2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.

Pos ini dipublikasikan di 2 Korintus dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s