1 Raj 2:1-4 Ketaatan karena janji Allah (15 Jan 2012)

Blog ini bermaksud untuk membantu Pembaca menyampaikan khotbah ekspositori, yaitu, khotbah yang amanatnya diambil dari teks dan disampaikan dengan teks sebagai bahan utama. Tentu, blog ini sama sekali bukan khotbah jadi, karena khotbah ekspositori juga harus menyambung dengan konteks jemaat pendengar, sedangkan blog ini hanya akan menyambung dengan pembaca yang berpendidikan teologi (formal atau non-formal) dan siap berkonsentrasi. Bagi rekan-rekan yang pernah menangkap visi khotbah ekspositori, jangan patah semangat bahwa firman Tuhan lebih berguna daripada pelampiasan kegelisahan hati pengkhotbah (alternatif biasa jika bukan teks yang menjadi materi utama). Jangan menerima kebohongan Iblis bahwa firman Tuhan terlalu rumit/susah/kontroversial untuk disampaikan, tetapi usahakan supaya firman itu yang muncul dengan jelas dalam penyampaian Saudara.

Sedemikian jauh pelampiasan kegelisahan hati saya. (Di dalam bagian pengantar dan pemaknaan, saya merasa bebas untuk mengeluarkan pendapat pribadi, karena namanya blog, bukan khotbah.)

Penggalian Teks

1 Raj 2:1-11 menyampaikan pesan Daud yang terakhir kepada Salomo, anaknya yang akan menggantikan dia menjadi raja Israel (1). Aa.3-4 merujuk pada sejarah keselamatan, yaitu perjanjian Allah dengan Israel di bawah Musa dan perjanjian Allah dengan Daud, dan kita dengan muda akan menggali pesan yang membangun daripadanya. Tetapi di sekitar perikop kita, kita diperhadapkan dengan kemelut peralihan kuasa. Pasal 1 menceritakan usaha Adonia, sepertinya anak tertua Daud yang masih hidup (bdk. 2 Sam 3:2-4: Amnon dibunuh Absalom, Kileab tidak pernah disebutkan lagi, Absalom dibunuh Yoab), untuk memperebutkan takhta Israel. Makanya, pesan pertama Daud adalah supaya Salomo kuat dan berani, karena jalannya tidak akan mulus (2). Dalam aa.5-9 ada daftar orang yang menurut Daud perlu dibereskan. Itulah yang dilakukan Salomo dalam 2:13-46 (dengan tambahan Adonia serta beberapa pendukungnya) sehingga kerajaannya kukuh (“kokoh”, 2:12 & 46 merupakan inklusio). Makna dari konteks yang kurang enak bagi kita manusia modern ini akan dibahas di bawah.

Aa.3-4 merupakan satu kalimat. Intinya adalah pesan untuk melakukan kewajibannya dengan setia kepada Tuhan. Tuhan (YHWH) adalah Allahnya; artinya, Tuhan tidak berada untuk dia, tetapi sebaliknya dia diangkat sebagai raja untuk melakukan berbagai tugas bagi Tuhan. Cara kewajiban itu dilakukan diuraikan dengan serangkaian frase yang biasa untuk menggambarkan ketaatan. Istilah-istilah ini merujuk pada hal yang sama, yaitu, apa “yang tertulis dalam hukum Musa”, tetapi masing-masing melihat hukum Musa dari perspektif yang berbeda. “Jalan” (derek) menunjukkan bahwa hukum Musa memberi umat Allah pola hidup yang memiliki tujuan. “Ketetapan” (khuqah, dari kata dasar khqq yang berarti mengukir) menyiratkan bahwa hukum itu tidak berubah-ubah. “Perintah” (mitswah) menyiratkan bahwa Tuhan yang menyuruh umat-Nya. “Peraturan” (misypat) berasal dari kata syapat yang berarti mengadili atau memerintah. Sebagian peraturan dalam Hukum Taurat bersifat kasuistik, berdasarkan keputusan Allah terhadap kasus tertentu (mis., Bilangan 36). Hukum Tuhan berfungsi untuk mengatur umat-Nya dengan baik, mencegah kekacauan. “Ketentuan” (‘edut) mengandung unsur kesaksian. Dalam konteks perjanjian Allah dengan Israel, ketentuan merupakan bagian Israel merespons keselamatan Allah. Hukum Musa, dilihat dari berbagai perspektif, menjadi pedoman bagi raja Israel dalam menunaikan tugasnya sebagai raja.

Kemudian, ada dua tujuan, yang pertama masih dalam a.3, yang kedua dalam a.4. Tujuan pertama adalah sukses. Kata “beruntung” merujuk pada hasil kejelian, kejelian yang diasah oleh hukum Musa itu. Tujuan kedua menyangkut rencana Allah. Janji kepada Daud (2 Sam 7) tentang selalu ada keturunannya di takhta kerajaan Israel itu bersyarat, yaitu ketaatan raja “dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa” (bdk. Ul 6:5). Dalam perjanjian Allah dengan Daud tentang kerajaan, raja menjadi contoh utama ketaatan umat Allah. Jadi, ketaatan Salomo adalah cara dia mengambil bagian dalam rencana Allah.

Maksud bagi Pembaca

Maksud Daud kepada Salomo adalah supaya dia menjadi raja yang sejati. Dasarnya adalah hukum Musa, prakteknya dalam konteks perebutan kuasa termasuk tindakan tegas terhadap berbagai pemberontak.

Pembaca (Israel pasca-pembuangan) dituntun untuk menantikan raja yang taat, yang memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan, sambil pembaca juga menerapkan hukum itu. Bagi kita, Raja itu telah datang, dan memperlihatkan dan menafsir hukum Musa dengan sempurna sehingga janji Allah digenapi, karena Kristus telah menjadi Raja kerajaan Allah selama-lamanya. Di dalam Kristus, kita juga diajak untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, mengambil bagian kita dalam rencana Tuhan.

Makna

Saya menafsir aa.3-4 sebagai pesan kepada Salomo, yang dapat dilihat sebagai raja Israel, sehingga pesannya dapat dilihat sebagai model untuk Mesias, yaitu Kristus. Jadi, baru di dalam Kristus kita melihatnya sebagai pesan untuk kita.

Mengapa saya mengambil cara yang begitu repot? Mengapa Salomo tidak ditafsir langsung sebagai contoh orang beriman? Ada tiga alasan yang muncul untuk sementara.

1) A.4 tidak jelas khusus untuk keturunan Daud. Andaikan, misalnya, kita semua mau dianggap raja kecil dalam keluarga, pelayanan atau tempat kerja, tidak ada janji yang menyangkut anak-anak laki-laki kita menggantikan kita dalam posisi itu. Anak-anak kita tidak akan menjadi kepala kantor kita, tidak akan menggantikan kita sebagai bendahara kelompok anu. Tetapi mungkin kita mencari janji yang sejajar, misalnya, janji keselamatan (bkd. Kis 2:39, “kepada anak-anakmu”). Jadi, janji kepada Salomo diartikan sebagai janji kepada orang yang percaya kepada Kristus. Bagaimana? Justru itu yang mau saya jelaskan di atas. A.4 adalah janji bahwa rencana keselamatan Allah itu terjamin, sehingga kita boleh menerima janji keselamatan dalam Kristus dengan keyakinan penuh.

2) Aa.3-4 adalah janji bersyarat. Syaratnya menyangkut bukan bagaimana mendapatkan janji itu melainkan bagaimana tetap menikmatinya. Syarat itu juga bukan soal hidup tanpa pernah berdosa melainkan hidup dengan hati terarah kepada Allah. Apakah keturunan Daud memenuhi syarat itu? Tidak, para raja rata-rata menuntun umat Israel untuk membelakangi Allah, makanya Israel dibuang dan akhirnya menantikan Mesias yang akan memenuhi syarat itu. Apakah kita memenuhi syarat itu? Juga tidak, makanya kita lari kepada Sang Mesias Yesus yang telah menjadi manusia taat itu. Di luar Kristus, khotbah kita terancam jatuh ke dalam moralisme (kalian harus berusaha lebih keras berbuat baik, karena jelas kurang selama ini) atau kelonggaran (dikatakan “dengan segenap hati dan jiwa”, tetapi pokoknya ada usaha sedikitlah). Di dalam Kristus, aa.3-4 menjadi prinsip kita karena itulah jalan yang ditempuh Kristus sendiri, dan kita mengikuti-Nya dalam kuasa Roh Kudus dengan terus-menerus disegarkan oleh pengampunan atas kekurangan kita. Kristus, keturunan Salomo, yang telah memenuhi syarat itu, sehingga kita dapat menuju ketaatan itu dalam suasana anugerah, bukan ketakutan.

3) Salomo adalah bagian dari rencana Allah yang bertujuan, bukan contoh prinsip keagamaan yang statis. Dalam keagamaan statis (seperti agama-agama suku), dunia paling riil adalah dunia mitos yang tidak pernah berubah, dan manusia mengikuti pola nenek moyangnya dalam menerapkan pola kekal itu. Dalam Alkitab, Allah memiliki rencana sehingga cara-Nya dengan manusia berkembang dari zaman ke zaman. Dalam keagamaan statis, para dewa pelindung bertugas untuk menjamin kesuburan tanah, hewan dan manusia. Dalam Alkitab, manusia berada untuk rencana Allah, bukan sebaliknya. Aa.3-4 bukan suatu petunjuk tentang pemali (tabu) kristiani—lakukan ini supaya beruntung dan tidak kena malapetaka, melainkan salah satu tahap dalam rencana Allah untuk memulihkan dunia dari segala malapetaka dan dosa.

Pada hemat saya, mengajarkan rencana Allah akan membangun iman, sehingga ada landasan yang kuat untuk ketaatan yang bertahan, karena bahkan pada waktu kita susah atau gagal, rencana Allah tetap berlaku. Juga, kita akan taat bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk menjadi bagian dalam apa yang dilakukan Allah, sesuatu yang jauh lebih hebat, agung dan besar daripada kepentingan pribadi, karena menyangkut Allah.

Tentu, ketaatan tetap pokok dalam perikop kita, dan kelima istilah dalam a.3 dapat diartikan dalam terang Yesus. Jelas Yesus menunjukkan jalan hidup. Kemudian, Dia tidak mengubah hukum Taurat yang terukir itu, tetapi memberinya makna baru sehingga penerapannya tidak selalu sama dengan Israel, tetapi prinsipnya sama. Dia memiliki otoritas Allah dalam menyuruh para murid-Nya. Banyak ajaran-Nya disampaikan melalui kasus, seperti perempuan dalam Yohanes 8 dan sebagian cerita mujizat, yang selalu membawa orang kepada kehidupan yang lebih teratur. Seluruh riwayat hidup-Nya, sampai kematian dan kebangkitan-Nya, menjadi kesaksian tentang kemanusiaan yang sejati. Lebih lagi, di dalam Yesus kita melihat bahwa Allah tidak hanya menyuruh, tetapi Allah sendiri telah menempuh jalan itu. Apakah hidup kita terarah, konsisten, jelas taat kepada Allah, teratur, dan membawa kesaksian?

Akhirnya, sedikit tentang cara Daud dan Salomo berkuasa. Alkitab bukan tidak kritis terhadap Daud & Salomo, misalnya, 1:6 mempersalahkan cara Daud mendidik anaknya Adonia, dan kemungkinan p.2 ini mau menyampaikan bahwa Salomo melebihi mandat ayahnya dan mulai menjadi seperti raja-raja di sekitarnya (bdk. 1 Sam 8:10-18 yang banyak digenapi pada zaman Salomo). Namun, perlu diingat bahwa pada saat itu tidak ada pembagian kuasa antara eksekutif dan pengadilan. Raja merangkap semuanya. Hanya Taurat sebagai undang-undang yang membatasinya. Jadi, kita perlu memahami p.2 dalam rangka keadilan (mis., 2:9a): raja Daud menyampaikan beberapa vonis yang kemudian diterapkan oleh Salomo. Bahwa sistem modern lebih aman, tidak saya ragukan. Tetapi, kritik kita terhadap gaya Daud dan Salomo akan lebih meyakinkan andaikan kita menjalankan disiplin gerejawi dengan lebih tegas. Disiplin gerejawi adalah cara dalam Perjanjian Baru untuk menangani kejahatan yang mengancam kesucian umat Allah, sejajar dengan menghukum penjahat dalam Taurat. Tetapi karena kita terlalu memanjakan balok-balok dalam mata kita sehingga tidak mau dikeluarkan, kita tidak pernah sampai mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita (Mt 7:5—ternyata Yesus tidak membayangkan bahwa tidak menghakimi akan ditafsir sebagai membiarkan dosa). Walaupun saya tetap tidak seluruhnya nyaman dengan cara Daud dan Salomo, ketegasan mereka perlu saya pelajari.

Pos ini dipublikasikan di 1 Raja-raja dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s