Mazmur 53 Berharap karena Allah menindak kejahatan [11 Desember 2011] (Adven III)

Penggalian Teks

Mazmur 53 hampir sama dengan Mazmur 14. Ada dua perbedaan yang bermakna yang mendukung usul bahwa Mazmur 14 mempersoalkan penindas di dalam umat Allah, sedangkan Mazmur 53 mempersoalkan penindas dari luar. Mazmur 14 beberapa kali memakai kata Tuhan yang menerjemahkan nama Allah (“Yahweh”), sedangkan Mazmur 53 hanya memakai kata Allah (“Elohim”), istilah yang bukan milik Israel saja. Kemudian, Mzm 14:5-6 dan Mzm 53:6 cukup berbeda. Mzm 53:6 memperjelas pelaku kejahatan dalam 53:5 sebagai “para pengepungmu”, yaitu, tentara, yang ditolak oleh Allah. Mzm 14:5-6 tidak ada tambahan informasi tentang penjahat, dan menyoroti perlindungan Tuhan bagi orang yang benar. Usul perbedaan latar belakang ini tidak pasti, dan mungkin yang paling pokok adalah yang belakangan: Mazmur 53 lebih keras tentang nasib penjahat, sedangkan Mazmur 14 lebih menonjolkan perlindungan Tuhan.

Mazmur ini dapat dibagi tiga. Aa.2-4 menceritakan kejahatan manusia (a.2 dan a.4 merupakan inklusio dengan “tidak ada yang berbuat baik”); aa.5-6 menceritakan respons Allah; dan a.7 menyatakan doa akan pemulihan.

Kelompok yang dikeluhkan tergambar dalam a.2, pertama-tama dengan istilah “orang bebal” (nabal). Kata itu merujuk pada orang yang tidak berguna karena tidak peduli terhadap apa yang semestinya dipedulikan (seperti norma, atau Allah). Kelompok itu adalah ateis praktis. Ateis ideologis mengaku bahwa Allah tidak ada, dan bahkan memberitakan hal itu (paling sedikit demikian di dunia Barat). Tetapi dalam dunia agamawi seperti Israel (ataupun Indonesia), seorang ateis praktis tetap mengaku dengan mulutnya sebagai orang beragama, paling sedikit sebagai kedok atas kejahatannya. Tetapi tingkah lakunya menyiratkan bahwa dalam hati dia percaya bahwa Allah tidak ada—entah dalam artian tidak berada atau dalam artian praktis alpa dari dunia ini. Kata orang Toraja, “Siapa melihat ayam kencing?” (Indan tiroi tu manuk kattene?), artinya, Allah terlalu jauh atau tinggi untuk peduli, atau terlalu sibuk untuk memperhatikan, tingkah laku manusia. Alhasil, kelompok ini melakukan kecurangan yang membuat mereka busuk dalam hakikatnya dan jijik bagi sesama atau Allah. Tidak ada kebaikan yang mereka hasilkan.

A.3 langsung membantah anggapan ateis praktis itu. Ternyata Allah melihat. Dia memang tinggi, sehingga harus memandang ke bawah. Tetapi ada serangan balik. Jika orang bebal bertanya tentang adanya Allah, Allah bertanya tentang adanya orang yang berakal budi, yang mencari Allah. Yang dicari Allah di sini kebalikan dari orang bebal dalam a.2. Tetapi a.4 meragukan adanya orang yang dicari Allah itu. Semua telah menyimpang, sekaliannya bejat, tidak ada seorang pun yang berbuat baik. A.2 mulai dengan orang menilai Allah itu alpa, tetapi a.4 berakhir dengan Allah menilai manusia itu jahat.

A.5 menarik perhatian pembaca dengan mengusulkan adanya pengetahuan yang belum disadari oleh kelompok itu. Dosa mereka diperjelas, termasuk bahwa umat Allah yang ditindas, dan Allah tidak dipanggil. Dalam a.6 kita diberitahu apa yang belum disadari itu. Intinya bahwa Allah telah bertindak dengan “menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu” dan “menolak mereka”. “Di sana” mungkin merujuk pada peristiwa tertentu di mana tentara yang mengepung kota Israel dikalahkan, seperti ketika Sanherib mengepung Yerusalem pada zaman raja Hizkia (2 Raj 18:13-19:37). Memang raja Asyur itu banyak membual terhadap Tuhan (misalnya, 2 Raj 18:33-35). Kemudian, dia mendengar isu yang mungkin boleh dikatakan membuatnya takut tanpa alasan (2 Raj 19:7-9), lalu, malaikat Tuhan keluar dan tulang-tulang tentara Asyur dihamburkan (2 Raj 19:35). Jika demikian, mungkin saja Mazmur 14 dari Daud diubah untuk memperingati peristiwa ini. Namun, dasar dalam sejarah tidak menutup tafsiran lebih luas tentang siapakah pengepung itu.

Berdasarkan tindakan Allah, a.7 menyampaikan doa untuk Tuhan bertindak. Sion disebut sebagai tempat Allah hadir dalam Bait Suci. Doa itu disertai dengan harapan bahwa Israel akan bersukacita atas karya Allah bagi mereka.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur mau menuntun umat yang merasa tertindas oleh penjahat untuk mengingat karya Allah bagi umat-Nya, sehingga berdoa untuk keselamatan. Karena umat Allah perlu diselamatkan dari ancaman orang jahat, mazmur ini juga dapat berfungsi seperti nubuatan, sebagai peringatan keras bahwa cara hidup mereka jijik dan nasib mereka buruk. Namun, idealnya jemaat siap kembali untuk menantikan keselamatan dari Kristus. oleh karena sudah yakin akan hukuman Allah terhadap kejahatan.

Makna

Pada masa Adven kita mengingat bahwa keselamatan bagi Israel telah datang dari Sion. Kristus datang sebagai Mesias Israel, menyucikan Bait Allah, mati bagi dosa Israel dan bangkit mengalahkan maut. Kita menunggu penyempurnaan kemenangan itu ketika Dia datang kembali. Dalam penggenapan tahap pertama ini, misi Allah yang dalam PL terfokus pada Israel diperluas untuk menjangkau semua bangsa, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:3). Makanya, kita menafsir Israel sebagai umat Allah yang sekarang terwujud dalam jemaat-jemaat, dan menafsir Sion, sumber keselamatan, sebagai Kristus.

Kita juga dapat melihat bagaimana Kristus sendiri mengalami mazmur ini. Dia berhadapan dengan, dan banyak mengecam, kemunafikan yang mengaku Allah tetapi hatinya jauh dari Allah, sehingga menindas orang kecil. Oleh karena itu, Dia dikepung, dan malah kelihatan sudah kalah ketika mati pada salib. Tetapi, ada kejutan besar. Kuasa Iblis dihamburkan, dan manusia yang melawan Dia dipermalukan, ketika Dia dibangkitkan. Dia menjadi sumber pertolongan dari Sion sorgawi sampai Dia datang kembali untuk menyempurnakan kemenangan-Nya.

Banyak umat Kristus juga mengalami serangan yang justru terlalu dekat dengan istilah pengepungan dalam a.6. Di Indonesia, kelompok-kelompok seperti FPI masih ringan ketimbang kondisi orang kristen di beberapa tempat di dunia. Yang menindas mereka termasuk orang ateis ideologis, seperti beberapa tempat rawan di Cina, tetapi juga orang beragama yang sudah pandai membuat agama sebagai kedok kepentingan pribadi. Jadi, komunitas kristen dikepung, kadangkala sampai mati. Tetapi, biar mereka mati, musuh-musuh mereka tetap akan dipermalukan, ketika Juruselamat dari Sion itu datang kembali. Pada saat itu, sukacita umat Allah tidak akan berkesudahan.

Jika tidak ada musuh dari luar yang terlalu jelas, kita tetap dapat menafsir “para pengepung” dalam rangka orang munafik di dalam gereja, misalnya, orang yang mengaku kristen tetapi terlibat secara tegas (bukan sewaktu-waktu tergoda) dalam berbagai penyakit sosial. Bahkan pelayan yang merusak jemaat diperingati Paulus dalam 1 Kor 3:16-17. Dalam konteks perlawanan kita bisa yakin akan hukuman Allah terhadap semua yang buruk, sehingga menantikan keselamatan dari Kristus itu.

Yang tidak diubah dengan kedatangan Kristus adalah perlunya hukuman itu. Memang, di dalam Kristus menjadi lebih jelas bahwa ada masa untuk pertobatan yang berlaku untuk semua manusia. Tetapi, akhirnya Allah akan bertindak demi pemulihan umat-Nya, bahkan seluruh dunia-Nya. Ketegangan yang mungkin terasa antara “menghamburkan” atau “dipermalukan” dalam a.6 dengan “memulihkan” dalam a.7 adalah hal biasa dalam Alkitab, karena dunia dianggap sangat rusak sehingga perlu cara yang keras untuk memperbaikinya. Proses itu digambarkan (dengan bahasa apokaliptik) dalam Wahyu 19-20, terkait dengan kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Mazmur 53 Berharap karena Allah menindak kejahatan [11 Desember 2011] (Adven III)

  1. Matius Bondi berkata:

    Masa Adven yg kini tengah dirayakan oleh umat kristen bukan lagi dalam arti menanti kelahiran bayi Yesus seperti pada 2000 thn yg lalu, tetapi lebih menunjuk kepada penantian akan kedatangan Yesus yg kedua kali kedalam dunia untuk menjemput setiap orang untuk dibawah mengahdap ke pengadilan Allah mempertanggung jawabkan segala sesuatu yg telah diperbuatnya dan mahkota kehidupan yg sempurna akan dikaruniakan kpd mereka yg setia (=Yoh 3:16)

  2. abuchanan berkata:

    Betul, kita rugi kalau hanya kedatangan yang pertama yang direnungkan.

  3. Tuto' berkata:

    Ambe’…..ayat 7….Ya, datanglah kiranya dari Sion keselamatan bagi Israel! konsep keselamatan dalam konteks ini apakah lepas dari orang jahat, orang bebal ? atau konsep eskhatologis seperti kalimat selanjutnya…”pemulihan umatNya”..? kasih komentar sedikit Ambe’. hal ini penting juga karena konsep keselamatan mungkin masih kabur dalam pemahan umat sekarang ini?

  4. abuchanan berkata:

    Ya, keselamatan berarti pelepasan dari penindasan kelompok orang bebal. Pemulihan dalam konteks ini adalah hasil dari keselamatan itu. Sama seperti Israel dilepaskan dari kuasa Mesir supaya bisa beribadah kepada Tuhan di tanah perjanjian (pemulihan). Dalam konteks PB, kita perlu lepas dari kuasa dosa supaya mengalami pemulihan hidup baru dalam konteks jemaat (tempat Allah hadir lewat Roh Kudus-Nya) yang akan disempurnakan ketika Kristus datang kembali.
    Terkait dengan konsep keselamatan, mazmur ini ditulis untuk menguatkan orang yang setia di dalam Israel. Di dalamnya, ada harapan untuk kelompok itu, dan ancaman hukuman Allah bagi kelompok bebal. Andaikan orang bebal mau selamat, dia harus pindah kelompok, bergabung dengan orang yang mengenal Allah, menjadi “sadar” (a.5). Jadi, pertobatan yang terkait dengan keselamatan di atas bukan memperbaiki berbagai cacat dalam kehidupan diri, melainkan berubah haluan dari arah hidup yang secara praktis menyangkal Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s