Yak 4:13-17 Tuhan Sang Penentu (1 Jan 2012)

Manusia diciptakan untuk berada, dan ingin berada secara nyata. Namun, manusia berdosa mau berada lepas dari Penciptanya. Dengan demikian dia menjadi justru tidak berada, dilihat dari perspektif kekekalan. Sikap itu yang dicap kecongkakan dalam perikop kita.

Penggalian Teks

Perikop 4:13-16 dan 5:1-6 diawali dengan seruan “Jadilah sekarang” (age nun). Seruan yang unik dalam kitab Yakobus itu dipakai karena kedua perikop ini dialamatkan bukan kepada jemaat melainkan kepada orang kaya yang menindas jemaat (2:6). A.17 diletakkan di antara kedua perikop ini sebagai peringatan bagi mereka.

Age nun secara harfiah berarti “datanglah sekarang”, dan dipakai untuk secara retoris mengajak kelompok yang dialamatkan untuk mendekat (“datanglah”) secara urgen (“sekarang”). Siapa kelompok itu? A.13 dan a.14a menyampaikan dua gambaran. A.13 menyampaikan suatu ucapan yang dianggap lazim dan mencirikan kelompok itu. Dilihat frase demi frase, mereka mampu melakukan perjalanan dan biasa berencana setahun dalam rangka berdagang, dengan harapan yang kuat akan keuntungannya. Begitulah konsep diri kelompok itu.

A.14a menyampaikan gambaran dari penulis, dengan alasannya dalam a.14b, yang ternyata lain. Jika mereka biasa berencana dengan penuh keyakinan, sebenarnya besok pun tidak diketahui dengan pasti. Kemudian, penulis menjelaskan bahwa mereka seperti uap. Kata atmis itu sering merujuk pada asap. Misalnya, Hos 13:3 (dalam terjemahan LXX) menggunakan kata itu untuk menggambarkan umat Allah seperti “asap dari tingkap”, kelihatan sebentar tetapi kemudian hilang. Dengan penjelasan dalam a.14b ini, tersirat bahwa kelompok ini menganggap diri “berada”. Mereka adalah orang yang berbobot secara materi dan kegiatan (“berada”) sehingga boleh dikatakan eksis (“berada”). Tetapi dalam dirinya sendiri manusia adalah uap, tidak memiliki bobot atau kuasa apa-apa.

Dalam a.15, penulis mengusulkan ucapan yang sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya. Manusia “uap” mengaku bahwa Tuhan adalah penentu, baik penentu kelanjutan hidup maupun kegiatannya. Karena Tuhan diabaikan dalam ucapan a.13, dalam a.16 ucapan itu dicap sebagai kecongkakan. Kemegahan dalam ke-berada-an diri itu jahat. (Ayat ini adalah satu-satunya tempat kata poneros diterjemahkan dengan kata “salah”, padahal di hampir semua tempat yang lain diterjemahkan oleh LAI dengan kata “jahat”.)

A.17 berfungsi sebagai peringatan bagi mereka. Ucapan itu senada dengan 1:22 (“hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja”) dan 2:26 (“iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”), tetapi bahasanya lepas dari soal apakah mereka adalah orang percaya atau tidak. Mereka sekadar “tahu”, bukan beriman atau mendengar firman. Namun, pengetahuan itu cukup untuk membuktikan keberdosaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mengalamatkan kaum orang berada secara retoris dengan dua tujuan: untuk menguatkan jemaat yang rendah kedudukannya; dan juga sebagai peringatan bagi jemaat yang mungkin tergoda untuk mengikuti atau mengejar kedudukan dan kekayaan sebagai ganti Tuhan. Jika 5:1-6 didengar dalam rangka perikop kita, maka jemaat akan dikuatkan bahwa hidup para penindas seperti uap di hadapan hukuman Tuhan. Tetapi bahkan di dalam jemaat yang rata-rata miskin, ada yang menganggap diri di atas yang lain (4:1-3). Mereka perlu diingatkan tentang sumber sebenarnya dari keberadaan manusia, yakni Tuhan, dan bahwa sikap yang menyangkal itu adalah dosa.

Makna

Adalah penting perikop ini ditafsir secara keseluruhan, karena jika hanya a.13 yang ditafsir, bisa saja kita sampai anggapan bahwa jalan-jalan, berencana, atau berdagang itu jahat. Yang jahat adalah sikap yang melihat dirinya berada di luar Tuhan, sehingga kehidupan dilihat berada dalam kendali tangan sendiri. Orang seperti itu tidak merasa dikendalikan oleh Tuhan, sehingga dengan mudah jatuh ke dalam kejahatan seperti dalam 5:1-6. Tetapi sikap yang baik dalam a.15 juga mengandaikan adanya rencana dan kegiatan. Bedanya bahwa orang itu sadar bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan.

Pada hemat saya, sangat cocok dengan konteks di Indonesia jika perikop kita dikaitkan dengan perikop yang berikutnya, khususnya “mendapat untung” (a.13) dengan soal penindasan (5:4-6), karena bukan untung dari perdagangan yang sehat yang dipersoalkan. Tetapi mungkin dalam konteks budaya tradisional yang diambil alih oleh gengsi, ada ucapan-ucapan lain yang dapat juga menyatakan sikap bahwa sumber keberadaan kita di luar Tuhan: “Tahun ini atau tahun depan kita akan mengadakan pesta besar selama dua minggu sehingga keluarga termasyhur dan desa beroleh pemasukan banyak.”

Perikop ini merujuk pada satu tema besar dalam Alkitab, yaitu, kerapuhan keadaan manusia. 4:13-5:6 sudah disampaikan secara ringkas dalam 1:10-11 dengan kiasan manusia seperti bunga rumput. Yang membuat manusia berada dalam artian sebenarnya adalah Injil, firman kebenaran yang membuat kita menjadi anak sulung dari ciptaan Allah (1:18). Jika ciptaan itu adalah ciptaan baru (karena manusia justru muncul belakangan dalam ciptaan pertama), kita sudah masuk ke dalam ranah yang tidak fana lagi oleh Injil. Kita memiliki ke-berada-an yang sebenarnya, bukan berdasarkan hasil kita melainkan anugerah Allah.

Kehendak Tuhan dalam a.15 merujuk pada kedaulatan-Nya, bukan perintah-Nya. Maksudnya bukan suatu nazar untuk mencari apa kehendak Tuhan sebelum saya bertindak, melainkan suatu pengenalan bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Tuhan. Tafsiran itu jelas karena yang pertama-tama disebutkan adalah “hidup”. Kita tidak mencari petunjuk dari Tuhan apakah hari ini kita tetap hidup atau tidak. Jadi, ayat ini juga tidak berbicara tentang mencari petunjuk dari Tuhan tentang apa yang akan kita berbuat. Tentu saja, orang yang rendah hati di hadapan Allah akan mau bertindak sesuai denga perintah-perintah-Nya, tetapi biar kita melangkah dalam rencana yang sangat baik atau sangat buruk, hal itu hanya akan terlaksana jika Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengizinkannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul (tetapi sudah agak jauh dari perikop kita) ialah, Mengapa Allah mengizinkan rencana yang jahat terjadi? A.16 (serta 5:1-6) mempersalahkan niat manusia yang jahat itu, bukan Allah yang memberi ruang bagi kehendak manusia. Andaikan Allah membuat kejahatan mustahil, tanpa mengubah niat pelakunya, maka kehendak manusia sudah ditiadakan. Jadi, cara Allah menghadapi dosa adalah memulihkan pendosa yang bertobat dan menghukum penjahat yang tidak bertobat (4:6), suatu proses yang akan dituntaskan ketika Kristus datang kembali (5:7). Soal kehendak manusia, dari 4:6-8 itu, keputusan manusia yang paling penting adalah apakah dia tunduk di hadapan Allah atau tidak; soal ke kota mana dan kapan adalah hal yang sangat sepele ketimbang itu. Soal adanya penindasan, kita tidak mengerti mengapa kadangkala kejahatan digagalkan oleh Tuhan, dan kadangkala justru kelihatan berhasil.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Yakobus dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s