Ams 21:1-5 “Kesombongan itu Dosa” (19 Feb 2012) [Sengsara I]

Untuk minggu-minggu sengsara, buku pedoman Gereja Toraja Membangun Jemaat mengambil Ams 6:17-19 sebagai kerangka. Ketiga ayat ini menguraikan “enam…bahkan tujuh perkara” yang dibenci Tuhan (6:16). Jika dihitung, memang ada tujuh hal, tetapi kedua terakhir (6:19) dipadukan sehingga pola ini dipakai untuk enam dari ketujuh minggu sengsara. Untuk setiap sifat buruk ini, ada perikop yang dikaitkan dengan sifat itu. Minggu-minggu sengsara mengingatkan kita bahwa kita mengikuti Mesias yang menderita bagi dosa kita, sehingga kita telah mati terhadap dosa (Rom 6:10-11). Membahas sifat-sifat ini akan sangat berguna bagi jemaat, jika kita mengingat landasannya dalam Kristus.

Penggalian Teks

Pokok pertama adalah kesombongan. Frase “mata yang sombong” dalam 6:17 dan “mata yang congkak” dalam 21:4 memakai bahasa yang mirip, yang secara harfiah berarti “mata yang tinggi”. Maksudnya bahwa pemilik mata seperti itu memandang orang lain seakan-akan mereka lebih rendah daripada dia. Itulah intisari dari kesombongan, bagaimana saya menilai orang lain, bukan bagaimana saya menilai diri sendiri. Seorang atlet olimpiade tidak sombong jika dia menganggap dirinya unggul, tetapi dia adalah sombong jika atas dasar keunggulan itu dia merendahkan atlet yang tidak sampai pada tingkat itu.

Seperti biasa dalam pp.10 dst dari kitab Amsal, kita tidak mencari ide pokok dalam sebuah kumpulan ayat, karena bagian Amsal ini tidak memakai perikop. Namun seringkali ada kait-mengait tertentu antara dua ayat yang bersampingan, dan ketiga ayat pertama dapat dikaitkan dengan kesombongan. Dalam a.1, raja adalah yang paling tinggi kedudukannya, sehingga paling layak memandang rendah orang lain, tetapi hatinya (mungkin dalam rangka rancangan-rancangannya) ada dalam tangan Tuhan. Dalam a.2, manusia memberi penilaian positif pada tingkah lakunya sendiri, paling sedikit bahwa ada alasan yang kurang lebih membenarkan kekurangannya kalau ada. Kemampuan itu dapat bermuara pada kesombongan jika orang lain harus direndahkan untuk saya tetap membenarkan diri. Namun, Tuhan tidak dikelabui oleh pandangan kita dan dapat melihat motivasi yang sebenarnya di dalam hati. A.3 menyerang keberagamaan yang dengan mudah menjadi kedok bagi pembenaran diri tadi. Karena membawa persembahan dalam ibadah, orang menganggap bahwa Tuhan berkenan kepada mereka, sehingga dosa-dosa “kecil” dimaklumi.

Dalam a.4, mata yang congkak ditambah dengan “hati yang sombong”. Secara harfiah frase itu berbunyi, “hati yang lebar”, bukan dalam artian yang baik tetapi mungkin dengan maksud hati yang lebar itu tidak memberi ruang bagi sesama, seperti truk yang lebar pada jalan yang sempit. Kedua sifat itu digambarkan sebagai “pelita” orang fasik. Pelita manusia yang semestinya adalah perintah Tuhan (6:23) atau firman Allah (Mzm 119:105). Tetapi pelita juga merujuk pada kehidupan itu sendiri, seperti dalam 20:27, “Roh [nafas] manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” Makanya, beberapa kali dikatakan bahwa pelita orang fasik padam (13:9; 20:20; 24:20). Tafsiran itu berarti bahwa kesombongan menjadi bukan sekadar petunjuk jalan melainkan cara hidup. Orang fasik berada sebagai orang sombong.

Namun, Tuhan yang menguji hati, yang tidak ditipu oleh pertunjukan ritus, melihat cara berada itu sebagai dosa.

Maksud bagi Pembaca

Beberapa ayat ini mau mendorong kita untuk merenungkan cara hidup kita, dengan mempertanyakan kenyamanan kita sebagai orang yang benar dan saleh. Tuhan yang menguji hati dan menuntut kebenaran yang ditempatkan di atas raja sekalipun supaya kita berpaling dari sikap kesombongan dan melihat semua manusia sederajat.

Makna

Aa.1-4 ini paling cocok untuk kalangan atas, para raja besar, raja kecil, dan orang-orang lain yang berada. Merekalah (termasuk kita para pelayan, sebenarnya) yang fasih membenarkan kepentingannya dan yang mampu menutupi kesombongannya dengan ibadah, sumbangan dan bahkan pelayanan yang tampak saleh. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi kebijakan menguntungkan kalangan sendiri. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi selalu ada kelompok “sampah masyarakat” untuk membuktikan kebenaran orang-orang yang beres seperti saya. Dikatakan bahwa semua orang penting, tetapi tanggung jawab atas kesalahan atasan dilemparkan ke bawah. Kita sopan dan hormat kepada yang sederajat atau di atas, tetapi kasar dan semena-mena kepada orang yang dianggap di bawah. Pelanggaran seperti hamil di luar nikah dikecam dengan keras, tetapi sebenarnya kita yang tercemar, orang berdosa, oleh karena kita tidak mampu mengasihi siapa-siapa. Mata yang tinggi tidak dapat melihat dengan jelas untuk mengasihi dengan tepat; hati yang sombong tidak dapat merasakan dengan jernih untuk mengasihi dengan tulus. Tinggal pembenaran diri dan kesalehan semu untuk menutupi kekosongan jiwa, suatu lampu yang bahan bakarnya tidak mampu bertahan.

Jika paling cocok untuk kalangan atas, apakah tidak ada pesan untuk orang kecil? Pada hemat saya, pesan bagi orang kecil adalah untuk mengangkat mereka, dengan mengetahui bahwa Tuhan tidak ditipu oleh kemunafikan orang besar. Hanya, banyak orang yang kecil dan tertindas dalam konteks tertentu menjadi raja kecil dalam konteks yang lain. Jika demikian, peringatan ini berlaku juga untuk mereka.

Tentu, tafsiran saya banyak beranjak dari respon Yesus terhadap para pembesar, termasuk pembesar agama yang munafik. Anugerah Allah, sebagaimana diuraikan oleh Paulus sebagai pembenaran oleh iman, mengajar kita untuk melihat bahwa kita semua adalah orang berdosa yang hanya berarti karena kasih Allah. Kesombongan adalah pengingkaran terhadap anugerah itu.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Ams 21:1-5 “Kesombongan itu Dosa” (19 Feb 2012) [Sengsara I]

  1. Tuto' berkata:

    Not what I’ve gotten but what I received;
    Grace has bestowed it since I have believed;
    Boasting excluded-pride I abase;
    I’m only a sinner saved by grace. —Gray

    ORANG YANG BERPIKIR TERLALU TINGGI TENTANG DIRINYA
    TIDAK BERPIKIR CUKUP TINGGI TENTANG KRISTUS
    (bnd. Roma 12 : 3)

  2. meike tapparan berkata:

    Uraian ttg dosa kesombongan sgt mendalam. Menyetuh kehidupan tdk hny jem, tp jg para pelayan gerajawi. Slmt m’hayati minggu sengsara I

  3. abuchanan berkata:

    Terima kasih atas responsnya. Selamat melayani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s