Lk 23:44-24:12 Yesus Mati dan Bangkit

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan tentu terjadi pada hari yang berbeda, tetapi pesannya saya gabungkan karena keduanya saling berkaitan. Pada kedua hari ini kita paling berdosa jika kita merampas kemuliaan karya Kristus dengan berbicara sedikit tentang apa yang telah Dia lakukan dan banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tentu, karya Allah menuntut respons. Tetapi, jika pengkhotbah sudah memaparkan karya Allah ini dengan jelas, apakah kita perlu membujuk-bujuk jemaat untuk menerimanya? Andaikan saya bilang, “Ada kue coklat berlapis, pakai coklat Belgia yang paling lembut, dengan kopi Toraja kualitas ekspor”, apakah perlu ditambah dengan pembujukan, “Ayo masuk, masakan kamu malas mengambilnya, tidak menghargai kerja keras isteri? Tahu dirilah!”? Bukankah memberi tahu di mana kue itu adalah cukup sebagai penerapan? Pembujukan justru menyiratkan bahwa kue itu sebenarnya kurang enak, hanya akan dimakan jika dipaksakan. Sama halnya, pada hemat saya, jika karya Kristus sudah disampaikan dengan baik; tinggal menunjukkan bagaimana caranya diterima (yakni, dengan percaya). Jika jemaat harus dibujuk, berarti pengkhotbah sendiri belum terlalu yakin akan kemuliaan dan daya tarik Yesus. Ada yang tidak suka coklat; ada juga, yang disayangkan, yang tidak suka Yesus. Tetapi kita berkhotbah atas keyakinan sendiri, bukan keraguan orang.

Penggalian Teks

Tema yang kuat dalam ketiga Injil Sinoptik ialah bahwa Yesus mati sebagai ganti orang bersalah. Hal itu terjadi secara harafiah dengan Barabas, dan juga muncul dalam pernyataan ironis para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyelamatkan orang lain tetapi tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (23:35). Lukas menitikberatkan ketidakbersalahan Yesus itu. Dia menegaskan kejahatan Barabas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus (23:25), dan pencuri yang bertobat juga menegaskan layaknya dia dihukum mati ketimbang Yesus (23:41).

Jadi, kegelapan yang meliputi bumi selama tiga jam (44) bukanlah karena Yesus bersalah. Yesaya 60:1, salah satu janji luar biasa tentang datangnya Kerajaan Allah, berbicara tentang terang dan kemuliaan yang akan terbit, sampai matahari dan bulan tidak pernah akan surut (Yes 60:20; kata “surut” di situ dan kata “tidak bersinar” dalam Luk 23:45 sama-sama menerjemahkan kata ekleipo). Tetapi kondisi sebelumnya adalah kegelapan (Yes 60:2), seperti dikatakan Yesus sendiri setelah ditangkap (Luk 22:53). Dunia sudah sampai nadir kegelapan ketika Anak Allah yang benar disalibkan oleh umat Allah sendiri.

Dalam rangka itu, Lukas menyebutkan tabir Bait Allah terbelah dua (23:45; Injil Matius dan Markus menempatkannya setelah Yesus mati). Ada macam-macam penafsiran terhadap peristiwa itu, termasuk bahwa hal itu menyimbolkan kesedihan Allah. Tetapi, jika kita melacak semua pemakaian kata “tabir” dalam PL (Keluaran-Bilangan dan 1 Raj 6:23 dalam rangka pembangunan Bait Allah di bawah Salomo), selalu fungsinya adalah menutupi tempat maha kudus (Kel 26:33). Jadi, tafsiran bahwa Yesus telah membuka jalan masuk ke dalam hadirat Allah, seperti diuraikan dalam Ibrani 9, adalah tepat.

Makanya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan mengutip Mzm 31:6, sebuah Mazmur Daud. Dia telah melakukan tugas-Nya sebagai Mesias (anak Daud), yaitu menyelamatkan orang lain dengan tidak menyelamatkan diri-Nya. Kedua ayat berikut (23:47-48) menceritakan tanggapan dua kelompok, yang kembali menegaskan kebenaran Yesus. Kepala pasukan, wakil Pilatus yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, mengaku bahwa Yesus adalah benar. Orang banyak memukul-mukul diri. Istilah yang dipakai di sini berarti memukul dada, suatu pertanda kesedihan yang dalam bagi orang Yahudi. Istilah itu hanya dipakai satu kali lagi dalam Injil Lukas, yaitu dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Pemungut cukai memukul dadanya karena dia begitu sadar akan dosanya. Dia pulang dengan dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi tidak. Jadi, bagi Lukas, Yesus telah mati sebagai pengganti orang berdosa seperti Barabas, dan semua yang mengaku bahwa Yesus adalah benar dan dia bersalah, dapat dibernarkan (dibebaskan seperti Barabas) dan masuk ke dalam hadirat Allah yang jalan masuknya dibuka oleh kematian Yesus.

Tentu, cerita Lukas belum selesai. Perempuan-perempuan dari Galilea menyaksikan kematian Yesus (23:49), dan juga di mana Dia dikuburkan (23:55). Merekalah yang pergi pada pagi hari Minggu untuk mempersiapkan mayat-Nya. Dalam apa yang diceritakan Lukas selanjutnya, kita melihat betapa para murid Yesus belum siap untuk menerima karya Allah. Mereka termangu-mangu (24:4), bahkan tidak mau percaya (24:11). Kebangkitan Yesus adalah kejutan yang besar, sangat di luar dugaan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau membawa kita untuk merasakan kegelapan kematian Yesus dan kekejutan kebangkitan-Nya, supaya kita memahami bahwa di dalam kedua peristiwa ini, keselamatan telah datang bagi semua yang akhirnya bisa percaya pada karya Allah yang mengejutkan itu (termasuk orang-orang bukan Yahudi seperti kepala pasukan itu).

Makna

Yesus telah memakai Mzm 31:6, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” yang berlanjut, “Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.” Bagi Daud, doa ini adalah doa untuk dihindarkan dari maut, tetapi bagi Yesus yang mau mati, doa ini mengharapkan kebangkitan. Perbedaannya antara doa Daud dan penerapan Yesus besar: jika satu orang (seperti Daud) luput dari maut, hanya nyawanya sendiri yang diselamatkan. Tetapi jika ada orang yang merintis jalan melalui dunia maut sampai ke kebangkitan, maka banyak orang yang dapat diselamatkan. Makanya, seperti diingatkan oleh kedua malaikat kepada perempuan-perempuan itu, Yesus telah mengatakan bahwa sebagai Anak Manusia Dia harus mati bagi dosa untuk dibangkitkan pada hari ketiga (24:7). Hari ketiga adalah hari penentuan nasib dalam PL (misalnya: Kej 42:18 tentang nasib saudara-saudara Yusuf; Kel 19:11, 16 tentang nasib Israel dengan Allah; 2 Raj 20:5 (Hizkia); Est 5:1). Khususnya, pada hari ketiga Israel mengharapkan kebangkitan dari hukuman Allah (Hos 6:2). Jadi, dengan dibangkitkan, Yesus sendiri dibenarkan oleh Allah, sehingga kita ikut dibenarkan di dalam Dia. Dengan demikian, kegelapan sudah diganti oleh terang.

Selamat memberitakan kabar baik ini!

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s