Ul 8:1-10 Menikmati keselamatan dengan ketaatan (18 Mar 2012) [Sengsara V]

Dalam Membangun Jemaat, buku pedoman Gereja Toraja, kita sampai pada perkara kelima yang dibenci Tuhan, yaitu “kaki yang segera lari menuju kejahatan” (Ams 6:18b). Kaitannya dengan perikop yang ditentukan sepertinya dari 8:4, “kakimu tidaklah menjadi bengkak”. Mungkin maksudnya bahwa Tuhan memelihara kita bahkan sampai kaki bukan untuk melakukan kejahatan tetapi kebaikan. Bagaimanapun juga, perikop ini sangat berguna agar kita memahami relasi antara keselamatan, perbuatan baik, dan berkat. Urutannya pas seperti itu: keselamatan adalah anugerah Allah, perbuatan baik adalah cara kita menghayatinya, dan berkat adalah hasil penghayatan itu. Begitulah kesimpulan saya; ujilah sendiri apakah cocok dengan perikop ini.

Penggalian Teks

Perikop ini berbicara tentang cara Israel mengalami berkat Tuhan, sama seperti kebanyakan kitab Ulangan. Semuanya ditempatkan dalam konteks pengembaraan di padang gurun selama 40 tahun setelah keluar dari Mesir. Pengembaraan itu diceritakan oleh Musa dalam khotbah pertamanya dalam pp.1-4. Sekarang Israel ada di seberang sungai Yordan, siap untuk menduduki tanah perjanjian. Khotbah kedua Musa beranjak dari ketaatan (kesepuluh hukum, p.5) dan berakhir dengan berkat jika taat, dan kutuk jika tidak taat (pp.28-30). Tanah perjanjian adalah pemberian Tuhan, tetapi kenikmatan pemberian itu akan bergantung pada respons Israel. Dalam 6:5-6 dasar ketaatan dilihat dalam kasih kepada Allah yang Esa. Kemudian, Musa menguatkan Israel bahwa mereka akan mampu menduduki Kanaan (p.7), dan bahwa hal itu akan jadi (8:1-10). Setelah perikop kita, dia memberi peringatan bahwa mereka akan berhasil karena Allah, bukan karena kehebatan mereka (8:11-19) ataupun kebaikan mereka (p.9, yang mengangkat masalah patung Anak Lembu Emas sebagai contoh ketidaktaatan mereka).

Tema perikop disampaikan dalam a.1, yaitu, taat supaya hidup. Kemudian, pentingnya mengingat dan belajar dari pengembaraan di padang gurun disampaikan dalam aa.2-5. Aa.6-10 menguraikan a.1, dengan peringatan ulang untuk taat dalam a.6, serta penjelasan tentang kebaikan hidup di tanah perjanjian (aa.7-9) yang akan bermuara pada pujian kepada Allah (a.10).

A.1 dengan jelas menempatkan perikop ini dalam rencana keselamatan Allah, yaitu penggenapan janji kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Hal itu menegaskan bahwa berkat (hidup dan bertambah banyak) bukan hasil atau upah dari ketaatan. Janji Allah adalah dasar berkat, dan ketaatan adalah cara untuk menikmatinya, bukan memperolehnya.

A.2 adalah seruan untuk mengingat suatu masa sulit, yaitu empat puluh tahun di padang gurun. Masa itu terjadi karena Tuhan membuat Israel berjalan di dalamnya, dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk merendahkan hati mereka dan menguji sejauh mana mereka sungguh mau taat kepada Allah. Untuk menjelaskan bagaimana mereka direndahkan, Musa meninjau kembali soal makanan. Mereka menjadi lapar dan harus bergantung pada manna, sesuatu yang terjadi karena perintah Allah (3). Namun, Allah tetap memelihara mereka secara ajaib (4). Sebagai kesimpulan, Musa mengartikan pergumulan-pergumulan mereka sebagai didikan seorang Ayah kepada anak-Nya. Pelajaran bahwa mereka harus dengan rendah hati bergantung pada firman Allah membutuhkan proses yang berat, tetapi perlindungan Allah tetap ada di dalamnya.

Jika a.1 mengatakan untuk melakukan perintah Tuhan dengan setia, a.6 menjelaskan hal itu sebagai hidup menurut jalan Tuhan dan takut akan Tuhan. Dalam a.3 Tuhan membuat Israel mengikuti jalan pengembaraan karena mereka belum mau mengikuti jalan Tuhan (termasuk tidak berani memasuki tanah Kanaan, Bilangan 13-14), tetapi akan lebih baik jika Israel memilih untuk mengikuti jalan Tuhan. Ketika Israel tidak mau memasuki tanah Kanaan, mereka takut akan orang-orang “raksasa” di sana, tetapi akan lebih baik jika Israel takut akan Tuhan. Alasan itu diperkuat dalam aa.7-10. Hidup menurut jalan Tuhan bukan sesuatu yang berat, tetapi akan merupakan hidup yang berkelimpahan. Kelimpahan itu tidak lepas, dan tidak dapat lepas, dari Tuhan, karena Dialah yang membawa mereka ke sana. Makanya, jika mereka hidup menurut jalan Tuhan, mereka akan puas dan memuji Tuhan. Tuhan adalah awal dan akhir dari berkat yang mereka alami.

Maksud bagi Pembaca

Musa mau supaya Israel memilih untuk taat kepada Tuhan, supaya mereka dapat menikmati berkat Allah di tanah perjanjian, dan tidak mengalami kembali didikan Tuhan yang berat karena tidak mau taat. Yesus juga menawarkan hidup yang berkelimpahan bagi domba-domba-Nya yang mendengar suara-Nya dan mengikuti-Nya (Yoh 10:10). Jadi, perikop ini tetap mendorong kita untuk taat, karena itulah cara untuk menikmati hidup yang berpusat pada Allah.

Makna

Dari diskusi di atas, jelas bahwa keselamatan bukan hasil dari perbuatan baik, tetapi sebaliknya perbuatan baik adalah respons terhadap keselamatan. Namun, juga jelas bahwa perbuatan baik bukan sekadar ucapan syukur atas keselamatan. Penebusan Israel dari Mesir memungkinkan mereka untuk mengalami berkat Tuhan, tetapi berkat itu tidak akan dinikmati kecuali ada ketaatan. Bagaimana menikmati hadirat Tuhan jika menyembah ilah yang lain, atau membuat gambar sendiri (patung) untuk disembah? Bagaimana menikmati kehidupan bersama di bawah Tuhan jika suka membangkang, saling membenci, tidak setia, mencuri, saling menjatuhkan, dan penuh iri hati? Perintah-perintah Allah merupakan pemberian yang menguntungkan, salah satu anugerah Allah, supaya keselamatan tidak disia-siakan dengan tetap hidup dalam dosa.

Tentu, hukum Taurat terdiri dari lebih dari kesepuluh perintah saja. Ada banyak perintah lagi yang mengatur kehidupan Israel sebagai masyarakat yang menghargai kemanusiaan setiap orang, serta menempatkan Allah di pusat kehidupan. Setelah Kristus, aturan-aturan itu tidak berlaku lagi sebagai hukum (Gal 3:24-25), walaupun ada banyak hikmat yang dapat digali daripadanya (Rom 7:12). Namun, prinsipnya sama. Kita diselamatkan untuk menikmati hidup baru, dan ajaran Tuhan Yesus serta nasihat para rasul sangat membantu kita dalam rangka itu.

Kehidupan tidak selalu dinikmati, dan aa.2-5 merupakan pernyataan klasik yang melihat pemeliharaan Tuhan di tengah pergumulan yang bermaksud baik bagi yang bergumul. Namun, saya mau mengajukan bahwa aa.2-5 hanya masuk akal karena didahului oleh penebusan dan akan berakhir dengan penggenapan janji berkat. Karena Israel telah ditebus dari Mesir, mereka dapat percaya bahwa maksud Allah dalam pergumulan itu baik. Karena kita ditebus dalam Kristus, kita juga dapat percaya bahwa maksud Allah itu baik (Rom 5:6-11). Karena Israel menuju tanah perjanjian, pembentukan karakter mereka ada tujuannya, supaya mereka dapat menikmati berkat Allah sepenuhnya. Kita menuju tanah yang lebih baik lagi—bumi yang baru yang dijamin oleh kebangkitan Kristus—sehingga pembentukan karakter kita dalam pergumulan juga berguna (Ibr 12:1-13).

Pos ini dipublikasikan di Ulangan dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ul 8:1-10 Menikmati keselamatan dengan ketaatan (18 Mar 2012) [Sengsara V]

  1. Yulius Nelson berkata:

    Terima kasih postingannya Pak, saya sangat tertolong setelah membaca perikop tersebut. Tuhan memberkati kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s