1 Kor 5:1-13 “Pemurnian melalui pengucilan” (12 Feb 2012)

Disiplin gereja menjadi hal yang sangat sulit dalam dunia modern yang majemuk. Makanya, adalah penting untuk mengingat prinsip teologis yang ada di baliknya. Jemaat adalah bagian penting dalam rencana Allah, bahkan disebut tubuh Kristus. Jadi, pengucilan bukan suatu taktik praktis saja, melainkan salah satu cara kita bekerja sama dengan Allah. Sejauh mana hal itu belum ditangkap, disiplin gerejawi akan kacau dan rancu. Etika tanpa teologi adalah lumpuh.

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus bermasalah karena mengikuti hikmat duniawi yang terpesona dengan keagungan dan tidak berpatokan pada salib. Oleh karena itu, lemahlah identitas mereka sebagai tubuh Kristus, bait Allah yang kudus (3:16-17). Makanya, Paulus bertanya apakah dia harus datang kepada mereka dengan cambuk (4:21). Perikop kita adalah yang pertama dari tiga perikop di mana Paulus mengangkat contoh-contoh konkret dari kelemahan itu, dan mengingatkan jemaat tentang kebenaran tentang Allah dan Kristus (alias teologi) yang diingkari oleh tingkah laku mereka. Mulai dengan 7:1 kita belajar bahwa ada surat dari jemaat yang menanyakan berbagai hal, tetapi ternyata hal-hal dalam pp.5-6 justru tidak mereka tanyakan. Memang, masalah dosa yang berat jarang disingkapkan oleh jemaat sendiri, tetapi informasinya diperoleh melalui orang lain.

Perkaranya tidak diperinci dalam a.1, karena tentu sudah diketahui jemaat. Tetapi, hubungan mesra dengan ibu atau ibu tiri sama saja dikecam berat oleh semua budaya pada zaman itu, sama seperti yang dikeluhkan oleh Paulus. Dalam aa.2-5 dia berbicara tentang tindakan yang semestinya terhadap orang berdosa itu, yaitu pengucilan. Hal itu demi kebaikan orang tersebut (a.5), tetapi juga demi kesucian jemaat (aa.6-8). Dalam aa.9-13 Paulus membedakan sikap terhadap orang yang mengaku sebagai saudara dan orang-orang di luar.

Jemaat di Korintus sombong, dalam artian, memiliki penilaian diri yang terlalu tinggi (a.2). Bisa saja Paulus merujuk ke sikap mereka secara umum, tetapi jika 6:12 (“Segala sesuatu halal bagiku”) adalah moto mereka, bisa juga mereka bangga bahwa mereka bebas dari larangan-larangan sempit khalayak ramai. Soalnya, hal yang dilarang budaya-budaya itu juga dilarang oleh Tuhan (Im 18:6-8). Sebaliknya, semestinya mereka berdukacita karena adanya dosa itu dan mengeluarkan orang tersebut dari persekutuan mereka. Dalam aa.3-5 Paulus melakukan proses itu walaupun dari jauh. Dia menyatakan hukumannya, dan menyuruh mereka untuk berkumpul, dengan dia seakan-akan hadir dalam roh. Tujuan pengucilan adalah “agar rohnya diselamatkan”. Dengan berada di luar persekutuan jemaat, diharapkan bahwa dia akan sadar bahwa tindakannya membuat dia sama dengan seorang durhaka, supaya dia bertobat. Dengan dibiarkan di dalam persekutuan jemaat, dia menganggap bahwa tindakannya baik-baik saja.

Tiadanya disiplin di jemaat juga akan menyampaikan pesan yang sama kepada anggota-anggota jemaat yang lain. Kembali dalam a.6 Paulus mengecam sikap mereka. Mereka bermegah atas sesuatu yang semestinya dianggap memalukan, sehingga seluruh jemaat terpengaruh. Kiasan ragi yang mengkhamiri seluruh adonan dikembangkan dalam aa.7-8 dalam kaitan dengan Paskah. Ketika mau keluar dari Mesir, orang Israel menyembelih domba Paskah, yang kemudian dimakan bersama dengan roti tidak beragi, karena terburu-buru. Ketika Paskah dirayakan, orang Israel harus membuang seluruh ragi yang ada selama tujuh hari (Kel 13:7). Kristus adalah domba Paskah kita, dosa adalah ragi, dan jemaat adalah roti yang semestinya tidak beragi itu, sehingga dosa harus dibuang. Dosa disimpulkan sebagai “keburukan” dan “kejahatan”, kedua kata ini (kakia dan poneria) masing-masing dapat berarti kejahatan atau maksud jahat (mau merugikan). Sikap yang sesuai dengan pengorbanan Kristus disimpulkan sebagai “kemurnian dan kebenaran”. Kata “kebenaran” adalah aletheia, yang di sini merujuk pada perkataan yang benar dan tidak munafik.

Dalam aa.9-11 Paulus meluruskan tafsiran mereka akan sesuatu yang pernah dia tulis kepada mereka. Orang di luar persekutuan adalah urusan Allah (a.13). Tetapi persekutuan harus bertanggung jawab atas orang-orang di dalam. Daftar hal yang mencemarkan jemaat lebih luas daripada percabulan saja. Dalam a.10 orang kikir (pleonektes) adalah orang yang ingin lebih, penipu (harpax, dipakai untuk serigala dalam Mt 7:15) adalah orang yang merampas harta orang lain; kedua kata itu menggambarkan kelompok yang sama. Dalam a.11 Paulus menyisipkan pemfitnah dan pemabuk ke dalam daftar tadi. Orang cabul merusak tatanan keluarga, orang kikir dan penipu merusak tatanan harta, penyembah berhala merusak tatanan rohani, pemfitnah dan pemabuk merusak tatanan sosial. Allah akan bertindak terhadap perusakan itu di luar jemaat, tetapi jemaat adalah tubuh Kristus yang telah disucikan, sehingga jemaat diberi wewenang dan tanggung jawab untuk bertindak terhadap perusakan itu di dalam jemaat.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mengingatkan jemaat akan identitas mereka sebagai kelompok yang telah ditebus oleh Kristus, Paulus mau supaya mereka menjaga kemurnian jemaat dengan mengeluarkan orang yang dosanya mengancam jemaat, baik supaya orang berdosa itu bertobat, maupun supaya jemaat tidak terpengaruh. Dalam rangka itu, dia menegaskan wewenang mereka untuk mengambil keputusan, dan juga menguatkan pemahaman mereka tentang identitas jemaat.

Makna

Kata beberapa ahli bahwa pengucilan merupakan penerapan orang Yahudi terhadap perintah dalam Taurat untuk membunuh pelanggar berat. Hukuman itu jelas memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kedua di atas, yaitu menjaga kekudusan umat Allah. Dilihat dari seluruh cerita Alkitab, artinya sama. Adam dan Hawa dikucilkan dari Eden; Isreal dikucilkan dari tanah Israel; kedua peristiwa itu ibarat kematian karena dijauhkan dari hadirat Allah. Hanya, dikucilkan masih memberi kesempatan bagi yang dihukum untuk bertobat dan diampuni.

Masalahnya bahwa sebagian jemaat yang jatuh ke dalam dosa tidak merasa berbahaya ketika dikucilkan, antara lain karena selalu ada denominasi yang lain tempat mereka dapat beragama (dan banyak yang tidak mau bertobat namun tetap mau beragama). Jika anggota jemaat di Korintus dikeluarkan dari persekutuan, tidak ada denominasi lain yang bisa dia ikuti. Jadi, konteks sekarang merongrong tujuan pertama pengucilan, yaitu pertobatan orang berdosa itu. Tetapi tujuan kedua, pengaruh pada jemaat, tetap berjalan. Masalahnya jika disiplin tidak pernah dijalankan (atau hanya pada hal-hal yang justru tidak pokok) ialah, jemaat menyimpulkan bahwa dosa tidak terlalu apa-apa. Sama seperti ketika pemerintah mengecam korupsi dengan keras tetapi ternyata yang mengecam itu juga terlibat, ajaran etis gereja dilihat sebagai sesuatu yang menyangkut penampilan saja, sesuatu yang idealis tetapi tidak realistis.

Mengapa sampai gereja begitu? Dalam individualisme Barat, individu adalah penentu utama nilai. Dalam pengertian itu, saya tidak berhak untuk mengatakan bahwa padanganmu itu salah, hanya bahwa pendirian saya berbeda. Dari satu segi, sikap itu berakar dalam Injil, karena Injil bermaksud untuk mengubah hati dan sikap, bukan sekadar memaksa penyesuaian dalam tingkah laku. Makanya, gereja hanya dapat bersaksi tentang nilai-nilai Injili, bukan memaksakannya kepada orang yang belum percaya kepada Yesus dan menerima kuasa Roh Kudus. Tetapi Allah memiliki visa tentang kemanusiaan yang sejati yang menentang berbagai bentuk kekacauan, seperti daftar Paulus tadi. Individu bukan penentu utama nilai. Jadi, adalah masalah besar ketika individualisme Barat yang ekstrim itu dibawa ke dalam gereja.

Tetapi bukankah Yesus sendiri melarang kita untuk menghakimi (Mt 7:1)? Dari ayat ini, ada yang menolak disiplin gerejawi dan bahkan menyimpulkan bahwa Allah tidak menghakimi. Jika maksudnya begitu, adalah jelas bahwa Paulus bertentangan dengan Yesus. Lebih lagi, Yesus sendiri jadi rancu, karena di beberapa ayat kemudian Dia “menghakimi” orang-orang tertentu sebagai nabi-nabi palsu (Mt 7:15), dan kemudian Dia berbicara tentang pengucilan melalui suatu proses di jemaat (Mt 18:15-20). Matius 18 menegaskan bahwa kemurnian jemaat penting bagi Yesus. Tetapi ada bahaya yang besar dalam menghakimi, yaitu kemunafikan (Mt 7:5). Kita harus sadar tentang dosa dalam diri kita dahulu, sebelum kita dapat melihat sesama dengan murni. Jika saya biasa memandang perempuan dengan tidak baik, saya akan menafsir semua pandangan laki-laki terhadap perempuan sama seperti saya. Jika saya adalah tukang gosip yang menjatuhkan, saya akan menafsir semua kritikan sebagai usaha untuk menjatuhkan. Tetapi jika saya telah mengeluarkan balok seperti itu dari mata saya dengan bertobat, maka saya dapat melihat dengan lebih jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudara saya (Mt 7:5). Dengan kata lain, menegor dosa dalam sesama adalah untuk membangun dia demi kemurnian jemaat, bukan untuk menutupi dosa dalam diri saya (dengan perhatian dialihkan kepada selumbar dalam mata orang lain, bukan baloknya dalam mata saya). Ajaran Yesus itu mau memurnikan disiplin gerejawi yang bertujuan untuk memurnikan, bukan meniadakannya.

Pos ini dipublikasikan di 1 Korintus dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 1 Kor 5:1-13 “Pemurnian melalui pengucilan” (12 Feb 2012)

  1. benyamin belo parrangan berkata:

    Thanks you.
    -Sangat setuju dengan pandangan bapak tentang penghakiman, dimana saat ini sudah sangat sulit dilakukan dalam gereja karena sudah banyak gereja yang muncul sebagai pendukung atas dosa itu. Namun dalam memberikan pengunjilan, perlu kehati-hatian sehingga amat penting pendekatan pastoral dalam zaman sekarang ini. Pendekatan pastoral sebelum disiplin adalah ideal, namun jika hal itu mengancam kehidupan jemaat dan segera diambil sebuah keputusan disinilah saatnya gereja di uji apakah gereja siap untuk ditinggalkan atau gereja mengatakan ya diatas ya dan tidak diatas tidak. Bukankah gereja adalah terang yang sering berterus terang tentang sikapnya dan bukan abu-abu yang tidak jelas karena kepentingan sekelompok orang.
    -Sekali lagi terima kasih pak atas renungannya yang memberi terang bagi semua orang.
    -Sedikit tentang istilah pendatang dan perantau diatas “To Mentiruran”. Sekiranya jelas bahwa semua orang dalam dunia ini adalah pendatang dan perantau baru kemudian menganggap bahwa itulah kampung halamannya.

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih komentar dan usul. Sangat betul bahwa disiplin gereja bukan hal yang mudah tetapi perlu kepekaan.

  3. Kris Takko berkata:

    Yang menjadi pokok isu pada konteks tersebut dikarenakan adanya ketidakseimbangan yaitu iman yang tidak didasarkan pada gaya hidup yang sesuai kehendak Allah salah satu diantaranya spirit percabulan yang dianggap biasa lumrah ada dikalangan jemaat di Korintus bahkan kebejatan moral tersebut dianggap prestasi diri kesombongan pada ayat 1&2 sebenarnya inkonsisten. Yang dikuatirkan Paulus pengarunya ke jemaat bisa menjadi ragi yang menghamiri adonan ay. 6. Bagi Paulus untuk menginsafkan dengan cara pengucilan sebagai bentuk disiplin gereja dan sanksi sosial pada orang tersebut untuk menyadarkan kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s