1 Samuel 7:2-14 Mengalami Pertolongan Tuhan [20 November 2011] (Akhir Tahun Gerejawi)

Dalam cerita yang klasik ini, saya menyempatkan diri untuk memberi contoh agak terperinci akan tafsiran kristologis. Intinya (seperti biasa) dapat ditemukan di bawah alinea pertama “Maksud bagi Pembaca”. Selebihnya semoga bermanfaat; soli Deo gloria.

Penggalian Teks

Setelah Samuel dipanggil dan diakui oleh Israel sebagai nabi Tuhan (1 Sam 3:20), tabut perjanjian dirampas oleh orang Filistin ketika dipakai oleh orang Israel kurang lebih sebagai jimat. Israel direndahkan, tetapi orang Filistin, khususnya ilah terutama mereka, Dagon, juga jadi direndahkan: patungnya Dagon terjatuh di depan tabut perjanjian (5:1-5), dan orang-orang Filistin kena banyak tulah (pp.5-6). Sehingga tabut perjanjian dikembalikan ke daerah Israel tanpa andil sedikit pun dari orang Israel sendiri. Dengan demikian Allah telah membuktikan kuasa-Nya, tetapi keadaan Israel belum juga pulih.

Kemudian, kita masuk pola yang berulang kali terjadi dalam kitab Hakim-Hakim. Israel lama menderita di bawah musuh sehingga mengeluh (2) dan bertobat dari penyembahan ilah-ilah yang lain (3-6). Maka Allah mengangkat seorang hakim (6) yang mengalahkan musuh Israel (7-12) sehingga Israel dapat hidup damai (13-14). Aa.15-16 juga merupakan penutup yang cocok untuk seorang hakim.

A.2 merupakan pendahuluan cerita ini, dengan mengangkat intisari dari kondisi Israel sebagaimana dilihat dalam pasal-pasal sebelumnya (karena cerita ini adalah satu peristiwa di dalam kisah yang lebih besar). Yang menggerakkan cerita ini ialah keluhan Israel (2). Tuhan menjawab melalui Samuel (status Samuel sebagai nabi sudah jelas dari 3:20) bahwa mereka perlu menjauhkan ilah-ilah asing (3). Dalam budaya Israel yang masih kolektif, pertobatan itu dinyatakan melalui perubahan ritus. Secara harfiah mereka menjauhkan patung-patung yang disembah dan kembali kepada ritus-ritus yang diizinkan oleh Taurat (4).

Kemudian, Israel disuruh berkumpul—bukan di Kiryat-Yearim tempat tabut perjanjian ada melainkan di Mizpa. Di sana, sebagai nabi (bdk. Kej 20:7), Samuel akan berdoa bagi Israel (5). Di sana, pertobatan yang sudah dinyatakan dengan perubahan ritus juga dinyatakan dengan pencurahan air (tanda penyucian atau pertobatan?), acara puasa dan pengakuan dosa (6). Di sana, Samuel juga menjadi hakim (pemimpin) di atas mereka (6c). Dengan demikian, Israel sudah utuh kembali sebagai umat Allah.

Kiryat-Yearim terletak 22 km dari Ekron, kota Filistin yang paling dekat wilayah Israel. Mizpa berada 12 km lebih jauh, di tengah pegunungan Israel sedikit sebelah Selatan dari Betel, pada persimpangan dua jalan raya. Tempatnya mungkin lebih terjangkau oleh orang-orang Israel dari berbagai daerah, tetapi ternyata juga terjangkau oleh orang Filistin. Mereka mungkin tidak akan berani menuju tabut perjanjian di Kiryat-Yearim, tetapi sepertinya Mizpa dianggap aman (7a). Orang Israel tentu takut, tetapi tanpa “jimat” tabut perjanjian mereka hanya dapat mengandalkan janji Samuel untuk berdoa (8). Samuel pun berdoa melalui ritus yang kelihatan, yaitu korban bakaran, dan Tuhan menjawab doanya (9).

Andil Tuhan ditonjolkan dalam a.10, lebih lagi dalam bahasa aslinya yang mengatakan bahwa orang Filistin “terpukul kalah di hadapan orang Israel” (bukan “oleh orang Israel”). Setelah langkah yang menentukan dari Allah, Israel ikut berperang sampai Bet-Kar (a.11; letaknya tidak diketahui). Nama batu peringatan menyimpulkan pesannya bagi Israel, “Tuhan menolong kita” (12; Eben = batu, Ha = sang [dalam konteks ini], Ezer = penolong). “Sampai di sini” dapat berarti “sejauh tempat ini” (ruang) atau “sampai sekarang” (waktu).

Kemenangan itu cukup menentukan selama Samuel hidup (bdk. Hak 2:18). Ekron sampai Gat berjarak 5 km di perbatasan wilayah Filistin dengan Israel, pada salah satu jalan raya yang dipakai untuk perdagangan internasional.

Maksud bagi Pembaca

Cerita ini menuntun pembaca dalam proses keselamatan. Yang pertama adalah kesadaran bahwa Tuhanlah harapan orang yang berkeluhkesah (2). Kemudian, ada dua tahap pertobatan: menjauhkan sumber-sumber harapan yang lain (3-4), lalu disucikan di hadapan Tuhan (5-6, 9). Kemudian, kuasa Tuhan akan ditampakkan dengan perantaraan utusan-Nya sehingga musuh akan dikalahkan, sehingga umat yang suci dapat beribadah dalam damai.

Dalam cakupan lebih luas, untuk pembaca pada zaman pembuangan dan seterusnya, cerita ini membuktikan Samuel sebagai utusan Allah, sehingga pengurapan Daud, asal usul Mesias itu, jelas berasal dari Allah (1 Sam 16). Mesias itu yang akan menyelamatkan Israel kembali sehingga ibadah Israel tidak lagi terancam oleh musuh, jika Israel bertobat.

Makna

Saya sudah mengusulkan di atas bahwa perikop ini akan dibaca secara mesialogis oleh Israel pasca-pembuangan. Lebih lagi, kita yang mengenal kuasa Allah dalam penyaliban (1 Kor 1:23-24) dan kebangkitan Kristus (Ef 1:19-20) akan menafsir perikop ini secara kristologis. Musuh kita adalah dosa, Iblis, dan maut, dan Juruselamat kita adalah Kristus yang memperlihatkan kuasa Allah yang mengalahkan musuh-musuh itu. Cerita ini memberi gambaran konkret akan keselamatan yang tidak langsung kelihatan itu. Keselamatan itu bersifat eskatologis, yakni, hanya dalam dunia baru musuh tidak ada lagi sehingga kita beribadah kepada Allah dengan sempurna dan tanpa ancaman. Namun, PB melihat keselamatan secara berganda. Kita sudah memiliki jaminannya dalam bentuk Roh Kudus (Ef 1:14), sehingga keselamatan itu mulai terwujud dan dialami dalam kehidupan berjemaat (Efesus 4). Makanya, ada perjuangan rohani sekarang (Efesus 6), yang mengandaikan perang suci dalam PL, hanya bukan lagi melawan darah dan daging.

Namun, cerita ini tetap memiliki integritas sebagai firman Allah, sehingga kita harus tetap belajar dari perincian cerita ini. Jika harapan PB ialah bahwa semangat rohani kita selalu kuat (Rom 12:11), pada kenyataannya kita sering merosot sehingga tidak lagi menghadapi dunia dengan sukacita dalam Tuhan melainkan dengan sikap mengeluh. Pada saat itu, selayaknya kita memeriksa hati kita untuk mengetahui apa yang menjadi andalan atau penyelamat kita selain Allah. Hal itu bisa saja dalam bentuk fisik seperti jimat atau perkunjungan ke dukun, tetapi juga dalam bentuk lebih halus. Ketika Yesus memperingati kita tentang menduakan Allah, konteks langsungnya itu harta benda (Mt 6:24), sehingga Paulus menyamakan orang serakah dengan penyembah berhala (Ef 5:5). Tetapi Yesus juga baru selesai berbicara tentang ritus yang dilakukan untuk manusia, bukan Allah (Mt 6:1-18). Mamon dan Gengsi merupakan dua ilah besar di konteks Toraja, yang harus dijauhkan jika jemaat Tuhan di sini mau pulih. Kuncinya di sini “beribadah hanya kepada Tuhan” (4). Israel selalau memberi sebagian penyembahan mereka kepada Tuhan, tetapi Tuhan meminta segenap hati, jiwa dan akal budi kita.

Kemudian, penafsiran kristologis menegaskan bahwa mediator yang mendoakan kita sehingga selamat bukanlah si pendeta, dan bukanlah pimpinan gereja (lebih lagi bukanlah pemerintah!). Kristus yang menjadi Pembela kita di hadapan Allah (Rom 8:33). Pada hemat saya, jemaat sekarang lumayan menyadari bahwa mereka adalah orang berdosa (6). Saya tidak tahu sejauh mana jemaat sungguh mengandalkan Yesus sebagai Anak Domba yang disembelih untuk menyucikan mereka (9). Tetapi sepertinya masih kurang ketakutan yang menandai bahwa jemaat memahami besarnya tantangan yang dihadapi, seperti perpecahan, penyakit sosial, bahkan semua yang menuju ke ranah maut, bukan kehidupan. Secara pribadi sebagian jemaat sudah mengalami doa yang sungguh-sungguh. Tetapi secara berjemaat doa kita kepada Allah dalam nama Yesus Sang Mediator sering bersifat dangkal. Kita berdoa supaya hidup jemaat nyaman, bukan untuk melihat kuasa Allah membawa perubahan yang nyata.

Belum tentu jawaban Tuhan akan seperti dalam a.10, tetapi Tuhan tetap berkuasa sekarang. Sebagai contoh: pada waktu pembangkitan rohani di Inggris pada akhir abad ke-18, ada banyak tempat miras dan perjudian yang menjadi sepi karena pelanggannya bertobat dan menjadi sibuk dengan kegiatan rohani. Untuk waktu yang singkat fenomena Meko juga berdampak begitu, hanya, akarnya tidak terlalu kuat, mungkin karena sebagian orang hanya bertobat dari beberapa kebiasaan buruk, bukan berpaling dalam hati kepada Kristus sebagai satu-satunya harapan mereka. Perhatikan bahwa kedua fenomena ini tidak berasal dari program gereja pada tingkat apapun. Allah bekerja dalam kedaulatan-Nya, gereja hanya ikut serta (dan soal Meko, dengan kurang efektif, pada hemat saya, karena alasan tadi).

Gereja ikut serta sama seperti orang Israel dalam a.11: setelah kemenangan diraih mereka keluar berperang (11). Itulah pola Efesus 6 juga; kalau dilacak, perlengkapan senjata Allah berasal dari kemenangan Kristus (Ef 6:14-17), dan tugas kita adalah berdiri melawan serangan Iblis. Jadi, seluruh jemaat harus bertobat (a.5, “segenap orang Israel”), bukan hanya majelis, bukan hanya isteri-isteri yang pergi bergereja. Kemudian, seluruh jemaat akan berperan dalam melawan muslihat-muslihat Iblis, bukan hanya si pendeta, bukan hanya pimpinan gereja. Adalah penyakit ketika jemaat meng-Samuel-kan pendeta atau pimpinan gereja (menjadikannya juruselamat), dan lebih lagi ketika jemaat juga malas ikut berperan. Pembangkitan rohani di Inggris berdampak lama karena orang awam sangat terlibat; Meko berdampak singkat karena orang awam sudah puas dengan penyembuhan fisik.

Hasilnya bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita mengeluh dan berbalik itu kita jadi kenal sebagai Penolong (12). Hasil dalam aa.13-14 akan bergantung pada masalah yang dihadapi. Ketika perpecahan dikalahkan, ada kesatuan di dalam jemaat. Ketika penyakit sosial diatasi melalui pertobatan para pendalangnya, ada damai di dalam masyarakat. Hasil-hasil itu selalu bersifat sementara. Israel akan menghadapi orang Filistin lagi, dan berbagai musuh lain lagi, dan akhirnya mereka menjadi jenuh bertobat sehingga mengalami pembuangan. Nasib satu lembaga seperti Gereja Toraja bisa saja demikian, tetapi selalu akan ada tubuh Kristus di bumi yang di hadapannya Tuhan menunjukkan kuasa-Nya, sampai Kristus datang kembali dan kita menikmati damai sejahtera yang kekal.

Pos ini dipublikasikan di 1 Samuel dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s