Mt 26:69-75 Gagal karena belum mengenal Yesus (1 Apr 2012) [Sengsara VII]

Banyak perikop Alkitab menyampaikan cerita yang menarik perhatian karena di dalamnya kita melihat seorang tokoh dalam pergumulan hidup. Perikop ini termasuk salah satunya. Namun, adalah salah jika kita hanya berfokus pada orangnya sendiri, sehingga kita sampai pada moralisme yang tidak salah tetapi agak dangkal, “jangan menjadi pengecut”, “jangan berdusta”; dangkal karena Allah menjadi mubazir dalam pesan khotbah seperti itu. Tokoh-tokoh Alkitab selalu bertindak dalam konteks lebih luas, yaitu, apa yang dilakukan Allah dalam dunia. Dalam rangka itulah berhasil tidaknya iman mereka harus diukur, dan dalam rangka itulah kita dapat belajar dari tokoh-tokoh tentang iman kita.

Penggalian Teks

Perikop tentang Petrus ini sebenarnya mulai dari a.58. Berbeda dari murid-murid yang lain, Petrus tetap mengikuti Yesus sampai ke halaman Imam Besar, sesuai dengan janjinya dalam a.33 (“Biarpun mereka semua tergoncang…aku sekali-kali tidak”). Matius mengatakan bahwa dia ke sana “untuk melihat kesudahan perkara itu”. Istilah “kesudahan” (telos = akhir atau tujuan) menarik karena dalam 24:14 Yesus telah berkata, “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Hal itu dikatakan dalam konteks perjuangan akhir zaman, tetapi para penulis Injil melihat pengadilan dan penyaliban Yesus sebagai peristiwa pertama dalam rangka perjuangan itu, di mana perlawanan terhadap Allah menimbulkan aniaya dan penderitaan bagi orang-orang yang setia.

Dalam aa.59-68 kita melihat cara Yesus menghadapi penganiayaan, kemudian dalam perikop ini cara Petrus. Kedua peristiwa ini berjalan agak sejajar. Yesus diminta jawaban terhadap kesaksian palsu tetapi diam (aa.62-63). Petrus diperhadapkan dengan pernyataan yang benar tetapi menjawab dengan berdusta (a.70). Kemudian, Yesus diminta dengan sumpah untuk menjawab sebuah tuduhan yang benar, bahwa Dia adalah Mesias. Pada saat itulah Dia menyampaikan kesaksian yang kuat tentang diri-Nya (a.64). Sedangkan Petrus, dia sendiri yang bersumpah, untuk menguatkan dustanya sendiri (a.74). Dengan demikian, kita melihat bagaimana Yesus bertahan sampai kesudahannya, sedangkan Petrus tidak.

Hasilnya penting diamati. Yesus disalibkan. Ketakutan Petrus bukan tidak beralasan. Petrus tetap aman, hanya, ternyata hatinya hancur. Hanya setelah kebangkitan Yesus serta penerimaan-Nya yang menyiratkan pengampunan (28:7, 16-20), maka Petrus serta murid-murid yang lain menjadi siap menghadapi tantangan zaman.

Maksud bagi Pembaca

Matius memperbandingkan kesetiaan Yesus dengan kegagalan Petrus supaya pembaca Injil tidak mengandalkan antusiasme sendiri tetapi belajar dari perspektif Yesus, yang melihat sampai ke kesudahannya, yaitu penggenapan rencana Allah melalui karya Yesus sendiri. Yesus bertahan karena Dia menangkap maksud Allah yang melampaui apa yang kelihatan; Petrus gagal karena dia belum menangkap hal itu.

Makna

Petrus adalah yang paling berani dari para murid. Pengingkaran janjinya muncul bukan karena dia adalah seorang pembohong, melainkan karena dia tidak mengerti dunia seperti digambarkan Yesus dalam pp.24-25, yaitu bahwa dunia sangat melawan Allah, tetapi Allah akan menang. Karena dia belum memahami dunia, dia menganggap bahwa keberanian itu cukup. Itulah salahnya moralisme. Biar banyak mengucapkan kata “dengan kuasa Roh Kudus”, seorang moralis menganggap bahwa pada dasarnya manusia sanggup melakukan kebenaran, dan tinggal diingatkan untuk melakukannya. Tetapi ternyata, ketika orang dengan niat baik masuk ke dalam tempat kerja, mereka setengah mati mempertahankan kebenaran; ketika orang dengan semangat tinggi menjadi pimpinan lembaga-lembaga masyarakat, yang semuanya adalah pemberian Allah, yang sekaligus diilhami oleh Iblis karena diisi dengan manusia berdosa (bdk. Ef 2:1-3), mereka setengah mati menerapkan keadilan; ketika masyarakat dan budaya mengecam iman kepada Yesus, kita setengah mati bersaksi. Itulah yang dilihat—dan dicemaskan oleh gereja—terus-menerus. Dalam sosok Petrus kita melihat bahwa hal itu tidak aneh—dunia dalam perlawanannya terhadap Allah memang kuat, tidak mungkin kita melawan dengan semangat kita saja.

Jawaban yang saya usulkan di atas, yaitu pentingnya kita menangkap apa yang dilakukan Allah, tidak berasal langsung dari perikopnya, melainkan dari tempatnya dalam cerita Injil Matius. Di sini Petrus gagal, tetapi setelah kebangkitan Yesus, dia diutus untuk menjadi pemberita Injil yang berdampak besar. Apa bedanya? Dalam Injil Matius, kematian dan kebangkitan Kristus. (Tentu, Lukas menyoroti peran Roh Kudus juga tetapi Matius tidak.) Dengan berjumpa dengan Yesus yang telah dibangkitkan, mereka mulai menangkap bahwa penderitaan karena kebenaran bukan sesuatu yang aneh, tetapi justru merupakan jalan menuju kebangkitan, bahwa kecaman manusia bukan kata akhir, karena Allah akan mengakhiri segalanya, bahwa Yesus yang tetap lemah lembut adalah sekaligus Tuhan dan Juruselamat. Dalam perikop kita, iman Petrus memang lemah. Tetapi imannya dibangun bukan dengan fokus pada dirinya sendiri, melainkan dengan melihat kebenaran tentang Kristus. Semoga perayaan Paskah membawa berkat itu bagi kita semua.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s