Yoh 6:1-15 Pemberi roti yang berlimpah-limpah (29 Apr 2012)

Perikop ini adalah satu-satunya mujizat Yesus yang terdapat dalam keempat Injil. Jika kita tidak teliti sebagai penafsir, bisa jadi kita membawa perikop sejajar, bukan perikop yang kita pakai. Misalnya, kita tahu bahwa Yesus berbelaskasihan kepada orang banyak, karena mereka di tempat yang terpencil. Kemudian, kita tahu bahwa Dia membagi-bagikan makanan itu melalui murid-murid-Nya. Kita tahu, tetapi dari Injil Markus, bukan dari Injil Yohanes. Jika kedua hal itu mau dijadikan pokok dalam pesan khotbah, berkhotbahlah dari Mk 6:30-44, bukan dari Yoh 6:1-15 ini. Perikop kita memiliki penekanan tersendiri yang semestinya kita hargai dalam penafsiran kita, yaitu penekanan Kristologis, seperti dalam seluruh Injil Yohanes.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan peristiwa terakhir Yesus di Galilea dalam Injil Yohanes, dan juga puncak kepopuleran-Nya. Setelah peristiwa ini, ada pembahasan yang panjang antara Yesus dengan orang banyak itu. Di dalamnya, Yesus menyebut diri roti kehidupan, dan mengecam mereka karena mereka hanya melihat pada kebutuhan jasmani, bukan kepada Pemberi kebutuhan itu, yaitu, Yesus.

Yohanes menyampaikan latar belakang dari cerita ini dalam aa.1-3. Yesus makin populer, tetapi ternyata hal itu sekadar karena tanda-tanda penyembuhan yang dilakukan-Nya (a.2). Dua detil juga harus diperhatikan: Yesus naik gunung (a.3) dan waktunya dekat Paskah (a.4).

Rangkaian peristiwa mulai dengan Yesus memandang orang banyak (a.5). Aa.5-10a menyangkut Yesus dengan murid-murid-Nya. Dia mengangkat masalah yang sepertinya mustahil: memberi makan kepada orang yang sangat banyak. Adalah penting untuk diamati bahwa Yesus sudah tahu apa yang mau Dia lakukan. Dia menguji kemampuan para murid-Nya untuk peka terhadap rencana Tuhan, bukan kemampuan mereka untuk membuat rencana sendiri yang hebat-hebat. Dalam rangka itu, Filipus tidak terlalu berhasil: dia hanya dapat melihat kendala. (Satu dinar itu upah satu hari bekerja, jadi dua ratus dinar kurang lebih upah 8 bulan , mengingat orang tidak bekerja pada hari Sabat.) Tetapi Andreas paling sedikit dapat melihat adanya sesuatu (roti dan ikan), meskipun dia tidak dapat melihat bagaimana yang sedikit itu dapat berguna. Dia mungkin lupa akan pengalaman Elisa, yang memberi makan seratus orang dengan dua puluh roti jelai (2 Raj 4:42-44), atau dia terlalu memperhatikan bahwa lima ribu orang itu jauh lebih banyak.

Bagaimanapun juga, rencana Yesus tidak akan dihalangi oleh kelemahan murid-murid-Nya. Aa.10b-13 menceritakan kelimpahan yang terjadi setelah Yesus mensyukuri dan membagikan roti dan ikan itu. Kelimpahan itu membuat semua puas, kenyang. Israel makan bersama sampai kenyang, di bawah pemeliharaan Yesus, Mesiasnya, sama seperti Israel makan manna di padang gurun setelah dibebaskan dari Mesir, seperti yang dirayakan pada perayaan Paskah.

Gambaran atau pengalaman akan berkat yang disampaikan dalam peristiwa itu sangat mengesankan, tetapi apa kesannya yang ditangkap? Orang banyak melihat kesejajaran dengan Musa dan Israel dan menganggap bahwa Yesus adalah nabi yang dinubuatkan oleh Musa (a.14, bdk. Ul 18:15-18). Dengan demikian, mereka melihat bahwa Yesus itu akan sanggup untuk memenuhi kepentingan mereka, yaitu pembebasan dari kuk pemerintahan Romawi (a.15). Oleh karena itu, Yesus harus menyingkir. Dalam pembahasan berikut (perikop ini adalah bagian awal dari satu bagian utuh, yaitu seluruh pasal enam), Yesus menunjukkan apa yang Dia maksud dengan peristiwa itu, yakni, bahwa Dialah roti kehidupan yang berkelimpahan, yang membuat kenyang (6:48-51). Yesus mau supaya pemberian roti dan ikan dalam peristiwa itu membawa orang banyak kepada Pemberinya, tetapi wawasan mereka hanya sampai pada pemberian itu (6:26-27).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa kita untuk melihat kelimpahan yang ditawarkan oleh Yesus, yaitu bahwa Dia dapat membuat jiwa kita kenyang dan berkelimpahan.

Makna

Maksud tadi sepertinya “merohanikan” suatu cerita yang di dalamnya dengan jelas ada lima ribu orang yang diberi makan yang mengenyangkan perutnya. Ada berbagai penerapan etis yang sering diambil dari cerita ini. Ada kepedulian Yesus kepada orang banyak (walaupun hal itu tidak disebutkan oleh Yohanes). Ada usaha Yesus untuk membimbing murid-murid-Nya. Ada berbagai respons mereka. Ada keberanian anak yang tidak menyimpan makanannya untuk keluarganya sendiri. Tetapi, jika implikasi dalam Injil Yohanes dicermati, Yesus memberi tafsiran kristologis dari peristiwa itu, yakni bahwa Dialah roti kehidupan. Bagi saya, ada beberapa alasan mengapa fokus itu justru penting, bukan hanya untuk membangun iman, tetapi juga untuk membangun kasih yang sejati.

Yang pertama, jika kita sudah menangkap kelimpahan hidup yang kita miliki di dalam Kristus, sikap pelit cepat atau lambat akan terkikis. Banyak orang merasa kekurangan, walaupun sebenarnya berkecukupan. Tetapi sikap khawatir, atau sikap rakus, membuat apa yang ada dianggap kurang. Orang seperti itu tidak akan berubah dengan ditegur untuk memperhatikan sesama, karena teguran itu belum menanggapi akar sikap mereka, yaitu masalah iman.

Yang kedua, jika kita tidak melihat Yesus sebagai yang pokok, kita juga akan membelokkan apa yang Dia lakukan supaya sesuai dengan kepentingan kita. Orang banyak pada saat itu sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu, pembebasan dari kuasa Roma, dengan Israel menjadi berjaya dsb. Sekarang banyak warga jemaat sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu mereka pulih, lulus, dapat promosi dan lain sebagainya. Kuasa Yesus diakui, tetapi mau dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan kita. Pemberian-Nya dicari, bukan Dia sendiri. Kita bisa mengamati saja dunia Barat, yang diberkati dengan kemakmuran yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Apakah rasa syukur mereka juga berlimpah-limpah? Justru sebaliknya. Ternyata betul, kekayaan membuat lebih sulit masuk ke dalam kerajaan Allah.

Yang ketiga, kita menjadi seperti Siapa yang kita kagumi. Seorang adik mau meniru kakaknya, bukan karena ditegur, tetapi karena mengagumi kakaknya. Sebagian calon pendeta dalam wawancara merujuk pada sosok pendeta yang pernah (atau masih) mereka kagumi sebagai alasan mereka mau menjadi pendeta. Barangkali, ada juga yang menekuni jalan korupsi karena mengagumi mobil mewah yang didapatkan oleh keluarga yang menempuh cara itu. Yohanes sama sekali tidak anti-tindakan (bdk. 1 Yoh 3:17), tetapi bagi dia, dasarnya adalah mengenal kasih Kristus (bdk. ayat sebelumnya, 1 Yoh 3:16). Salah satu maksud dari kiasan “makan tubuh-Ku” dan “minum darah-Ku” (Yoh 6:53-54) ialah bahwa kasih Kristus bukan sekadar contoh baik, tetapi menjadi salah satu sifat Yesus yang “mendarah-daging” dalam kehidupan kita. Dengan mencari Pemberinya, kita akan menjadi makin seperti Dia.

Jadi, pada hemat saya, mendorong orang untuk sekadar bertindak seperti Yesus dalam perikop ini tidak akan sama efeknya dengan memaparkan kemuliaan-Nya, kelimpahan-Nya, dan kelayakan-Nya untuk dipercayai. Tentu, ada bahaya kalau tidak pernah merujuk pada implikasi praktis dari iman. Tetapi yang jauh lebih sering terjadi, menurut pengamatan saya, ialah menegur tanpa dasar dalam anugerah Allah. Hal itu membangun rasa bersalah yang tidak berdaya; memberitakan Kristus membangun iman yang akan bermuara pada kasih.

Memaparkan Kristus dalam perikop ini juga akan membawa kemuliaan bagi nama-Nya di dalam jemaat. Semoga kita tidak jenuh melakukannya!

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s