Mzm 112 Perintah Tuhan sebagai alasan untuk berbuat baik (15 Apr 2012)

Dalam kuliah, saya banyak berbicara tentang pentingnya menafsir dalam rangka Kisah Agung Alkitab, apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan Allah. Tetapi mazmur ini menyampaikan pola yang sering terdapat juga dalam kitab Amsal, yaitu, orang baik akan berhasil, orang jahat akan gagal, suatu pola yang sepertinya lepas dari karya Allah dalam sejarah, dan hanya merupakan implikasi dari pemeliharaan Allah yang berjalan secara umum. Hal itu tentu tidak salah, hanya, pemeliharaan Allah merujuk pada stabilitas, hal perubahan terjadi dalam kaitan dengan karya-karya-Nya. Makanya, jemaat yang hanya mengenal pemeliharaan Allah belum siap menjadi jemaat yang misioner. Alkitab dengan jelas menguraikan kedua pola itu (stabilitas dengan pembaruan), dan ternyata karya Allah penting juga dalam mazmur ini.

Penggalian Teks

Mazmur ini mulai dengan seruan untuk memuji Tuhan. Karena seruan itu biasanya diikuti oleh pujian tentang Tuhan, kita harus menganggap bahwa yang berikut ini juga memuji Tuhan. Topiknya adalah manusia, yakni, orang yang berbahagia, tetapi Tuhan yang dimuliakan di dalamnya.

Hal itu tampak pertama kali dalam a.1b, di mana takut akan Tuhan dilihat dari segi menyukai perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah itu tidak ditaati karena ada berkat sebagai upah, melainkan karena dunia yang dibayangkan dalam perintah-perintah itu adalah dunia yang didambakan. Apa maksudnya, “dunia yang dibayangkan dalam perintah”? Jika kita melihat kesepuluh firman saja, dunia yang dibayangkan adalah Israel yang menomorsatukan Allah dalam ibadah, perkataan dan siklus bekerja, sehingga ada keharmonisan dalam struktur masyarakat (orangtua dihargai), hidup, pernikahan, milik dan nama orang dihargai, dan semua puas dengan pemberian Tuhan masing-masing. Andaikan perintah-perintah itu diikuti dengan sungguh-sungguh, dunia seperti itu yang akan diciptakan. Sebaliknya, dalam dunia seperti itu, perintah-perintah itu sudah ditaati. Jadi, orang dalam a.1 takut akan Tuhan bukan karena ancaman hukuman jika melanggar, melainkan takut mengecewakan Sumber dunia itu karena bertindak berlawanan dengan tatanan yang diharapkan di dalam perintah-perintah itu.

Jika demikian, berkat-berkat yang berikut bukanlah “upah” tetapi akibat. Karena perintah-perintah Tuhan begitu disukai, dunia dambaan Allah mulai terwujud di sekitar orang ini, sehingga keturunannya menjadi sumber berkat bagi orang-orang benar di sekitarnya (a.2). Dia berhasil, dan hasilnya menjadi pangkal untuk berbuat baik bagi sesama, sehingga kebajikannya menjadi peringatan kekal (a.3). Dia bahkan menjadi terang bagi orang benar (a.4).

Dalam a.5 satu segi dari perintah-perintah Allah disoroti, yaitu, kemurahan kepada sesama. Akibatnya bahwa dia kokoh. Namanya akan diingat, dan dia tenang menghadapi perlawanan karena yakin akan pertolongan Tuhan kepadanya (aa.6-8). Aa.9-10 memberi kesimpulannya. Orang yang berbahagia hidup sesuai dengan dunia dambaan Tuhan, sehingga hidupnya berbagian dalam kemuliaan dunia itu. Dunia orang fasik ternyata lain sekali: dambaan mereka adalah berjaya atas orang benar, tetapi keinginan itu akan hancur. Sungguh Allah layak dipuji, karena Dia akan mewujudkan dunia dambaan itu.

Semuanya itu menjadi lebih jelas, jika kita membandingkan mazmur ini dengan mazmur sebelumnya. Kedua mazmur ini merupakan mazmur akrostik, di mana setiap baris (setengah ayat, kecuali aa.9-10 yang mengandung tiga baris masing-masing) dimulai dengan huruf abjad Ibrani berturut-turut. Kesamaan itu menunjukkan bahwa kedua mazmur dikarang bersamaan. Jika demikian, Mazmur 111 menempatkan Mazmur 112 dalam konteks perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan yang juga “disukai” (111:2). Tuhan membuat perjanjian dengan Israel (111:5) dan memberi mereka rezeki (111:5), tanah (111:6) dan hukum yang adil dan benar (111:7). Takut akan Tuhan berarti takut akan Tuhan yang telah melakukan hal-hal ini (111:10). Dalam kedua mazmur ini, jalan hikmat berdasarkan Kisah Agung: apa yang telah dilakukan Allah, sehingga kita dapat meyakini apa yang sedang dan akan Dia lakukan.

Perjanjian Allah menciptakan relasi yang kuat antara Tuhan dengan umat-Nya, dan hal itu mendapat pemaknaan dalam dari perbandingan kedua mazmur ini. 111:2-4 menyampaikan kebajikan Tuhan, sama seperti 112:2-4 menyampaikan kebajikan orang yang diberkati. (“Keadilannya tetap untuk selamanya” dalam 111:3 adalah sama dalam bahasa aslinya dengan “kebajikannya tetap untuk selamanya” dalam 112:3.) A.4 masing-masing berakhir dengan “pengasih dan penyayang”, suatu kombinasi kata yang selalu merujuk pada Allah kecuali dalam Mzm 112 ini. Kemurahan hati orang dalam 112:5 mirip dengan kemurahan hati Allah dalam 111:5. Silakan, cari kesejajaran yang lain. Intinya bahwa orang yang berbahagia dalam Mzm 112 adalah orang yang sedang menjadi seperti Tuhan yang dia takuti, Tuhan yang telah menyelamatkan dan sedang memelihara dia.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 112 mau memberi dorongan bagi pembaca untuk memuji Tuhan, dengan mencintai dan menerapkan perintah-perintah Tuhan yang menunjukkan bagaimana menikmati keselamatan Allah yang diuraikan dalam Mzm 111. Dengan demikian, dia akan menjadi terang dan berkat bagi masyarakat, termasuk orang miskin dan orang benar.

Makna

Yang belum terlalu jelas dalam penguraian di atas ialah masa depan “dunia dambaan Allah”. Aa.2-4 pasti benar, tetapi seringkali tidak nyata. Bahkan, jika kita menerima ayat-ayat ini dengan terlalu kaku, Yesus dan Paulus tidak termasuk orang yang berbahagia, karena mereka mati tanpa keturunan dan harta, dan kabar celaka justru bermuara pada celaka, dalam bentuk salib bagi Yesus, dan dalam bentuk banyak penganiayaan bagi Paulus. Memang, dalam Mazmur 112 sendiri ada petunjuk bahwa tidak semua orang senang dengan orang yang takut akan Tuhan, tidak semua orang mendambakan dunia dambaan Tuhan. Tetapi bagi Yesus dan Paulus, hal itu menjadi prinsip. Kita berbahagia ketika dianiaya (Mt 5:10-12); kita akan menderita bersama-sama dengan Kristus sebelum dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus (Rom 8:17). Bukankah itu realita dunia sekarang?

Apakah dengan demikian, harapan dalam Mzm 112 itu ditiadakan dalam PB? Sama sekali tidak. Harapan itu dimaknai ulang. Ketika Kristus datang, “dunia yang dibayangkan” itu terwujud dalam kasih dan kuasa-Nya kepada orang yang berdosa, terpinggir dan tersesat. Kita menyukai perintah-perintah Yesus untuk mengampuni, berdoa untuk musuh dsb karena perwujudannya dalam kehidupan Yesus begitu indah. Kita mau menjadi sumber berkat dan terang bagi sesama. Dan dari mazmur ini, kita bisa yakin bahwa hal itu akan terwujud dalam dua tahap. Pembagian berkat, peneguhan nama, kasih, keteguhan, itu semuanya kita miliki dan terapkan sekarang dengan kuasa Roh Kudus. Harta dan kekayaan mungkin juga ada, dalam artian rohani, tetapi dalam dunia baru semuanya akan terwujud seluruhnya. Kebangkitan Yesus menjamin kedatangan-Nya kembali untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan, dunia dambaan Allah, sehingga jerih payah kita sekarang tidaklah sia-sia.

Jadi, mazmur ini didasarkan pada apa yang telah dan sedang dilakukan Allah, pada saat itu bagi Israel, lebih lagi bagi kita sekarang dalam Yesus Kristus. Dan mazmur itu tetap relevan karena apa yang akan dilakukan Allah, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan dalam dunia baru.

Semoga kita tidak hanya mengandalkan pemeliharaan Allah tetapi tetap menjadi terang bagi orang benar, pengasih dan penyayang seperti Yesus Kristus sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s