Mazmur 8 Kedudukan manusia yang sebenarnya di hadapan Allah (3 Jun 2012)

Kembali ada perikop yang sifatnya teologis, bukan etis. Tentu saja ada implikasi etisnya, termasuk lingkungan yang menjadi tema dalam Gereja Toraja. Tetapi kita tidak bertindak secara etis terhadap Sang Penutur firman ini jika kita hanya menyinggung isi perikop-Nya, kemudian berbicara panjang lebar tentang keprihatinan kita. Apakah mimbar itu ada supaya pelayan didengar, atau supaya firman Allah didengar? Kemudian, implikasi etis bukan hanya tindakan. Usul saya di bawah menyangkut martabat manusia, sesuai dengan isi teks. Jika martabat manusia dihubungkan dengan Allah, sebagaimana semestinya, banyak tingkah laku yang lain yang akan berubah.

Penggalian Teks

Mazmur ini mulai (2-3) dan berakhir (10) dengan pujian, dan di dalamnya merenungkan tempat manusia di dalam ciptaan Allah, baik dari segi kerendahan manusia (4-5) maupun kemuliaan manusia (aa.6-8).

Kemuliaan Allah diakui di bumi (2a), dan bahkan sampai di atas langit (2b). Kemuliaan Allah adalah dasar, kemuliaan manusia di bawah pelengkapnya. Tetapi kemuliaan itu tidak terjangkau semua. Ada lawan dan musuh Allah (a.2b), biasanya orang-orang berada dan berkuasa dalam kitab Mazmur. Untuk membungkamkan mereka, Allah tidak memanggil orang-orang hebat, tetapi memanggil bayi. Pujian orang-orang rendah, kecil, tidak berada, itulah bukti dari kemuliaan Allah.

Dalam aa.4-5, keberadaan manusia menjadi seperti bayi tadi. Manusia sama sekali tidak berdaya di hadapan kebesaran jagad raya ini. (Menarik bahwa semakin mampu manusia berteknologi, semakin besar dan tak terjangkau jagad raya ini.) Perhatian Allah kepada manusia bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena anugerah Allah belaka.

Dengan demikian, kuasa manusia atas dunia, seperti juga dinyatakan dalam Kej 1:28, makin mengagetkan pemazmur. Manusia diberi tempat paling mulia dan terhormat dalam ciptaan Allah (6). Segala makhluk di bumi (tidak termasuk langit, mengingat a.4 dan melihat aa.8-9), ditempatkan “di bawah kakinya” (7). Frase ini dipakai dalam Mzm 110:1 untuk kejayaan seorang raja atas musuh-musuh. Manusia dan ciptaan sejajar dengan raja Israel dan bangsa-bangsa. Jadi, tersirat di dalamnya adalah tugas manusia untuk menata dunia dengan baik dan menindak kekacauan, sama seperti manusia perdana diberi tugas untuk menjadikan seluruh bumi seperti taman Eden.

Pada ayat terakhir pemazmur memuji Tuhan kembali. Manusia yang bertindak dengan mulia di bumi menggemakan nama Tuhan.

Maksud bagi Pembaca

Pemazmur menyampaikan kedudukan manusia yang sebenarnya di hadapan Allah, yaitu, lemah, tetapi demi kemuliaan Allah, diberi tanggung jawab yang mulia. Yang menganggap diri sama seperti Allah ditegur supaya memahami bahwa di hadapan jagad raya, dia seperti bayi saja. Yang menganggap dirinya seperti bayi yang tidak berdaya didorong untuk menunaikan tanggung jawab untuk berkuasa dengan berani. Allah dimuliakan di dalam manusia yang kuat di dalam Dia, bukan di dalam penyombong dan bukan di dalam pemalas/pengecut.

Makna

A.10 melihat Allah dimuliakan di dalam manusia, tetapi dalam kenyataannya, manusia gagal dalam tugas itu. Hal itu jelas jika kita berfokus pada lingkungan saja (berdasarkan aa.8-9), lebih lagi jika kehidupan sosial/politik disoroti. Makanya, Ibr 2:5-7 menerapkan aa.4-7 kepada Kristus. Dialah yang menjadi rendah (di bawah “malaikat”, satu tafsiran yang lain dari a.6), kemudian dimuliakan dan dimahkotai sebagai Tuhan dan Kristus. Jadi, di dalam Kristus, martabat manusia yang dirusak oleh dosa dipulihkan kembali. Kita dapat mengikuti jejak-Nya, tanpa dibebani oleh kegagalan manusia selama ini, dan dalam harapan bahwa usaha-usaha kita yang kecil dan tidak berdaya akan menjadi berarti di dalam Kristus, dan akan membawa kemuliaan bagi Allah.

Martabat, atau kemuliaan, atau kehormatan, adalah konsep yang kalau tepat bisa sangat berguna dalam mengarahkan kehidupan manusia. Martabat yang tidak bersumber dari Allah adalah martabat yang berbahaya. Sumber martabat saya pasti menjadi ilah saya, entah itu keluarga, entah uang, entah prestasi, ataupun Allah. Hanya Allah yang menawarkan martabat kepada semua manusia yang rendah atau mau menjadi seperti bayi, berbeda dengan ilah-ilah yang lain.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mazmur 8 Kedudukan manusia yang sebenarnya di hadapan Allah (3 Jun 2012)

  1. abuchanan berkata:

    Pertanyaan yang bagus. Usul saya sbb. Keduanya merujuk pada fungsi yang sama, yaitu kuasa manusia atas ciptaan. Tetapi “gambar dan rupa Allah” menyangkut hakikat manusia, sedangkan “hampir sama dengan Allah” melihat kedudukannya (statusnya).

  2. roby marrung berkata:

    pertanyaan saya: bagaimana memperbandingkan makna “diciptakan dalam gamabar dan rupa Allah dengan diciptakan hampir sama dengan Allah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s