Ams 1:1-7 Dasar dan tujuan hikmat (10 Juni 2012)

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan pengantar bagi seluruh kitab Amsal. Koleksi amsal ini dikaitkan dengan Salomo. Karena amsal adalah pola yang berkembang di dalam sebuah masyarakat, maka Salomo mungkin lebih baik dilihat sebagai penggerak pengumpulan koleksi amsal ini, termasuk dari sumber yang lain (lihat 22:17 “amsal-amsal orang bijak”; 30:1; 31:1). Dalam pp.1-9 konteks pengajaran amsal ialah keluarga (lihat 1:8), yaitu orangtua kepada anak yang tak berpengalaman dan muda, seperti dikatakan dalam a.4. Tetapi kemungkinan juga Salomo mau mempertajam kemampuan para pegawai dalam birokrasi yang dia kembangkan, seperti dikatakan dalam aa.5-6.

Walaupun sastra hikmat seperti Amsal didapati dalam semua budaya, a.1 menempatkan kitab Amsal dalam konteks Israel. Serangkaian tujuan disampaikan dalam aa.2-6. A.2a menggunakan tiga kata yang penting. “Mengetahui” berarti bahwa tujuannya ialah penambahan dalam kemampuan seseorang untuk berpikir. Yang diketahui ialah “hikmat”. Hikmat tidak sekadar informasi, tetapi kemampuan untuk menggunakan informasi dan pemahaman dengan tepat dalam konteks tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Hal kedua yang diketahui ialah “didikan”. Kata ini merujuk pada proses belajar dari pengalaman, termasuk teguran dan latihan.

A.2b merupakan tujuan lanjutan, yaitu, kemampuan untuk belajar dari pengalaman orang-orang lain melalui kata-kata mereka yang bermakna. Dalam a.3a kembali ke soal didikan, belajar dari pengalaman untuk menjadi pandai.

A.3b seakan-akan berubah haluan, berbicara tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran, istilah yang banyak dipakai oleh para nabi. Tetapi jika definisi hikmat adalah kemampuan untuk sukses, sukses itu harus didefinisikan. Hikmat yang mau diajarkan dalam kitab Amsal adalah hikmat yang mencapai kebenaran (relasi yang baik dengan manusia dan Tuhan), keadilan (masyarakat yang menghargai hak setiap orang) dan kejujuran (orang-orang berjalan lurus).

A.4 kembali menyoroti pemula dalam soal hikmat (seperti dalam a.3a). Kecerdasan, pengetahuan dan kebijaksanaan merupakan unsur-unsur mendasar dari hikmat. Kata “kecerdasan” adalah kemampuan untuk berpikir dengan kreatif menghadapi sesuatu; kata itu dipakai baik untuk kecerdasan maupun untuk kelicikan. Kata yang diterjemahkan “kebijaksanaan” merujuk pada kemampuan berencana, yang juga bisa untuk tujuan yang baik atau buruk. Jadi, yang dimaksud di sini adalah kemampuan-kemampuan mendasar, yang tentunya akan dipakai untuk tujuan dalam a.3b itu.

Aa.5-6 kembali menyoroti orang-orang yang sudah bijak. Mereka dapat menambah ilmu dan dapat perbandingan bagi ilmu yang sudah dimiliki. Mirip dengan a.2b, dalam a.6 mereka dapat mempelajari berbagai bentuk perkataan, termasuk perkataan yang sulit dimengerti (“teka-teki”).

A.7 memberi kesimpulan yang sejajar dengan a.2a. Pengetahuan yang dimaksud dalam kitab Amsal berasal dari takut akan Tuhan (Yahweh), yaitu Allah Israel. Sikap kagum dan hormat kepada Tuhan adalah sikap yang akan membuat pengalaman dan didikan menghasilkan hikmat yang bertujuan kebenaran dan keadilan.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mendorong pembaca untuk mencari dan mengembangkan hikmat berdasarkan takut akan Tuhan, yaitu hikmat yang akan menghasilkan kebenaran, keadilan dan kejujuran. Hikmat itu akan didapatkan dalam kitab Amsal, sehingga dorongan itu juga adalah dorongan untuk menyimak kitab ini. Bagi orang Kristen, wujud takut akan Tuhan ialah beriman kepada Kristus, yang memberi teladan akan hikmat kitab Amsal dan juga mempertajam ajarannya.

Makna

Semua manusia berpengalaman, sehingga bertumbuh dalam hikmat tertentu. Takut akan Tuhan akan memberi makna tertentu pada pengalaman itu. Contoh sederhana ada dalam a.7 sendiri. Orang bodoh tidak mau menerima didikan. Tetapi orang yang takut akan Tuhan akan rendah hati sehingga dia mendapat pengetahuan melalui didikan. Contoh lagi dilihat dalam a.3b. Takut akan Tuhan berarti bahwa hikmat yang dikejar bukan untuk melakukan kejahatan melainkan untuk melakukan kehendak Tuhan. Lebih lagi, iman kepada Kristus berarti bahwa kita akan mengampuni musuh, sama seperti Allah mengampuni kita ketika kita adalah musuh (Rom 5:10).

Jika “kebenaran, keadilan dan kejujuran” dianggap mewakili perintah Tuhan, kita dapat melihat peran hikmat sebagai kemampuan untuk menaati Allah dengan baik. Misalnya, amsal-amsal tentang komunikasi dapat membantu suami-istri untuk membangun pernikahan yang kukuh, sehingga tidak berzinah. Bekerja dengan rajin dapat membantu orang untuk berkecukupan sehingga tidak mencuri.

Dalam 9:10, takut akan Tuhan sejajar dengan mengenal Yang Mahakudus. Karena Tuhan itu kudus, tidak mungkin kita menghadapi-Nya dengan tepat tanpa rasa hormat yang tinggi. Dalam 8:22-36, Tuhan adalah Pencipta yang menciptakan dunia dengan hikmat, sehingga hikmat menjadi jalan yang terbaik untuk berjalan dalam dunia ini. Jadi, permulaan pengetahuan dunia adalah takut akan Penciptanya.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s