Yak 3:1-12 “Kuasa dan Bahaya Lidah” (26 Feb 2012) [Sengsara II]

Tafsiran yang diusulkan hari ini beranjak dari satu usul yang pada awalnya dapat mengagetkan, yaitu bahwa yang dimaksud tubuh oleh Yakobus di sini adalah tubuh jemaat, bukan tubuh pribadi. Tafsiran itu muncul dalam beberapa dekade terakhir, mungkin dibantu oleh kesadaran tentang bias individualisme para penafsir Barat. Intinya tidak jauh beda, kita tetap diperhadapkan dengan bahaya lidah, termasuk lidah dusta yang disebutkan dalam Ams 6:17b (Ams 6:17-19 menjadi kerangka untuk khotbah minggu-minggu sengsara Gereja Toraja). Hanya, penerapannya menjadi lebih tajam, yaitu dampak lidah di dalam jemaat. Jika tafsiran itu mau diterima, maka pengkhotbah harus berusaha untuk konsisten. Lidah mengendalikan jemaat, bukan tubuh pribadi; lidah jahat menodai jemaat, bukan tubuh pribadi.

Penggalian Teks

Surat Yakobus adalah praktis (memberi fokus pada cara hidup) tetapi sama sekali bukan nir-teologis. Dasarnya disampaikan di tengah p.1: Allah Bapa kita yang baik (1:17) “telah menjadikan kita oleh firman kebenaran” untuk menjadi buah sulung ciptaan baru (1:18), dan firman itu “tertanam di dalam hatimu” dan “berkuasa menyelamatkan jiwamu” (1:21b). Implikasi pertama adalah menjadi pelaku firman (1:22-25), kemudian mengekang lidah (1:26), kemudian membantu orang miskin (1:27). Ketiga implikasi itu diuraikan dalam bagian-bagian seterusnya: sikap terhadap orang miskin pada awal p.2, perbuatan sebagai buah iman yang sejati dalam 2:14-26, dan soal lidah dalam perikop kita. Makanya, soal lidah ini adalah implikasi dari iman. Semestinya, dari hati yang sedang diselamatkan (diperbaharui) oleh firman muncullah kata-kata pembaruan. Tetapi 1:19-20 sudah menyinggung masalahnya: lidah sering mengeluarkan amarah yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah, jadi, lebih baik banyak diam. 1:26 juga senada, yaitu bahwa lidah perlu dikekang.

Sikap pesimis terhadap lidah itu disinggung dalam a.2, dan muncul dengan sangat tegas dalam aa.6-8. Namun, kita perlu memperhatikan a.1 dan aa.3-5 untuk menangkap apa yang dimaksud Yakobus di sini. A.1 memberi peringatan terhadap orang-orang yang mau menjadi pengajar (seorang didaskalos mengajar jemaat, bukan siswa). Hal itu bersambung dengan bagian sebelumnya yang menyangkut ajaran yang salah, dan bisa juga dikaitkan dengan awal p.4, di mana ada perselisihan yang berat yang mungkin saja menyangkut berbagai oknum yang menganggap dirinya pengajar jemaat. Soal pengajaran menjadi soal lidah dalam a.2, dan a.2 dapat diartikan bahwa lidah adalah bagian tubuh yang paling sulit dikendalikan, sehingga berhasil dalam lidah berarti sudah berhasil dalam seluruhnya. Luk 6:44 menyatakan bahwa pohon dikenal dari buahnya, dan ayat berikutnya memberi perkataan sebagai contoh utamanya. Artinya bahwa pengendalian lidah menjadi gejala atau bukti akan hati yang sudah terkendali. Hal itu senada dengan perkataan Yesus bahwa perkataan adalah luapan hati (Lk 6:45; Mt 12:34). Masalahnya bahwa aa.3-4 menggambarkan lidah (ibarat kekang dan kendali) mengendalikan tubuh (kuda, kapal). Hal itu berbeda dari tindakan lidah dan tubuh sebagai penyataan batin atau hati orang, seperti dalam Luk 6:44-45 tadi. Jika maksudnya adalah lidah saya mengendalikan tubuh saya, saya justru menjadi sulit memikirkannya. Sepertinya, hati/akal saya yang mengendalikan tubuh saya, bukan perkataan saya. Hati saya adalah kendali saya, bukan lidah.

Tetapi ada jalan keluar jika kita melihat bahasa aslinya. Akhiran “-nya” dalam “seluruh tubuhnya” pada a.2 memberi kesan bahwa tubuh penutur yang dirujuk, tetapi akhiran itu tidak ada dalam bahasa aslinya. Terjemahan itu sah dan masuk akal jika kita menganggap bahwa tubuh pribadi yang dimaksud, tetapi bentuk aslinya juga dapat diartikan sebagai tubuh jemaat. Tafsiran itu membuat alur penguraian lebih jelas. Kita harus hati-hati menjadi pengajar, karena kita rawan bersalah. Seandainya kita tidak rawan bersalah, jemaat akan aman terkendali, karena lidah sangat berkuasa di dalam jemaat. Dalam a.4, kata yang dipakai untuk “kehendak jurumudi” bisa diartikan sebagai “kemauan”, artinya, apa saja yang dia mau. Di dalam badai pun lidah memungkinkan pengajar untuk mengarahkan jemaat. Tetapi kemauan pengajar juga adalah masalahnya, karena kehendak di balik lidah tidak selalu tepat. Jadi, dalam a.5 peringatan keras mulai. Ketika lidah dipakai untuk membual, lidah justru menjadi seperti api yang membakar seluruh jemaat.

A.6 adalah puncaknya. Jika tafsiran di atas tepat, “anggota-anggota” (kata “tubuh” ditambahkan LAI di sini) berarti anggota-anggota jemaat. Lidah adalah api yang menyalakan sepanjang kehidupan manusia dengan api neraka sendiri; hal itu terjadi ketika perkataan sebagai “dunia kejahatan” menodai seluruh tubuh. “Dunia kejahatan” mungkin dapat diartikan sebagai perkataan yang jahat secara sistemis. Misalnya, dalam kelompok tertentu, pimpinannya harus selalu benar, sehingga apa saja yang dikatakan lebih berfungsi untuk menutupi kesalahannya daripada menyatakan apa yang sesungguhnya. Setiap perkataan belum tentu jahat, tetapi efeknya adalah lapisan bawah yang tidak berdaya, dan rahasia-rahasia kelompok yang merongrong kasih. Mungkin juga “dunia kejahatan” dapat diartikan sebagai kepelbagaian cara lidah dapat berbuat jahat, dari penipuan dan kebohongan sampai pada kutuk (a.10). Bagaimanapun juga, lidah pemimpin yang demikian akan membawa seluruh tubuh jauh dari kasih dan keadilan.

Aa.7-8 menyampaikan sikap pesimisnya Yakobus soal lidah. Jika lidah dapat mengendalikan jemaat, lidah itu sendiri ternyata tidak dapat dikendalikan, sehingga dampak buruknya tetap ada. Aa.9-12 memperlihatkan bahwa kondisi itu tidak pantas. Jika a.9 mencerminkan kondisi jemaat-jemaat yang dialamatkan oleh surat ini, ternyata mereka biasa mengutuk musuh-musuh mereka. Jadi, dalam ibadah mereka memuji Allah, tetapi juga (apakah dalam ibadah atau konteks lain) mereka mengutuk manusia, padahal manusia adalah gambar Allah. Palestina abad pertama penuh dengan kelompok-kelompok pejuang melawan penjajahan Romawi, dan sering saling melawan juga, dan mungkin sikap-sikap seperti itu belum ditinggalkan oleh sebagian jemaat. Adalah fatal jika pengajar jemaat menuntun jemaat untuk membenci kelompok yang lain. Tetapi dalam contoh di atas, pengajar yang harus selalu benar, juga akan selalu merendahkan anggota-anggota jemaat yang lain dengan kata-kata yang efeknya mengutuk. Itupun tidak pantas: lidah yang sama mengeluarkan dua hal yang sifatnya bertentangan.

Maksud bagi Pembaca

Jadi, Yakobus mau supaya para pengajar (pemimpin) di jemaat menjaga lidahnya, supaya kuasa lidah dipakai untuk mengarahkan jemaat dengan baik dan menuntun jemaat melalui bahaya, bukan untuk merusak dan meracuni jemaat. Perikop ini lebih bersifat peringatan; perikop berikut (3:13-18) menggambarkan hikmat dari atas yang akan memampukan perkataan yang baik.

Makna

Tafsiran di atas membuat peringatan dalam a.1 sungguh bermakna: lidah sangat berpengaruh. Namun, secara pribadi ajaran Yakobus agak mengganggu saya, karena justru kadangkala saya merasa bahwa kata-kata saya tidak ada dampaknya sama sekali, seakan-akan lidah saya adalah kendali yang sudah lepas atau kemudi yang telah putus. Ada dua refleksi terhadap soal itu. Yang pertama, persepsi saya ternyata salah. Mungkin tidak semua ajaran saya akan berdampak besar bagi semua orang, tetapi dampaknya ada, dan saya harus hati-hati supaya ajaran itu membangun bukan merusak. Yang kedua, lidah adalah luapan hati, bukan akal. Hati berarti maksud atau motivasi paling dalam, dan kadangkala maksud akal tidak sama dengan maksud hati. Saya berbicara tentang pengandalan akan Tuhan, tetapi orang bisa mendengar kekhawatiran dalam nada suara saya. Saya berbicara tentang kasih, tetapi orang dapat melihat kedinginan sikap dalam wajah saya. Yang didengar adalah lidah saya, tetapi bukan apa yang saya maksud dengan otak saya, melainkan sikap hati yang dinyatakan di dalamnya. Makanya, orang yang ajarannya sempurna dapat menimbulkan racun pelecehan dan api perpecahan, karena hatinya masih dikuasai oleh hikmat duniawi (seperti dalam 3:14, 16) dan belum sepenuhnya diperbaharui oleh firman yang menyelamatkan, meskipun sudah ditangkap oleh otak.

A.1 juga menghimbau supaya jangan ingin menjadi pengajar. Bukan hanya orang yang ditunjuk sebagai pengajar (pendeta, majelis) yang dapat menimbulkan masalah, tetapi orang-orang yang menganggap diri pengajar jemaat. Pertanyaan bagi pendeta ialah, apakah sumber api yang satu ditambah dengan pelayan sendiri sebagai sumber api kedua, atau dihadapi dengan hikmat sorgawi yang membawa buah damai (3:18). Sungguhlah ukuran bagi pelayan lebih berat.

Pos ini dipublikasikan di Yakobus dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yak 3:1-12 “Kuasa dan Bahaya Lidah” (26 Feb 2012) [Sengsara II]

  1. menemani berkata:

    Maknanya sungguh bermakna dan memberkati. Tafsiran yang ditujukan bagi tubuh/jemaat dan tubuh/diri. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s