Yos 2:8-24 Melihat dengan mata iman [4 Desember 2011] (Adven II)

Rahab disebut tiga kali dalam PB. Dia menikah dengan Salmon sehingga termasuk silsilah Kristus (Mt 1:5). Ibr 11:31 dan Yak 2:25 juga menyebutnya berkaitan dengan iman.

Penggalian Teks

Cerita lebih luas dalam kitab Yosua menyangkut usaha Israel untuk merebut tanah Kanaan. Yosua melepas dua pengintai untuk mengamati tanah serta kota Yerikho. Mereka masuk di sebuah tempat kelas bawah (mungkin tempat penginapan dengan jasa tambahan) di mana mungkin mereka berharap untuk bisa anonim, tetapi kehadiran mereka bocor ke raja. Namun akhirnya mereka bisa luput dari ancaman itu, dan membawa pesan bahwa penduduk negeri itu takut kepada orang Israel (24).

Tetapi kita akan meninjau cerita ini dari perspektif Rahab. Alur cerita sederhana saja. Di luar dugaan Rahab tidak menyerahkan kedua pengintai kepada pesuruh raja kota, tetapi menyembunyikan mereka. Kemudian, ada perjanjian yang dibuat di antara mereka, “nyawa ganti nyawa” (a.14), di mana keselamatan pengintai dari orang Yerikho menjadi jaminan keselamatan Rahab nantinya. Ada dua syarat disebutkan. Yang pertama, Rahab tidak membocorkan keberadaan kedua pengintai. Setelah mereka diturunkan ada satu lagi, yaitu tali yang dipakai diikatkan pada jendela rumah sebagai tanda pengenal, dengan peringatan bahwa hanya orang di dalam rumah itu yang dijamin keselamatannya. Kemudian, mereka mengikuti nasihat Rahab dan luput.

Jadi, kisah ini menceritakan bagaimana Rahab membuat muslihat yang cukup cerdas untuk bisa menyelamatkan kedua pengintai sehingga dia sendiri bisa selamat. Tentu, yang menarik di sini adalah, mengapa Rahab merasa harus selamat? Dia berada di tengah bangsanya yang kuat di kota benteng yang juga kuat.

Jawabannya muncul dalam aa.9-11. Ketiga ayat ini merupakan kiasmus sbb. Rahab mulai dengan pernyataan tentang rencana Allah terhadap Kanaan (A). Kemudian, ada gambaran tentang ketakutan bangsanya (B). A.10 menyampaikan intinya, tentang karya Allah bagi Israel (C). Dalam rangka karya Allah itu, kita dibawa kembali melalui pokok B dan A. Perasaan bangsa Rahab bermuara pada merasa patah semangat (B’). Allah Israel disadari sebagai Allah langit dan bumi, Allah di atas semua penguasa yang lain (A’). Bagian A dan B merupakan inti laporan pengintai kepada Yosua dalam a.24. Tetapi ayat-ayat ini adalah juga dasar bagi rencana Rahab, sebagaimana dilihat oleh kata penghubung pada awal a.12, “Maka sekarang”. Dengan mata iman dia dapat melihat bahwa dia ada dalam bahaya yang besar, makanya dia mengusahakan keselamatan bagi dirinya dan kaum keluarganya. Intinya disimpulkan pada akhir a.13, yaitu keselamatan dari maut (disebut “hidup” dalam 6:25).

Tali kirmizi dalam a.18 akan membuat pembaca mengingat peristiwa Paskah. Pada saat itu, ada bangsa yang akan dihukum Allah, yaitu, Mesir (Kel 12:13). Orang Kanaan juga menghadapi hukuman Allah (Kej 15:16, Ul 9:4). Untuk selamat dari hukuman itu, orang harus berlindung di dalam rumah yang dibubuhi tanda tertentu, yakni, di Mesir, darah anak domba (Kel 12:7). Tali kirmizi itu juga warna merah, seperti darah. Jadi, Rahab serta keluarganya selamat dari hukuman Allah dengan perlindungan lambang darah anak domba, sama seperti orang Israel. Keselamatan sekelompok orang di luar Israel menonjol, tetapi bukan hal yang baru: banyak orang dari berbagai bangsa turut keluar dari Mesir, menurut Kel 12:38. Tetapi fokus di sini adalah pada sifat orangnya. Dia disebut sebagai “perempuan sundal” pada kali pertama dan terakhir nama Rahab disebutkan (Yos 2:1; 6:17, 25).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menggambarkan perlunya keselamatan dari hukuman Allah, dan juga menegaskan bahwa siapa saja dapat diselamatkan jika ada kesadaran dan pertobatan. Bagi Israel di bawah hukuman Allah dalam pembuangan karena berbuat sundal terhadap Allah, cerita ini membawa harapan akan keselamatan. Harapan itu diteguhkan oleh Yesus, yang akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, tetapi oleh darah-Nya menyediakan “rumah” tempat orang yang berlindung di dalamnya akan selamat.

Makna

Tafsiran kristologis sudah disinyalir di atas. Keselamatan sebagaimana digambarkan dalam cerita ini digenapi di dalam Kristus. Makanya, Rahab diangkat dua kali sebagai contoh bagi orang yang beriman kepada Yesus. Kedua rujukan itu menerangi perikop kita.

Ibrani 11:1 menjelaskan iman sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Contoh-contoh berikut pada umumnya menyangkut janji Allah yang diharapkan, tetapi belum terlihat karena memang belum terjadi. Bagi Rahab, yang belum terlihat adalah hukuman Allah atas bangsanya. Hal itu pasti tidak diharapkan, tetapi dia berani berjuang untuk keselamatan dari hukuman itu. Yak 2:25 mengangkat tindakan Rahab menyembunyikan kedua pengintai sebagai salah satu bukti bahwa iman yang sejati selalu disertai dengan perbuatan.

Kedua nas itu sama dalam intinya, yaitu bahwa iman itu bukan semacam kemampuan religius yang terletak pada hakikat manusia, melainkan suatu kesadaran akan realita yang tidak kelihatan yang kemudian ditanggapi. Jika pada tahun 1997 ada politikus yang dapat melihat dengan mata imajinasi bahwa Suharto akan jatuh, kesadaran itu pasti akan mempengaruhi tingkah lakunya. Jika tidak, jelas dia sebenarnya tidak percaya bahwa Suharto akan jatuh. Rahab bertindak karena dengan mata iman dia melihat nasib bangsanya.

Tetapi bencana yang mengancam tidak cukup. Andaikan Rahab cinta pada bangsanya, mungkin dia akan memilih untuk turut dibinasakan. Di dalam ucapannya bahwa Allah Israel adalah Allah langit dan bumi ada biji iman, mungkin hanya sebesar biji sesawi, bahwa Allah Israel itu lebih layak disembah daripada dewa pelindung kotanya sendiri, walaupun informasinya tentang Allah itu sangat terbatas. Jadi, jelas bahwa iman Rahab sebenarnya sangat terbatas. Tidak ada kesadaran akan dosa, tidak ada kerinduan akan kebenaran atau syalom, dan jelas tidak ada suatu kebaikan dalam dirinya sehingga Allah semestinya menyelamatkan dia. Imannya sekadar kesadaran akan bencana pada satu segi, dan harapan tipis akan sesuatu yang lebih baik, serta tindakan berdasarkan kesadaran itu. Ketika kemudian dia bergabung dengan bangsa Israel, baru dia mulai memahami hidup baru yang sudah dia masuki.

Untuk berlindung pada Kristus sebagai tempat aman karena darah-Nya, kita juga perlu melihat dengan mata iman hukuman Allah terhadap dosa, dan paling sedikit menduga bahwa hidup di dalam Kristus akan lebih baik daripada binasa. Katanya, dalam kepercayaan lama orang Toraja, pelanggaran dihukum dengan nyata dan langsung, sehingga mata biasa sudah cukup. Ancaman kebinasaan kekal sebagai bentuk pasti hukuman Allah kurang berdampak karena tidak kelihatan dan belum terjadi. Kalau memang begitu, orang Toraja terlanjur ada pada posisi penduduk Yerikho: berjalan dalam kegelisahan dan harapan-harapan semu sampai binasa.

Tetapi ada satu unsur lagi di sini. Rahab dapat beriman karena dia mendengar tentang perbuatan-perbuatan ajaib Allah (10). Iman timbul dari pendengaran, kata Paulus (Rom 10:17). Perbuatan ajaib Allah yang kita soroti pada musim Adven ialah kedatangan pertama dan kedua Kristus. Allah telah menghukum dosa dan membangkitkan Anak-Nya, sama seperti Dia menghukum Mesir dan kerajaan-kerajaan Amori dan menyelamatkan umat-Nya. Kiranya jemaat sekarang menerima pemberitaan sehingga mereka bisa melihat realita hukuman dan keselamatan Allah dan dalam iman mengambil respons yang tepat.

Pos ini dipublikasikan di Yosua dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Yos 2:8-24 Melihat dengan mata iman [4 Desember 2011] (Adven II)

  1. robymarrung berkata:

    mungkin menjadi pertanyaan bodoh saya. mengapa Rahab hanya mendoakan keselamatan diri dan keluarganya, mengapa tidk berdoa untuk keselamatan bangsanya. dalam hal ini saya mau menbandingkannya dengan Abraham yang berdoa untuk Sodom dan Gomora…. MKSH

  2. abuchanan berkata:

    Yang pertama, Rahab bukan orang yang sudah dewasa dalam iman, seperti Abraham. Dia hanya tahu sedikit tentang Allah, dan bertindak supaya selamat. Jadi, dia memperjuangkan apa yang ada di depannya, dilihat dengan mata iman. Yang kedua, apakah seluruh kota mau selamat? Bukankah jika raja mau berdamai, dia bisa bernegosiasi dengan Yosua? Abraham berdoa untuk seluruh kota, tetapi Allah hanya menyelamatkan Lot sekeluarga, karena selebihnya sudah keras hati. Demikian jawaban saya sepintas lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s