Fil 3:1-16 Supaya Memperoleh Kristus (22 Januari 2012)

Kesaksian Paulus dalam perikop ini luar biasa, dan bentuknya menantang dua kesalahan umum dalam menafsir. Kesalahan pertama mencari kebenaran teologis yang kemudian menjadi rumusan umum, padahal kita melihat bahwa dampaknya sangat besar pada seluruh hidup Paulus. Kesalahan kedua terbalik. Kebenaran teologis dianggap kulit saja, yang penting adalah suatu pengalaman iman. Tetapi pengalaman Paulus adalah berjumpa dengan Kristus yang sungguh telah bangkit, sehingga dia diterima (dibenarkan) dengan cuma-cuma, dan mengikuti pola hidup yang terpola oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Teologi Alkitabiah semestinya begitu. Kita memang mau menarik kebenaran teologis dari perikop ini, bukan hanya pengalaman pribadi Paulus. Tetapi kebenaran itu hanya berguna bila kita juga mau memperoleh Kristus yang lebih mulia daripada segalanya.

Penggalian Teks

Setelah bercerita tentang Injil, dalam 3:1 Paulus memulai nasihatnya dengan seruan untuk bersukacita. Hal itu dilanjutkan dalam 4:1, setelah penguraian p.3. Oleh karena itu, pasal ini dapat memberi kesan sebagai interupsi. Hanya, penjelasannya begitu jelas tentang pembenaran dan tujuan hidup sehingga anjuran untuk bersukacita justru terasa lebih berdasar.

Dalam p.3 ini Paulus menanggapi kelompok yang dia sebut sebagai “penyunat palsu” (2). Kata yang dia pakai, katatome (pemotongan sampai hancur), merupakan sindiran terhadap kata peritome, sunat. Mereka memotong daging, tetapi menghancurkan orangnya. (Tidak disepakati antara para pakar, dan tidak terlalu penting, apakah kelompok ini adalah orang Yahudi yang melawan Injil seperti dalam 1 Tes 2:15, atau orang Kristen yang mau memaksakan sunat kepada orang-orang non-Yahudi seperti dalam kitab Galatia.) Paulus langsung membandingkan mereka dengan jemaat (3). Jemaatlah yang layak menyandang berbagai sifat yang mencirikan umat Allah. Jemaatlah yang disunat dalam hati (Rom 2:28-29), yang didiami oleh Roh Kudus sehingga merupakan Bait Allah (tempat ibadah) yang sebenarnya, yang bermegah bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat dan tidak makan daging babi, melainkan dalam Kristus.

Dalam aa.18-21 Paulus akan kembali membandingkan kedua kelompok ini secara lebih dalam, setelah dalam aa.4-16 dia menyampaikan kesaksian hidupnya untuk diperhatikan (17). Kesaksian itu disampaikan dalam tiga tahap. Aa.4-6 menceritakan hidupnya yang dahulu dalam hukum Taurat, aa.7-10 perubahan setelah berjumpa dengan Kristus, dan aa.12-16 sikap melihat ke depan karena Kristus itu.

Dalam aa.4-6 Paulus mendaftar berbagai hal yang menjadi andalan untuk membuktikan keanggotaan dalam umat Allah. “Hal-hal lahiriah” menerjemahkan kata sarx yang berarti daging, di sini dalam artian apa yang kelihatan di depan semua (bdk. 1 Sam 16:7). Di sini sunat dan keturunan adalah langsung soal daging, tetapi keanggotaan dalam sekte Farisi juga merupakan sesuatu yang jelas dapat diandalkan sebagai bukti bahwa dia adalah bagian dari umat yang berkenan di hadapan Allah. Lebih lagi, Paulus membuktikan sikapnya terhadap Allah dengan menganiaya jemaat. “Kegiatan” menerjemahkan kata zelos yang menunjukkan suatu perasaan yang sangat kuat terhadap sesuatu, bisa rasa cemburu atau minat dan perhatian. Pinehas yang menjadi contoh utama zelos itu, ketika ia membunuh orang yang sedang berdosa sehingga rasa cemburu (zelos) Allah terhadap umat Israel yang sedang mengamuk itu berhenti (Bil 25:11). Paulus juga konsekuen, sama seperti Pinehas. Menganiaya orang harus tega, tetapi demi hormat Allah Paulus berani. Bahkan, dalam segala sesuatu Paulus pra-Kristus merasa menaati Hukum Taurat tanpa cacat. Hal itu tidak berarti bahwa dia merasa tidak pernah berdosa, hanya bahwa dia konsekuen dalam memperhatikan aturan-aturan Hukum Taurat, mempersembahkan kurban jika ada dosanya, dan mendapat bagian dalam penghapusan dosa umum pada Hari Pendamaian (Imamat 16). Ringkasnya, kelayakannya sebagai anggota umat Allah jelas di depan Allah maupun manusia.

A.7 mulai dengan kata “tetapi”, yang diulang dengan lebih keras pada awal a.8 (“tetapi sebaliknya”, LAI “malahan”). A.7 menyatakan intinya, perubahan sikap terhadap keuntungan lama karena Kristus. A.8 mempertegas semangat itu. Alasan karena Kristus diperjelas sebagai pengenalan akan Kristus. Tentu, ketika Paulus berjumpa dengan sosok yang harus disapa “Tuhan” (kurie), yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Yesus, menganiaya jemaat terungkap sebagai dosa besar. Tetapi bukan hanya dosa itu tetapi semua yang lain, yang tidak bersifat dosa, dianggap bukan hanya rugi melainkan sampah. Mengenal Kristus tidak hanya mengungkapkan kesalahannya, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih mulia ke dalam hidupnya.

Makanya, mulai akhir a.8 sampai a.11 Paulus menjelaskan orientasi hidupnya yang baru, yaitu “supaya memperoleh Kristus” yang mulia itu. Memperoleh Kristus menyangkut pintu masuk dan proses. Pintu masuk, “berada dalam Dia”, adalah pembenaran oleh iman (9). Paulus telah meninggalkan cara lama, yaitu kebenaran yang melekat pada orangnya karena dia taat kepada Hukum Taurat, seperti Paulus pada akhir a.6. Kebenaran itu merujuk pada berbagai ciri yang nampak bagi manusia dan Allah sebagai bukti kelayakan sebagai anggota umat Allah yang diterima Allah. Tetapi sekarang kebenaran Paulus itu “karena kepercayaan kepada Kristus”, dan berasal dari Allah bagi orang yang percaya. Satu tafsiran lagi untuk “karena kepercayaan kepada Kristus” adalah “melalui kesetiaan Kristus”; tafsiran itu membuat jelas bahwa kelayakan ada bukan pada orangnya melainkan pada Kristus. Dari satu segi, pencarian Paulus tidak berubah; dia mau berkenan kepada Allah. Tetapi caranya berubah drastis. Dia menerima kebenaran itu sebagai anugerah dengan percaya kepada Kristus. Dengan demikian, semua bukti lama akan penerimaan Allah tidak lagi berarti.

Tetapi pembenaran itu hanya landasannya. Memperoleh Kristus juga berarti mengenal-Nya, dan dalam aa.10-11 kematian dan kebangkitan Kristus menjadi kerangkanya. Kebangkitan Kristus dikenal dalam bentuk kuasa dalam kehidupan Paulus. Hal itu mungkin termasuk mujizat (bdk. Gal 3:5), pasti termasuk kuasa Injil mengubah kehidupan orang (Rom 1:16), dan juga termasuk kuasa untuk bertahan dalam penderitaan (2 Kor 4:7-11). Pada titik terakhir itu persekutuan dengan Kristus mencapai titik paling kenal (10). Melalui kuasa yang dialami dalam kesusahan, Paulus menjadi serupa dengan kematian Kristus, artinya, Paulus menjadi sosok yang mencari kemuliaan melalui kerendahan (2:6-11) dan kuasa dalam kelemahan (2 Kor 12:9). Dengan demikian, Paulus akan ikut dibangkitkan (11). Dalam aa.20-21 menjadi jelas bahwa kebangkitan itu menjadi puncak kemuliaan dan persekutuan dengan Kristus.

Dalam aa.12-14 Paulus menjelaskan sikapnya terhadap tujuan yang mulia itu. Karena dasarnya adalah anugerah, “aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (12), Paulus tidak pusing dengan kekurangan masa lampau, tetapi tetap mengejar pengenalan akan Kristus itu, yang disebut sebagai panggilan sorgawi karena Kristus ada di sorga dan akan datang dari sana pada saat kebangkitan (21). Dalam aa.15-16 Paulus menerima perbedaan tingkat kedewasaan (“sempurna” berarti dewasa dalam konteks a.15). Yang penting bukan apa yang telah tercapai (itulah cara hukum) melainkan arah hidup yang ingin mengenal Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Filipi tidak mundur dengan jatuh ke dalam cara kebenaran diri sendiri melainkan maju di dalam pengenalan akan Kristus. Orang di Filipi diperhadapkan dengan Taurat sebagai cara untuk mamasang hal-hal lahiriah sebagai bukti nyata dari status sebagai anggota umat Allah. Reformasi melihat bahwa hal-hal gerejawi dapat berfungsi demikian juga. Orang mengandalkan status sebagai pastor atau biarawan, persembahan yang dianggap membeli pengurangan waktu di api penyucian untuk yang telah meninggal, atau kehadiran dalam ritus-ritus seperti misa, sebagai hal-hal nyata untuk membuktikan kelayakan sebagai anggota jemaat. Tetapi gereja-gereja reformatoris tidak luput dari masalah itu. Begitu sebuah gereja menjadi mapan, orang akan mencari hal-hal nyata yang menjadi andalan sebagai ganti mengenal Kristus. Hal itu selalu ada kemunduran, sedangkan Kristus yang mulia jauh lebih layak menjadi landasan dan tujuan hidup orang percaya.

Makna

Pembenaran oleh iman mengandaikan konteks pengadilan. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus pada akhir zaman (Rom 14:10; 2 Kor 5:10). Dasar pengadilan itu adalah perbuatan, apakah orang mencari kemuliaan atau kepentingan diri sendiri (Rom 2:6-8). Dosa bisa berbentuk pemberhalaan (orang-orang kafir dalam Rom 1:18-25) atau kemunafikan (orang-orang Yahudi dalam Rom 2:17 dst). Pembenaran adalah keputusan “tidak bersalah” dari Hakim. Pembenaran oleh iman kepada Kristus berarti bahwa kematian Kristus yang dipercayai menjadi dasar keputusan “tidak bersalah” itu. Penting diamati bahwa selalu 3:10-11 menyusul 3:9, artinya, pembenaran dikaitkan dengan pertobatan, Yesus diterima sebagai Juruselamat dan juga sebagai Tuhan (kurios = tuan, penguasa). Tetapi perubahan hidup terjadi karena perubahan hati. Bagi Paulus, Yesus menjadi lebih mulia dari segala yang lain. Makanya, dia menerima penderitaan yang luar biasa dalam rangka pelayanan oleh karena persekutuan dengan Kristus yang ada di dalamnya.

Dalam gereja yang sudah mapan, ada banyak hal-hal lahiriah yang dapat membuat kita giat mendukung gereja itu, seperti Paulus dahulu. Kita memiliki surat baptisan dan sidi, sehingga dapat diberkati dan menerima surat nikah. Gereja Toraja (tempat saya melayani) adalah salah satu gereja suku, sehingga menjadi wadah untuk menyatakan kesukuan. Untuk warga gereja yang suka main aturan, tata gerejanya tebal dan—katanya—lebih mudah dimengerti daripada Alkitab. Kegiatan warganya memang bukan menganiaya, melainkan serangkaian kebaktian serta rapat, cukup untuk seseorang merasa bahwa dia berjasa untuk Tuhan. Di mana Kristus di dalam semuanya itu? Jika ditanya, Apakah tujuan hidup saudara adalah memperoleh Kristus?, berapa warga jemaat yang akan bingung saja? Tidak semua, puji Tuhan. Tetapi sebagai pelayan kita kadang-kadang kecolongan. Kita melihat kesibukan jemaat dan merasa puas, padahal akarnya belum tentu Kristus. (Perhatikan bahwa pola itu bukan kesalahan kemapanan gereja melainkan kesalahan orang-orang di dalamnya. Sukses selalu membawa bahaya pengandalan diri.)

Tentu, introspeksi itu harus mulai dengan diri sendiri. Dalam persiapan, saya tergelitik dengan frase “supaya memperoleh Kristus”. Dalam perikop ini, Paulus bukan teladan hidup etis melainkan teladan penerimaan anugerah yang mencetuskan tujuan baru, yaitu mengenal Kristus. Sejauh saya dapat menangkap ajaran Paulus, itulah intisari keteladanan Injili. Bukan, “lihatlah betapa baik hidup saya”, melainkan, “lihatlah betapa berharga Kristus”. Saya dapat membayangkan pengkhotbah yang mencari-cari penerapan “praktis” dari perikop ini, tetapi dampak dari perikop ini semestinya adalah penyegaran iman. Dengan demikian, banyak hal praktis akan dilakukan, tetapi atas dasar yang kokoh, yaitu karena Kristus lebih mulia dari segalanya.

Apa kemuliaan Kristus? Pertama, pengorbanan-Nya sehingga ada pembenaran oleh iman. Secara paradoks, pengorbanan itu menyangkut hal yang paling hina, yaitu mati pada salib (2:8). Tetapi, Kristus juga dibangkitkan dan diberi nama di atas segala nama (2:9). Paulus berjumpa dengan Dia dengan “tubuh-Nya yang mulia” itu (3:21). Jadi, ada dua segi, penderitaan dan kemuliaan. Pada hemat saya, hal yang paling sulit diterima dalam budaya apa pun adalah berita bahwa kedua segi itu tidak dapat dipisahkan. Yesus yang mulia sepadan dengan banyak konsep ilahi, seperti dewa pelindung atau leluhur yang menjadi ilahi dan membawa berkat. Tetapi bahwa Dia menunjukkan jalan ke sana itu melalui disalibkan—itulah yang tidak diterima banyak orang, termasuk orang Kristen. Tetapi apa lagi yang diharapkan—seperti kejujuran menghadapi korupsi, atau pelayanan yang merugikan pelayan—jika salib belum siap dipikul? Kemudian, untuk apa salib dipikul, kecuali untuk mengenal Kristus yang disalibkan itu?

Pos ini dipublikasikan di Filipi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s