Mat 15:7-20 Kenajisan yang sebenarnya (11 Mar 2012) [Sengsara IV]

Perikop ini menyangkut dua pola berpikir, yang satu diwakili oleh orang Farisi, yang satu diwakili oleh Yesus. Perbedaan itu dapat diringkas sebagai pendekatan batiniah (dosa di hati) melawan jasmani (kenajisan lahiriah), tetapi bagi saya perbandingan itu belum tajam. Bahkan, saya akhirnya mengusulkan bagaimana konsep kenajisan (terkait dengan pemali) tetap bisa dipakai. Sebagai catatan, pembacaan Membangun Jemaat dimulai pada a.7, tetapi agar perikopnya dapat dimengerti, pembahasan harus dimulai dari a.1, karena a.20 menjawab pertanyaan orang Farisi dalam a.2.

Penggalian Teks

Perikop ini terdapat dalam bagian 11:2-16:12, yang menguraikan berbagai respons terhadap Yesus, setelah agenda Yesus (yakni, Kerajaan Allah) dipaparkan dalam pp.4-10. Pada satu segi ada perlawanan dari orang-orang Farisi meningkat, pada segi yang lain pemahaman para murid meningkat, walaupun dengan sangat lamban. 11:25-27 meringkas maksud Allah di balik itu—orang bijak tidak dapat menangkap siapakah Yesus, sedangkan orang kecil bisa. Di antara para murid Yesus dengan orang Farisi terdapat orang banyak. Kepada mereka Yesus menggunakan perumpamaan untuk memberitakan Kerajaan Allah, sesuai dengan nubuatan PL (13:10-17 yang mengutip Yes 6:9-10; 13:34-35 yang mengutip Mzm 78:2). Yang degil hati tidak akan memahami Yesus, sedangkan yang siap (tanah yang baik, 13:23) akan menerima pemberitaan Yesus dengan baik. Dengan demikian, perumpamaan menjadi semacan penyaring, sehingga kehadiran Yesus membedakan antara lalang dan gandum (13:24-30); antara ikan yang baik dan yang tidak baik (13:47-50). Perikop kita melanjutkan tema pembedaan ini.

Perikop ini terdiri atas empat adegan. Dalam aa.1-9 Yesus dan orang Farisi bertengkar soal adat istiadat. Dalam aa.10-11 Yesus menyampaikan perumpamaan kepada orang banyak. Dalam aa.12-14 para murid dan Yesus membicarakan orang-orang Farisi. Dalam aa.15-20 perumpamaan itu dijelaskan kepada para murid.

Inti persoalan adalah kenajisan. Dalam a.2 ternyata murid-murid Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan, suatu tindakan yang dianggap najis oleh orang Farisi. Orang Farisi mau menerapkan standar kekudusan untuk imam (bdk. Kel 30:18-21) kepada semua umat Israel, dengan harapan bahwa dengan demikian Allah akan menerima Israel dan menyelamatkannya. Kepada para pengajar itu Yesus menyerang cara mereka berteologi sehingga tradisi turun-temurun mereka meminggirkan firman yang tertulis dalam Alkitab (3). Orang Farisi percaya bahwa tradisi itu berasal dari Musa dan sepadan dengan Taurat, tetapi Yesus memperlihatkan contoh orangtua di mana ketentuan-ketentuan itu meniadakan perintah Allah (4-6). Dengan demikian mereka menjadi orang munafik, sama seperti Israel pada zaman Yesaya (7). Hormat bagi Allah ada di bibir mereka, tetapi hatinya jauh (8). Ternyata, adat istiadat itu tidaklah netral, tetapi berfungsi untuk menyatakan kejauhan dari Allah. Perintah Allah yang tidak disukai diganti dengan ketentuan manusia (9). Jadi, di sini Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan orang Farisi, tetapi menjawab dasar yang salah dari pertanyaan itu. Yang menolak Yesus, menolak karena hatinya jauh dari Allah. Orang bijak (seperti dalam 11:25 tadi) menolak Yesus karena kepintarannya dipakai untuk menghindar dari Allah.

Kepada orang banyak Dia menawarkan perumpamaan, sesuai dengan 13:10-17 tadi. Pokok dari perumpamaan ini adalah kenajisan. Bagian pertama cukup jelas. Yesus menyangkal bahwa apa yang masuk ke dalam mulut, yaitu, makanan haram, atau makanan yang dimakan dengan tangan yang tidak dicuci, dapat menajiskan. Bagian kedua perumpamaan ini kurang jelas. Apa itu yang “keluar dari mulut”? Ludah? Muntahan? Nafas? Perkataan? Artiannya tidak disampaikan kepada orang banyak, tetapi sesuai dengan 13:11, Yesus menjelaskannya kepada para murid dalam aa.12-20. Orang banyak yang rindu untuk belajar harus bergabung dengan Yesus untuk dapat mengerti.

Yang pertama, Dia menjelaskan sikap-Nya tentang orang Farisi (aa.12-14). Para murid kelihatan kaget bahwa Yesus berbicara begitu keras sehingga orang Farisi tersinggung dan marah (itu maksudnya “batu sandungan” di sini), tetapi Yesus menjelaskan bahwa mereka telah kehilangan tempatnya dalam rencana Allah. Menurut Rom 2:19, orang Yahudi menganggap diri “penuntun orang buta”, dan tugasnya adalah menuntun orang keluar dari “lobang”, tempat hukuman Allah menurut Yes 24:17-18. Anggapan itu sesuai dengan tugas Israel dalam PL untuk menjadi terang. Tetapi karena kaum Farisi ini buta, mereka malah membawa orang kepada hukuman itu. Mereka termasuk lalang yang tidak ditanam Allah, bukan gandum yang ditanam Allah (13:24-25). Mereka kehilangan bagian mereka dalam kedatangan Kerajaan Allah.

Yang kedua, Yesus menjelaskan kepada para murid makna dari perumpamaan itu. Pertanyaan Petrus memicu teguran sedikit, sesuai dengan kelambanan para murid untuk menangkap siapa Yesus. Namun, Yesus dengan sabar memberi penjelasan. Yang masuk ke dalam mulut memang adalah makanan, yang berjalan sampai dibuang lagi. Yang keluar dari mulut berasal dari hati, jadi, maksudnya kata-kata. Kata-kata adalah luapan dari hati, tetapi perlu diperhatikan bahwa a.18 berbicara tentang berbagai dosa, bukan hanya dosa perkataan. Jadi, perumpamaan itu memang adalah perumpamaan. Semua hal yang terkait dengan kenajisan lahiriah diwakili oleh makanan yang masuk ke dalam mulut, sedangkan semua hal yang terkait dengan hati diwakili oleh perkataan yang keluar dari mulut.

Sesuai dengan penekanan-Nya terhadap firman Allah, Yesus beranjak dari hukum keenam sampai kesembilan (a.19). Hukum kelima sudah Dia bela dalam aa.4-6. Menarik bahwa zinah ditambah dengan percabulan, sehingga jelas bahwa hukum ketujuh menyangkut semua dosa seksual. Sumpah palsu juga ditambah dengan hujat. Maksud dari hukum kesembilan ini adalah kedudukan atau reputasi orang di dalam masyarakat. Kesaksian palsu (disertai dengan sumpah dalam konteks pengadilan) menjatuhkan orang yang tidak bersalah, dan hujat (termasuk fitnah, kutuk dsb) bermaksud sama. Sama seperti dalam Yak 3:9, orang memuji Allah dengan bibirnya, tetapi menghujat sesama. Pelanggaran-pelanggaran ini berasal dari hati, bukan dari apa yang dimakan, dan tidak bersangkut paut dengan soal mencuci tangan (a.20).

Demikianlah penjelasan Yesus kepada para murid. Dari bagian-bagian sebelumnya, kita dapat melihat bahwa bahkan terhadap Taurat, khususnya di sini aturan-aturan tentang kenajisan, Yesus membawa pola baru. Otoritas-Nya atas penyakit, setan-setan, dosa, kelaparan, bahkan badai, ternyata sampai mencakup hukum Allah sendiri. Makanya, tidak mengejutkan jika tidak lama kemudian Petrus dapat mengaku bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16). Makanya, Yesus sendiri akan memerintah para murid untuk mengajar bangsa-bangsa untuk melakukan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan.

Maksud bagi Pembaca

Matius mau memperlihatkan otoritas Yesus untuk menentukan hukum Kerajaan Allah, dalam hal ini terkait dengan soal kenajisan. Dia mau supaya pembaca memilih jalan Yesus, yaitu, mencari penyucian hati sehingga hukum Allah terwujud dalam kehidupannya. Dia juga memberi peringatan kepada semua orang “bijak”, termasuk para pemimpin jemaat, untuk tidak meniadakan firman Allah dengan pemahaman lunak yang membenarkan dosa.

Makna

Perikop ini termasuk kritikan agama yang paling keras dalam Alkitab, yaitu bahwa agama dapat dipakai untuk justru tidak taat kepada Allah. Sebagai makhluk, manusia membutuhkan Allah, tetapi tidak mau menyerahkan kendali kehidupan kepada-Nya, alias percaya. Tetapi Allah tidak berdiam diri terhadap hal itu. Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, dan lebih lagi Anak-Nya, Yesus Kristus, memberitahu manusia supaya memperbaiki apa yang sebenarnya rusak, yaitu hati, bukan memasang sistem manusia di mana ada bayangan dari pertobatan yang tidak menyentuh hati yang sakit itu. Ajaran lisan yang diwarisi oleh orang Farisi menyangkut banyak hal, seperti tidak memetik gandum atau menyembuhkan orang pada hari Sabat, yang sebenarnya tidak salah. Ketika orang melanggar aturan itu dan “bertobat”, dan lebih lagi ketika hal-hal itu tidak dilanggar, orangnya merasa bahwa dia menyatakan ketaatan kepada Allah. Tetapi, pada saat yang sama dia merendahkan orang-orang “berdosa” (orang-orang yang tidak mengikuti perangkat aturan itu), membenci musuhnya, dan mencari pujian manusia. Dia rajin dalam menaati peraturan manusia, tetapi hatinya busuk. Gambaran tentang orang Farisi itu menyampaikan suatu pola beragama yang tidak asing dalam sejarah Gereja, bahkan semestinya menggelitik kita semua. Semangat untuk menjadi “orang beres” harus selalu diuji, apakah berasal dari iman kepada Allah karena dibenarkan secara cuma-cuma atau dari keinginan untuk menjadi beres karena mau memiliki kebenaran sendiri. Jika berasal dari iman, kita akan mengasihi orang-orang yang tidak beres dan menyerang hal-hal dalam hati sendiri yang menghalangi kasih itu. Jika berasal dari keinginan untuk beres, kita akan takut terhadap keberadaan orang-orang yang tidak beres sehingga menjadi sangat sulit untuk mengasihi mereka.

Para antropolog mengartikan “semangat untuk menjadi orang beres” sebagai kerinduan, bahkan kebutuhan, akan keteraturan. Manusia tidak dapat hidup dalam kekacauan dan kerancuan makna. Budaya lisan (sering disebut primitif, tetapi sebenarnya budaya-budaya itu kompleks, hanya tidak ada atau tidak banyak yang dapat membaca) cenderung menyimbolkan ketertiban dan kekacauan dalam bentuk tabu (pemali dalam bahasa Toraja) yang pelanggarannya menimbulkan kekacauan, dan ritusnya menghapus kekacauan itu. Walaupun dari satu segi tabu-tabu itu terasa sembarang (mengapa daging babi dilarang, dan bukan daging kambing?), akan tetapi biasanya ada berbagai nilai tertanam di dalamnya. Kitab Imamat mencerminkan pola berpikir budaya lisan, tetapi semua “tabu” dikaitkan dengan Allah yang Esa, bukan lagi dengan roh-roh, nenek moyang dan berbagai dewa-dewi. Kemudian, kondisi manusia di hadapan Allah digambarkan dengan tiga tingkat: najis, tahir dan kudus. Najis adalah kondisi kacau yang mengancam keberadaan Allah di tengah umat-Nya. Tahir adalah kondisi manusia yang sudah dapat diterima oleh Allah. Kudus adalah kondisi manusia yang bisa dekat dengan Allah. Yang disimbolkan dengan kenajisan bukan hanya dosa tetapi juga maut, seperti penyakit kulit yang mirip dengan mayat. Melalui apa yang disimbolkan dalam sistem kenajisan, Israel bisa belajar tentang Allah yang kudus dan pro-hidup, dan bisa juga ikut berperang terhadap kuasa dosa dan maut.

Sistem dalam Imamat tidak bermaksud untuk menyampaikan cara beribadah yang lepas dari ketulusan hati dan kepedulian terhadap sesama (bdk. Imamat 19). Tetapi manusia memiliki kemampuan yang hebat untuk melupakan jiwa dari perangkat peraturan dan menerapkan hukum positif. Bagi orang Farisi, sebagaimana digambarkan dalam Injil-Injil sebagai peringatan bagi kita, sistem kenajisan telah menjadi pokok. Bahkan, tradisi lisan menambahkan aturan-aturan baru, baik untuk memagari peraturan yang sudah ada, maupun untuk menerapkan kekudusan para imam kepada seluruh umat. Simbolnya dikembangkan, sementara apa yang disimbolkan, perjuangan pro-hidup dan melawan dosa dan maut, dipinggirkan. Menjadi orang yang beres diartikan sebagai menaati berbagai aturan, sedangkan intinya ada kasih sebagaimana dilihat dalam kesepuluh perintah. Perhatikan bahwa ini bukan soal rohaniah melawan lahiriah. Hukum positif dapat diterapkan dengan semangat yang sungguh-sungguh, dan kasih selalu akan berwujud dalam tindakan konkret. Tetapi keteraturan apa yang dicari? Sistem orang Farisi membentuk keteraturan yang rapuh (karena belum memulihkan hati diri sendiri) sehingga harus mengusir kekacauan dengan keras. Keteraturan yang ditunjukkan oleh Yesus menghadapi dan berusaha memulihkan kekacauan (dosa, penyakit, setan, badai) dalam kasih. Usaha itu tidak selalu berhasil, karena selalu ada seperti orang Farisi yang menempatkan diri di luar rencana Allah (15:13). Tetapi bukan kita yang mengusirnya karena kita sendiri takut.

Contoh klasik hukum positif adalah sikap sebagian majelis (dan pendeta?) terhadap tata gereja, di mana tata gereja ditafsir menurut huruf, bukan menurut maksud etis-teologis yang ada di belakangnya. Jika tata gereja memperbolehkan nikah ulang, maka siapa saja yang mau menikah diizinkan, padahal Alkitab paling memberi celah sedikit.

Contoh semangat untuk menjadi orang beres dapat muncul dalam kekhawatiran tentang penyakit sosial. Tentu saja kita prihatin dengan berbagai gejala, tetapi apakah kita mau mengasihi dan membantu pelakunya, atau mereka mau diusir karena dianggap sumber kekacauan, entah karena kita rawan tergoda, entah karena kita malu jika Toraja tampil lebih jorok daripada tetangga, atau karena alasan yang lain yang menyangkut kita, bukan orang-orang yang terjebak di dalam dosa. Kepada keluarga sendiri mungkin masih ada pendekatan kasih, atau malahan kita masih kurang tegas. Tetapi pendatang juga adalah manusia, dan bahkan jika dianggap musuh tetap harus dikasihi dengan dibawa kepada Kristus Sang Pemulih.

Usul terakhir (selamat kalau bertekun sampai di sini), jika konsep pemali masih kuat di Toraja, apakah konsep itu dapat dipakai untuk menjelaskan dosa. Pemali Yesus/Allah adalah berzinah, mencuri dsb, dengan akibat hati yang jauh dari Allah sehingga berkat-Nya tidak dinikmati, baik secara pribadi maupun bersama dalam jemaat.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s