Amsal 17:7-15 “Cara Hikmat Bekerja” [18 September 2011]

Kitab amsal tidak memakai perikop, dan saya tidak yakin bahwa “struktur” yang saya temukan di bawah sungguh disengajakan ketika amsal-amsal dikumpulkan. Tetapi paling sedikit struktur itu memperhadapkan ayat-ayat yang menarik untuk dipertimbangkan bersama, dan prosesnya menggugah pikiran saya.

Penggalian Teks

A.7 adalah pertentangan yang dibangun atas kesamaan. Sama-sama tidak layak jika sifat orangnya bertentangan dengan sifat kata-katanya. Dalam aslinya bahasanya lebih enak: “Tidak cocok bagi orang bebal (nabal) bibir kelebihan; lebih lagi bagi orang mulia (nadib) bibir dusta”.

A.8 menggangu, karena sepertinya memuji suap. Mestika secara harfiah adalah “batu khen”. Khen berarti sikap berkenan atau suka, sehingga menjadi salah satu kata untuk anugerah Tuhan. Di sini, maksudnya batu yang membuat orang berkenan atas atau menyukai kita, semacam jimat. Kata “beruntung” (hashkil) memiliki konotasi “berhasil karena kejeliannya”, dan bentuk nominanya sering dipakai dalam kitab Amsal dengan terjemahan “orang yang berakal budi”. “Memalingkan muka” mungkin menonjolkan sukses di hadapan orang lain. Jadi, seakan-akan ada sindiran terhadap amsal-amsal biasa: anugerah membawa sukses di depan orang, hanya, anugerah ini bukan anugerah Tuhan melainkan efek “magik” dari suapan. Adakah petunjuk dalam ayat ini bahwa yang disindir bukan anugerah Tuhan melainkan suapan sendiri?

Aa.9-15 mungkin dapat dilihat dalam pola kiasmus, sebagai berikut. Aa.9, 15 membahas kejahatan yang tidak dihukum. Dalam a.9 hal itu merupakan pengampunan yang memulihkan relasi, dalam a.15 ketidakadilan yang menjadi kekejian bagi Tuhan.

Aa.11, 13 memakai kata ra’/ra’ah yang dapat diterjemahan “kejahatan” atau “kemalangan”. Dengan demikian, apa yang dicari orang durkaha (kejahatan = kemalangan) ternyata ditemukan dari utusan yang kejam itu. Dalam a.13 makna berganda itu bisa juga dipikirkan.

A.12 secara harfiah berarti, “Berjumpa beruang betina yang kehilangan anak dengan orang, tetapi jangan orang bebal dengan kebodohannya”. Kebodohan sejajar (pada hemat saya) dengan beruang itu, dan orang bebal sejajar dengan orang malang itu. Dari baris pertama, perjumpaan itu dahsyat. Tetapi, dari kata “jangan”, yang sekiranya dapat dihapus dari dunia itu perjumpaan kedua. Ternyata orang bodoh lebih dihancurkan oleh kebodohannya daripada orang yang berjumpa dengan beruang yang gusar itu. Ayat ini cocok sebagai suatu inti kiasmus, karena secara menyolok mengungkapkan bahaya kebodohan yang mendasari ayat-ayat yang lain.

Maksud bagi Pembaca

Aa.9-15 mengalir jika a.12 dilihat sebagai kuncinya. Aa.9-11 dapat dilihat dalam konteks persahabatan. Pemulihan atau pertahanan relasi dalam a.9 sangat dibantu jika berurusan dengan orang pengertian yang dapat menerima tegoran (a.10), tetapi jika berurusan dengan orang durhaka, kita hanya dapat menunggu akibatnya bagi mereka (a.11). Dalam a.13 kebodohannya malah meningkat, dengan tidak sekadar mencari kejahatan (a.11) melainkan membalas kebaikan dengan kejahatan (a.13). Jika a.10 menunjukkan bahwa tidak semua bisa menerima hardikan, a.14 menunjukkan akibatnya jika hardikan disampaikan kepada orang bebal: akibatnya perkara (diterjemahkan “perbantahan”). Konteks pengadilan itu yang tidak boleh memutarbalikkan keadilan dengan menyatakan tidak bersalah orang yang bersalah. Jadi, a.15 bukan soal menutupi pelanggaran dalam relasi pribadi tetapi membenarkan kefasikan dalam konteks pengadilan.

Lalu, bagaimana dengan aa.7-8? Di atas bibir seorang bebal, kata-kata bagus akan tetap membangkit-bangkit perkara, menangkis hardikan, dan menyembunyikan kejahatan. A.8 merupakan contoh yang tepat. Suapan, sama seperti semua jimat dsb dalam PL, menduakan Allah, dan menunjukkan keinginan untuk mencari muka, bukan menguntungkan sesama. Kita mau mengampuni orang seperti itu, andaikan mereka dapat disadarkan. Tetapi jangan lembaga memaafkan mereka, sehingga korban mereka diinjak dua kali.

Makna

Ada ketegangan tertentu antara a.9 dan a.15 yang merujuk ke sesuatu yang dalam, yakni, masalah pengampunan dan keadilan. A.15 berbunyi seperti Kel 23:9, “sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah”. (Andaikan terjemahan dalam Ams 17:15 itu sama, bunyinya enak: “Membenarkan orang yang bersalah dan mempersalahkan orang benar”.) Bahasa itu disinggung Paulus ketika dia menyebut Allah sebagai “Dia yang membenarkan orang durhaka” (Rom 4:5). Dalam Kristus, a.9 diterapkan dalam relasi ilahi. Kebingungan banyak orang Kristen tentang anugerah berasal dari ketegangan yang sejajar dengan ketegangan antara a.9 dengan a.15, yaitu, Allah menutupi dosa padahal Dia adalah Hakim yang harus menegakkan keadilan. Makanya, anugerah ditafsir sebagai izin untuk berdosa, atau, sebaliknya, demi menakuti jemaat dikatakan bahwa keselamatan tergantung pada respons mereka.

Dengan cara yang detilnya melampaui jangkauan akal kita, Allah bisa mencampurkan hal-hal itu dengan menawarkan diri-Nya dalam Kristus sebagai pengganti kita. Dia melanggar a.15 dalam diri-Nya sendiri (makanya penting bahwa Kristus bukan pihak ketiga melainkan ada pada pihak Allah sendiri karena sama-sama Allah) supaya kita bisa diselamatkan, tetapi oleh Roh-Nya mengubah kita menjadi orang berpengertian yang siap menerima hardikan dan mau berubah. Dengan demikian, kita yang dibenarkan sebagai orang bersalah akhirnya menjadi orang benar, serupa dengan Kristus, sang Hikmat itu.

Namun, dalam kehidupan manusia kedua hal itu harus tetap terpisah. Secara pribadi kita tidak boleh main hakim, tetapi hakim (yaitu, jabatan atau kelompok yang kompeten untuk memutuskan perkara di dalam sebuah kelompok, entah gereja atau negara) harus berperan sebagai hakim. Lembaga kristen rawan mengampuni orang yang perlu ditindaki demi kesehatan seluruh tubuh Kristus, dan pengadilan negara lebih pemaaf lagi bagi orang kaya / berada.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Amsal 17:7-15 “Cara Hikmat Bekerja” [18 September 2011]

  1. tulistulistulis berkata:

    “Aa.9-15 mengalir jika a.12 dilihat sebagai kuncinya. Aa.9-11 dapat dilihat dalam konteks persahabatan. Pemulihan atau pertahanan relasi dalam a.9 sangat dibantu jika berurusan dengan orang pengertian yang dapat menerima tegoran (a.10), tetapi jika berurusan dengan orang durhaka, kita hanya dapat menunggu akibatnya bagi mereka (a.11). Dalam a.13 kebodohannya malah meningkat, dengan tidak sekadar mencari kejahatan (a.11) melainkan membalas kebaikan dengan kejahatan (a.13). Jika a.10 menunjukkan bahwa tidak semua bisa menerima hardikan, a.14 menunjukkan akibatnya jika hardikan disampaikan kepada orang bebal: akibatnya perkara (diterjemahkan “perbantahan”).”

    Setuju, lalu harus bagaimana? Karena nabal biasanya tak merasa diri nabal, apakah semua nabal akan berakhir sama dengan Nabal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s