Amos 3:9-15 “Ketidakjujuran menimbulkan hal-hal yang jijik bagi Tuhan” (17 Juni 2012)

Perikop ini adalah contoh nubuatan hukuman yang di dalamnya, atas nama Tuhan, nabi menyatakan dosa Israel, kemudian menyatakan akibat dari, atau hukuman Allah atas, dosa itu. Baik dosa maupun hukuman itu biasanya dapat dikaitkan dengan hukum Taurat. Dosanya merupakan pelanggaran perintah-perintah Taurat, sedangkan hukumannya terkait dengan kutuk-kutuk dalam Imamat 26 dan Ulangan 28. Dari dosa yang dikecam kita dapat menggali makna etis, yaitu, bagaimana semestinya umat Allah hidup. Dari hukuman Allah, kita menggali makna teologis, yaitu, bagaimana Allah berhadapan dengan dosa manusia. Hal itu yang akan disoroti dalam bagian Makna di bawah, karena hal itu sebenarnya tidak sederhana.

Penggalian Teks

Kitab Amos mulai dengan serangkaian nubuatan hukuman kepada bangsa-bangsa yang berakhir dengan Yehuda dan Israel. Bangsa-bangsa dikecam karena kekejaman terhadap sesama, tetapi Yehuda (kerajaan Selatan) dan Israel (kerajaan Utara) dikecam karena pelanggaran terhadap hukum Tuhan (2:4; 2:6 dst) yang telah menyelamatkan mereka dari Mesir (2:9-11). Amos 3:1-8 memberi kesimpulan. Umat Allah memiliki tanggung jawab yang khusus karena dipilih Allah (3:2), dan Allah memakai para nabi untuk memberi tahu Israel tentang rencana-Nya (3:7).

Kesalahan Israel disampaikan dalam aa.9-10, dengan Asyur dan Mesir dipanggil sebagai saksi. Penghuni puri Asyur dan Mesir dipanggil untuk memandang penghuni puri Samaria. Puri adalah benteng dan juga tempat bangsawan berkuasa. Asyur dan Mesir sama sekali bukan lambang keadilan, dan dengan menyebut mereka, Amos menyindir Samaria: kondisi Samaria bahkan akan mengejutkan bangsawan dari kedua negeri itu. Kondisi itu digambarkan sebagai kekacauan, pemerasan, kekerasan dan aniaya, dan di tengahnya intinya adalah “mereka tidak tahu berbuat jujur”. Oleh karena itu, puri yang penuh dengan hasil ketidakjujuran itu akan dijarah oleh musuh (11).

A.12 membandingkan kedahsyatan hukuman itu dengan mangsa singa. Gembala merebutkan potongan kecil dari domba yang diterkam sebagai bukti domba itu diterkam, bukan dicuri. Katil dan balai-balai adalah milik orang kaya, tetapi akan tinggal sepenggal-sepenggal saja. Sisa Israel akan seperti itu.

Aa.13-16 menjelaskan hukuman itu. A.13 menggambarkan Allah dan Israel. Israel adalah keturunan Yakub, dan Tuhan adalah Allah bala tentara surga (“semesta alam”). Artinya, Israel adalah penerima janji dan pemilihan Allah yang Mahakuasa. Jika kuasa itu dulunya dipakai untuk menyelamatkan Israel, sekarang kuasa itu dipakai untuk menghukum mereka. Dalam a.14, Israel tidak hanya melanggar hukum Allah dengan berbuat jahat, tetapi juga dengan menyembah Allah dengan cara yang salah. Dalam 1 Raj 12:25 dst diceritakan bagaimana Yerobeam mendirikan Betel dan Dan, lengkap dengan patung anak lembu emas, sebagai pusat ibadah Israel, padahal Bait Allah di Yerusalem sudah dibangun sebagai tempat ibadah yang ditentukan Allah. Hal itu menjadi dosa paten Israel, tetapi bagi Amos kesalahannya tidak hanya secara formal. Golongan atas Israel mengambil jalan sendiri baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sosial. A.15 memberi gambaran tentang kemewahan yang dinikmati golongan itu. Yang dibanggakan dan diandalkan akan dihancurkan.

Maksud bagi Pembaca

Tuhan mau supaya Israel sadar, bertobat dan luput dari hukuman. Kesadaran itu tentang pentingnya cara berkuasa yang jujur dan adil, kebalikan dari apa yang digambarkan dalam ayat-ayat ini. Sebagai peringatan, hukuman itu juga merupakan penyampaian tentang betapa tidak berkenannya cara yang tidak jujur dan adil itu di hadapan Tuhan.

Makna

Perincian dosa Amos terlalu mudah dikaitkan dengan kondisi di Indonesia. Yang menarik dalam aa.9-10 adalah penekanan pada kurangnya kejujuran sebagai kunci untuk keempat gejala buruk di sekitarnya. Jika keempat gejala itu dianggap buruk, maka dengan otomatis kita semestinya menghargai kejujuran.

Yang lebih rumit ialah pemahaman tentang hukuman Allah, dan bagaimana ancaman itu berfungsi sebagai alasan untuk bertobat. Soal pemahaman tentang hukuman Allah, hukuman atas Israel itu sejajar dengan neraka dalam PB, bukan didikan Allah dalam kehidupan orang percaya. Mengapa saya berkata demikian? Yang pertama, dalam Kisah Agung Alkitab, pembuangan Israel sejajar dengan pengusiran Adam dan Hawa, dan masing-masing berarti pindah dari ranah hidup dan berkat, ke dalam ranah kutuk dan maut. Dalam kitab nabi-nabi, Israel tidak diberi sanksi karena pelanggaran kecil, melainkan ditolak karena membelakangi Allah dan anugerah-Nya, seperti dilihat dalam Amos 3:1-2. Dalam PB, Yesus memberi ancaman neraka kepada kaum Farisi yang menolak anugerah Allah, dan Paulus memberi ancaman neraka kepada orang-orang yang melawan Kristus dengan menganiaya jemaat (2 Tes 1:3-10). Ujung dari hukuman-hukuman ini ialah pemurnian dunia yang dikacaukan oleh dosa, supaya suatu dunia yang baru dapat muncul (bdk. Wahyu 19-20 sebagai persiapan untuk Wahyu 21).

Yang kedua, Paulus menegaskan bahwa orang percaya dibenarkan oleh iman bukan perbuatan (Rom 5:5), sehingga tidak ada lagi penghukuman dalam Kristus (Rom 8:1). Dalam segala kesusahan (Rom 8:17-27; digambarkan sebagai didikan dalam Ibr 12:5-11) Allah bekerja supaya kita menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan (Rom 8:17-18, 28-30). Kesusahan hidup bukan hukuman melainkan didikan. Kesusahan tertentu bisa saja terkait dengan sebuah kesalahan atau kekurangan karakter, tetapi tujuannya bukan untuk menghukum saya, melainkan supaya saya belajar daripadanya.

Namun, hukuman Allah tetap menyatakan sikap Allah terhadap dosa yang dikecam. Allah begitu membenci pemerasan dan kekerasan sehingga Dia akan—bahkan harus—menyingkirkan semua orang yang bertekad hidup di dalamnya. Hal-hal itu sama sekali tidak cocok dengan dunia baru. Bagi orang yang tidak mengenal Allah sebagai Bapa, tetapi sebagai Polisi Agung, hal itu kedengaran sebagai ancaman yang memaksa. Tetapi bagi orang percaya, hal itu mendorong dengan cara yang lain. Kita sudah diubahkan oleh kasih Allah, sehingga kita tidak mau mengecewakan Allah. Hal-hal yang jijik bagi Allah menjadi jijik bagi kita juga. Makanya, Paulus mengatakan bahwa kasih karunia “mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi” (Tit 2:11-12).

Dalam rangka itu, adalah menarik untuk mengamati bahasa Paulus dalam kitab Roma. Paulus mengatakan bahwa ada hukuman Allah yang dialami sekarang juga, yakni, orang berdosa diserahkan “kepada keinginan hati mereka akan kecemaran” (Rom 1:24). Hidup dalam dosa begitu menjijikkan sehingga dapat dianggap sekaligus sebagai hukuman. Makanya, dalam Rom 8:1 tadi, penghukuman yang daripadanya kita bebas dalam Kristus tidak hanya neraka, tetapi juga hidup yang terjebak dalam dosa (bdk. Rom 7:24).

Jadi, inti dari makna perikop ini bukan, “Jujurlah, supaya jangan malapetaka menimpamu”, melainkan, bagi orang percaya, “Jujurlah, karena itulah yang dirindukan oleh Allah yang telah menyelamatkanmu”, dan bagi orang fasik, “Bertobatlah, karena pemerasan dan kekerasanmu tidak memiliki tempat dalam dunia mendatang.”

Pos ini dipublikasikan di Amos dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s