21). Kemudian, jika a.20 mau diangkat sebagai tema, ayat-ayat berikut menggambarkan “anak yang bijak” dan “orang yang bebal” itu.

A.20 menunjukkan kesejajaran pertentangan, yaitu, antara dua sifat, “bijak” dan “bebal”, dan dua akibat, “menggembirakan” dan “menghina”. Kata-kata yang lain sejajar dengan maksud yang sama. Antara “anak” dan “orang” tidak ada perbedaan rujukan, karena masing-masing berurusan dengan orang tua, tetapi kata “orang” (aslinya adam yang berarti “manusia”) menunjukkan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku pada masa muda orang. “Ayah” dan “ibu” juga tidak bisa dipertentangkan, tetapi bersama-sama berarti “orangtua”. Dua macam orang menimbulkan dua macam akibat pada orangtuanya. Namun, dapat dipikirkan, apakah sukacita lebih terasa oleh ayah? Apakah kehinaan anak bebal lebih berdampak bagi ibu?

A.21 juga merupakan kesejajaran pertentangan, antara “yang tidak berakal budi” dan “orang yang pandai” serta sifatnya masing-masing, yakni “kebodohan adalah sukacita” dan “berjalan lurus” (untuk yang mengenal istilahnya, ayat ini berbentuk kiasmus: sifat-orang: orang-sifat). Kebodohan macam apa yang bisa dipertentangkan dengan berjalan lurus? Apakah kurang pintar menghitung adalah jalan yang tidak lurus? Apakah menipu dengan cerdik adalah jalan yang lurus?

Jika dipikir lebih jauh, apakah ayah yang tidak berakal budi akan gembira atas anaknya yang bijak?

A.22 membandingkan banyak rancangan tanpa pertimbangan dengan satu rancangan yang bisa berdiri karena banyak penasihat.

Dalam a.23a, sukacita di sini karena jawaban sendiri. Jawaban bagaimana? Jika jawaban yang bodoh, kita kembali ke a.21! Tetapi a.23b lebih optimis. Jawaban yang tepat pada waktunya sangat baik.

A.24 mengangkat tujuan hidup—apakah hidup di atas, atau mati di bawah.

Maksud bagi Pembaca

Kelima amsal ini merupakan pernyataan atau pengamatan saja. Tidak ada perintah atau janji langsung di antaranya. Malah, sebagai pernyataan amsal-amsal sering menimbulkan pertanyaan daripada memberi jawaban yang tuntas, seperti saya coba menggambarkan di atas. Pertanyaan itu lebih berguna mengembangkan hikmat daripada jawaban siap saji.

Kalau begitu, apa tujuannya? Kita diajak untuk menempatkan diri di dalam amsal-amsal ini. Apakah saya menggembirakan orangtua atau membawa rasa malu bagi mereka, apakah yang saya sukai itu kebodohan atau memang jalan saya lurus, dsb. Kita juga dimampukan untuk menilai ulang orang lain. Mungkin kita menjadi plin-plan tentang suatu kebodohan karena disukai orang, tetapi a.21 memberanikan kita untuk tetap pada jalan yang lurus.

Singkat kata, amsal-amsal ini tidak bisa diterapkan, jika penerapan dimengerti sebagai serangkaian tindakan konkret. Hikmat adalah soal karakter. Hanya, dampaknya bukan hanya pada diri sendiri, melainkan juga orang lain (a.20).

Makna

Kitab Amsal mengklaim untuk mengajarkan dan mengembangkan hikmat yang dengannya Allah menciptakan dunia (Ams 8:22 dst). Jadi, amsal-amsal merupakan jendela pada manusia dan dunia. Dalam a.20 kita melihat sifat sosial manusia, khususnya dalam keluarga. Cara hidup anak mau tidak mau berdampak pada orang tua. Hal itu berlaku bagi keluarga secara harfiah, tetapi banyak kelompok bisa disamakan dengan keluarga. Misalnya, jika kita menerima gagasan yang mengatakan Allah sebagai Bapa dan gereja sebagai Ibu kita, maka amsal ini tetap berlaku. Menarik juga jika kita coba membandingkan Sang Bijak Yesus Kristus (1 Kor 1:30) dengan si Adam (mengingat bahwa kata Ibrani untuk “orang” di sini itu adam). Jelas Yesus menggembirakan Bapa-Nya di sorga. Adakah ibu yang dihina oleh Adam? Dalam Kej 2:7 Adam (haadam) dibuat dari tanah (haadamah). Jelas manusia sekarang menghina tanah. Maksud saya di sini bukan bahwa amsal ini berbicara langsung tentang Kristus dan krisis ekologi, melainkan bahwa di mana saja ada kelompok yang terikat satu dengan yang lain, yaitu, semacam keluarga, kita bisa mengartikan amsal ini.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.