2 Pet 1:3-11 “Mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (5 Feb 2012)

Perikop ini sangat kaya, baik dalam teologinya dalam aa.3-4 dan aa.8-11, tetapi juga dalam daftar sifat-sifat manusia yang perlu dikembangkan dalam aa.5-7. Kala memberitakannya, kita bisa menjadi asyik membahas rencana Allah, atau membahas pertumbuhan karakter manusia, tetapi adalah penting bahwa keduanya mendapat tempat, karena saling mengisi. Bahkan, pada akhir bagian makna, saya mencatat bagaimana khotbah bisa beranjak dari aa.5-7 saja (cocokkah untuk jemaat yang konon berpikir praktis?), untuk menunjukkan bagaimana etika dan teologi saling menopang. Jika “buta dan picik” menggambarkan perasaan Pembaca tentang sebagian gereja sekarang, perikop ini akan membawa banyak hikmat.

Penggalian Teks

Dalam bagian salam (aa.1-2) Petrus telah menyinggung dua aspek dari para pendengar surat ini.[1] A.1 mencirikan penerima surat sebagai orang beriman. Iman adalah cara menjadi bagian dari “keadilan” Allah, yaitu, niat-Nya untuk memulihkan (sebagai “Juruselamat”) dunia ini. Hasil iman adalah “kasih karunia dan damai sejahtera” (a.2), yang dialami “oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus”. Pengenalan akan Allah dan Yesus adalah wadah yang di didalamnya kita akan mengalami anugerah dan damai sejahtera. Banyak isi dari surat ini akan membahas berbagai ancaman terhadap damai sejahtera ini dari ajaran yang sesat, tetapi dalam p.1 Petrus menyampaikan pola yang benar. Dasarnya, apa yang diimani, adalah kesaksian para rasul dan nabi-nabi (1:12-21).

Tetapi yang pertama diuraikan dalam perikop kita ialah pengenalan yang membawa kepada keselamatan. Pengenalan akan Kristus dibahas dalam aa.3-9 dalam rangka hidup yang berhasil (perhatikan bahwa kata pengenalan dipakai dalam a.3 dan a.8). Dalam aa.10-11 Petrus berfokus kembali pada tujuannya, yaitu memasuki Kerajaan kekal yang untuknya kita dipanggil. Strukturisasi itu membuat kiasmus dengan bagian salam: A) Keselamatan (a.1); B) Pengenalan (a.2); B’) Pengenalan (aa.3-9); A’) Keselamatan (aa.10-11). Tetapi ada strukturisasi yang lain yang beranjak dari kata “sungguh-sungguh” (mewakili kata dasar spoud-) dalam a.5 dan a.10, dan melihat bahwa a.4 juga menyangkut tujuan hidup: A) Pengenalan dan Panggilan (aa.3-4); B) Mengusahakan pengenalan akan Kristus (aa.5-9); C) Mengusahakan panggilan Kristus (aa.10-11). Jika Pembaca (maksudnya, Anda sebagai Pembaca blog) berusaha menangkap dan membandingkan kedua struktur ini, Pembaca akan terhindar dari tafsiran yang dangkal dan melupakan Tuhan. Aa.5-7 yang berbicara tentang pengembangan karakter terletak dalam rencana Tuhan untuk dunia. Etika berakar dalam teologi (etos dalam mitos, untuk Pembaca yang biasa dengan bahasa seperti itu).

Aa.3-4 menonjol karena istilah “ilahi”. “Kuasa ilahi” Allah/Yesus bermuara pada “bagian dalam kodrat ilahi”. Untuk menangkap maksud Petrus, kita perlu mengamati bahasanya. Dalam a.3, tujuannya “hidup yang saleh”.[2] Tujuan itu hanya dimungkinkan dengan “segala sesuatu yang berguna”, yang sumbernya adalah kuasa ilahi dan salurannya adalah pengenalan akan Allah/Yesus. Kata “pengenalan” menerjemahkan epignosis yang berarti pengetahuan yang dalam. Kesalehan kristiani terjadi bukan dengan mengetahui berbagai hal tentang Allah, tetapi dengan menjadi mengenal Allah. Bagaimana kita mengenal Allah? Karena Dia telah memanggil kita. Hal itu terjadi “oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib”. Secara harfiah, frase itu berarti “dengan/oleh kemuliaan [doxa] dan kebajikan yang mengagumkan [arete]”. Kata arete memang dapat dipakai untuk mujizat, sebagai suatu kebajikan yang mengagumkan, tetapi fokusnya tetap pada unsur kekaguman bukan kuasa. Jadi, baik kata doxa maupun arete mengarah kepada kehormatan yang melekat pada Allah/Yesus sehingga kita menerima panggilan-Nya untuk beriman kepada-Nya. Walaupun kemuliaan Allah dilihat dalam ciptaan-Nya, Petrus hampir pasti merujuk pada kemuliaan Allah sebagaimana dilihat dalam kehidupan Yesus, seperti dia ceritakan dalam 1:16-18, dan sesuai dengan tekanan pada Yesus dalam 1:1-2,[3] Yesus memungkinkan orang percaya untuk mengenal Allah secara dalam, sehingga ada kuasa ilahi yang dilepaskan dalam kehidupannya, sehingga hidup mereka tampil saleh.

Tetapi kesalehan bukan tujuan akhir bagi manusia di dalam Kristus. Dalam a.4, “dengan jalan itu”, artinya, melalui (dia + genitif) doxa dan arete Yesus itu, Allah juga menyampaikan janji-janji-Nya. Janji-janji itu juga sangat layak dihormati, karena “berharga” dan “sangat besar”. Melalui janji-janji itu, kita sampai pada mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Frase itu memakai bahasa yang lazim pada zaman itu untuk menyatakan harapan bahwa jiwa akan luput dari dunia yang kotor atau fana ini dan mencapai kesempurnaan di dunia surgawi (dipahami sebagai dunia yang di luar lingkaran bulan). Pemahaman tradisional budaya Toraja tidak jauh beda: seorang leluhur yang sudah diupacarakan dengan tepat menjadi semacam dewa sehingga menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Tetapi maksud Petrus lain. Masalah dengan dunia bukan kefanaannya melainkan dosa, “nafsu duniawi yang membinasakan dunia”. Kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi dengan menjadi makin seperti Yesus, Allah dan Juruselamat kita. Dengan kata lain, kita tidak luput dari kemanusiaan dengan menjadi ilah, tetapi kita luput dari dosa sehingga menjadi suci. Hal itu terjadi karena di dalam Yesus kita mengenal Allah, dan dikuatkan oleh janji-janji Injil sehingga kita makin seperti Yesus.

Dalam aa.5-7 Petrus mendaftar serangkaian sifat yang akan mempraktekkan pemahaman tersebut. Iman adalah dasarnya, dan kasih adalah hasilnya. Di antaranya, Petrus menyebut kebajikan (arete kembali), yaitu, sifat-sifat yang layak dihormati, serta pengetahuan. Kedua hal itu adalah bagian dari kedewasaan umum, tetapi dibangun kembali atas dasar iman. Dengan kedua hal itu kita dimampukan menguasai diri, baik dalam menghindar dari hawa nafsu yang tidak baik, maupun dalam bertekun dalam penderitaan. Dengan demikian, kita akan menunjukkan sikap dan tingkah laku yang cocok sebagai orang yang taat kepada Allah. Di atas itu, Petrus melihat sifat utama yang mencirikan orang percaya, yaitu, kasih, dilihat dari perspektif kasih di dalam persekutuan, dan kasih akan semua orang (“akan semua orang” adalah tambahan dari LAI, tetapi cocok dalam konteksnya). Perlu diingat bahwa daftar ini tidak berdiri sendiri, tetapi terdapat dalam pembahasan tentang kuasa ilahi dan janji sebagai sumber dan dasar iman.

Aa.8-9 memberi motivatsi dengan menawarkan dua akibat, yaitu berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus, atau menjadi buta dan picik. Frase “dengan berlimpah-limpah” merujuk pada aa.5-7 sebagai proses. Sifat-sifat itu tidak jadi dengan tiba-tiba, dan juga tidak jadi satu per satu, tetapi akan berkembang bersama. Karena selalu berkembang, kita selalu segar dalam hidup beriman kita. Pengenalan akan Yesus tidak mandek, tetapi mengalir ke dalam seluruh kehidupan dan relasi kita. Alternatifnya buta dan picik. Dari akhir a.9, adalah jelas bahwa Petrus tidak melihat keselamatan itu bergantung pada keberhasilan dalam pertumbuhan, karena dosanya tetap dihapuskan. Hanya, dia melihat kehidupan yang picik itu sebagai akibat bahwa penghapusan itu tidak diingat dan tidak menjadi landasan kehidupan seseorang. Kembali kita melihat bahwa bagi Petrus, sumber perubahan hidup adalah anugerah Allah, usaha manusia adalah respons belaka.

Aa.10-11 melihat lebih luas, yaitu pada rencana keselamatan Allah. Usaha dalam aa.5-7 akan membuat panggilan dan pilihan Allah akan kita makin teguh–bukan bagi Allah, melainkan bagi kita sendiri, karena perubahan hidup sudah nyata. Kita akan kurang rentan digoyang oleh pencobaan dan tantangan. Terjemahan a.11 agak sulit. Kata kerja utama yang diterjemahkan “dikaruniakan” (epikhoregeo) adalah sama dengan kata kerja yang diterjemahkan “menambahkan” dalam a.5. Kata itu dipakai untuk pemberian, khususnya dalam rangka membekali atau membiayai. Dalam a.5, iman ibarat rumah yang masih kosong yang harus dibekali dengan berbagai sifat yang lain. Dalam a.11, yang dibekali adalah kita, dan kita dibekali dengan hak memasuki Kerajaan kekal. Hak di sini berarti izin yang dikaruniakan, bukan hak karena layak secara hukum. Bekal yang kita tambahkan pada iman kita dibalas dengan bekal untuk masuk ke surga, bukan sebagai upah tetapi karena Kerajaan itu makin menjadi kerinduan dan tujuan kita.

Maksud bagi Pembaca

Di hadapan berbagai tantangan, termasuk ajaran sesat, Petrus mau mempersiapkan para penerima surat supaya mereka mengambil bagian yang berguna dalam rencana keselamatan Allah. Pengenalan akan Kristus yang mulia memungkinkan kuasa Allah mengubah kehidupan kita sehingga usaha yang tepat dalam perkembangan karakter berhasil, dan kita mencapai Kerajaan Kristus tanpa hambatan. Jadi, hasil yang diharapkan Petrus adalah perkembangan karakter. Untuk memotivasi tujuan itu, dia menjelaskan 1) bekal Allah berupa kuasa dan janji-janji; lalu 2) akibat, yakni: a) akibat sementara, berbuah atau picik, dan b) akibat kekal, tersandung atau masuk Kerajaan Tuhan dengan lancar.

Makna

Satu analisis dari lemahnya gereja di daerah seperti Toraja adalah bahwa etos budaya yang ditopang dengan kuat oleh mitos lama telah runtuh karena mitosnya runtuh, tetapi etos baru yang berakar dalam Injil belum menghasilkan etos budaya yang baru. Dulunya, konon, orang Toraja rata-rata saleh, patuh terhadap nilai-nilai yang dilindungi oleh adat dan tabu (aluk sola pemali). Kedatangan kekristenan serta modernisasi merongrong kepercayaan lama, sehingga banyak tabu dan nilai lama tidak lagi kuat, tetapi Injil belum ditangkap dengan jelas untuk menopang nilai-nilai baru (yang dalam banyak hal akan mirip dengan nilai lama, hanya memang akan lebih fleksibel untuk dunia modern).

Makanya, saya tertarik untuk melihat sejauh mana aa.5-7 dapat dikaitkan dengan Injil. Ayat-ayat itu jelas terletak dalam konteks Injil, tetapi sejauh mana sifat-sifat itu masing-masing dapat dilihat berakar dalam Injil? Yang saya temukan, seluruh perikop dapat disampaikan beranjak dari ayat-ayat ini. Yang pertama, iman, jelas berarti iman kepada Kristus. Iman adalah respons kita terhadap panggilan Allah (a.3), dan aa.5-7 menunjukkan bagaimana caranya panggilan Allah dapat diteguhkan (a.10). Kebajikan kita akan mencontoh kebajikan (arete) Yesus yang dipakai Allah untuk menarik kita kepada Kristus; kita mau menjadi seperti Kristus yang mulia itu (a.3). Pengetahuan jelas termasuk pengetahuan akan Injil Kristus; bagaimana mengenal Kristus (aa.3, 8) jika pengetahuan isi Alkitab sangat minim? Penguasaan diri jelas menjadi lebih menantang dalam iman kepada Kristus ketimbang budaya Yunani pada umumnya ataupun budaya lama Toraja, karena motivasi dan pikiran juga harus dikendalikan, bukan hanya tindakan dan perasaan yang meluap. Tetapi karena anugerah Allah dalam penghapusan dosa, dan dengan memandang kemuliaan Kristus, hawa nafsu duniawi tidak lagi terasa cocok, sehingga kuasa ilahi dicari untuk membangun keserupaan dengan Kristus dan luput dari hawa nafsu duniawi (a.4). Ketaatan kepada Allah juga menjadikan ketekunan lebih sering diperlukan. Namun, janji Allah (a.4) membuat ketekunan masuk akal, karena ada harapan yang mulia, yakni, bergabung dengan Kristus dalam Kerajaan-Nya (a.11). Hal-hal itu memungkinkan hidup yang saleh (a.3), karena kita tidak mudah terpeleset oleh nafsu dari dalam atau tekanan dari luar. Tetapi, kesalehan bukan hal terakhir. Di dalam kasih kita berbagi dalam kodrat ilahi dengan menjadi serupa dengan Kristus. Dari seluruh perikop, tinggal dijelaskan bahwa semua sifat-sifat ini adalah pemberian kuasa ilahi (a.3), dan akibatnya jika sifat-sifat ini diusahakan atau tidak (aa.8-11).

Satu pintu masuk untuk membicarakan soal itu adalah soal kemuliaan dalam a.3. Sebagian warga jemaat sangat asyik dengan kesemarakan upacara orang mati, jauh lebih asyik daripada Yesus yang mulia dan layak dikagumi. Sebagian yang lain asyik dengan harta benda, sebagian pemuda asyik dengan menjadi “keren”, dsb. Pokoknya, apa yang kita kagumi, yang kita anggap mengasyikkan, yang membuat hidup kita berarti dan tidak tawar, bagi Petrus adalah pertama-tama Yesus.

Melangkah lebih jauh dari maksud perikop, menarik untuk mengamati bahwa Petrus juga berpikir secara Tritunggal, jika “kuasa ilahi” merujuk pada kuasa Roh Kudus. Allah adalah sumber, pengenalan akan Yesus adalah sarana, dan Roh yang bekerja di tengah usaha kita. Kita juga dapat melihat ketiga “kebajikan teologis” di sini, yakni, iman, kasih dan pengharapan. Di sini pengharapan (aa.3, 11) adalah kerangka yang di dalamnya iman (a.5) bekerja dalam kasih (a.7).

[1] Ingat bahwa hanya segelintir orang yang dapat membaca, sebagian besar jemaat akan mendengarkan surat ini dibacakan dalam perkumpulan.

[2] Kesalehan (eusebeia) pada dasarnya menggambarkan sikap religius seperti terdapat dalam agama Yunani tradisional, dan juga agama/adat tradisional orang Toraja, yaitu, ketaatan yang teliti terhadap ritus dan tabu karena menghargai kuasa ilahi. Kata itu jarang ditemukan dalam terjemahan Yunani dari PL, karena kepada Allah yang esa penyerahan seluruh diri dituntut, bukan sekadar ketaatan terhadap berbagai aturan. Namun, dalam surat-surat Penggembalaan (1 Timotius – Titus) dan surat 2 Petrus, kata itu dipakai untuk menegaskan bahwa iman yang sejati akan kelihatan dalam tingkah laku. Iman kepada Kristus semestinya lebih efektif daripada keyakinan yang lain.

[3] A.1 adalah salah satu dari hanya beberapa ayat yang langsung menggelari Yesus “Allah” (theos). A.2 memakai pola yang lebih biasa, yaitu membedakan oknum Allah (theos) dengan Yesus sebagai Tuhan (kurios). Jadi, rujukan “Nya” dan “Dia” dalam a.3 bisa Allah atau Yesus. Ingat bahwa kurios dan theos bukanlah sinonim seperti Allah dan Tuhan. Theos adalah jenis–oknum yang ilahi, sedangkan kurios adalah jabatan, tuan atau yang dipertuan. Bahwa a.1 langsung menggelari Yesus sebagai Allah diperdebatkan, tetapi penyusunan kalimat persis sama dengan a.11 yang jelas hanya merujuk pada satu oknum, Yesus Kristus.

Pos ini dipublikasikan di 2 Peter dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s