1 Taw 29:10-19 Memberi kepada Tuhan yang Agung (1 Juli 2012; Pekan Spiritualitas & Persembahan)

Perikop ini bukan tentang kasih Allah. Tentu, perikop ini tidak menyangkal kasih Allah. Hanya, bukan itu temanya. Simaklah sendiri: kasih Allah mungkin saja tersirat dalam kelimpahan Israel, tetapi yang tersurat adalah keagungan dan kemuliaan Tuhan. Dalam menghadapi jemaat yang penuh pergumulan, kita cenderung menganggap bahwa mereka perlu dihibur dengan pesan tentang kasih Allah. Tetapi keagungan Allah cocok dengan tema persembahan. Kita hanya akan memberi dengan tulus jika wawasan kita sudah menjadi lebih luas daripada pergumulan diri sendiri. Kita semua perlu mengetahui bahwa ada yang lebih penting daripada diri saya sendiri, bahkan lebih penting daripada keluarga dan suku. Tidak ada yang lebih penting daripada Allah yang dikenal dalam Yesus Kristus.

Penggalian Teks

1 Tawarikh 17, sama seperti 1 Raja-raja 7, menceritakan janji Allah kepada Daud bahwa anaknya akan mendirikan Bait Allah dan selalu ada di takhta Yerusalem. Tetapi penulis 1-2 Tawarikh memberi fokus yang jauh lebih besar terhadap Bait Allah dan ibadah Israel. Dalam p.22, Daud memulai persiapan bahan untuk Bait Allah. Setelah jabatan-jabatan dalam ibadah dan pemerintahan diatur dalam pp.23-27, dalam p.28 (yang akan dikhotbahkan pada bulan September 2012) Daud mengumpulkan seluruh pimpinan Israel untuk memberi pesan terakhir kepada mereka, dan kepada Salomo di hadapan mereka. Pesan itu dilanjutkan dengan Daud mempersembahkan persembahan yang besar, diikuti oleh para pembesar yang ada di sana (29:1-9). Jumlah emas saja kurang lebih 300 ton.

Jumlah yang luar biasa itu menunjukkan bahwa Israel sungguh sudah diberkati oleh Allah. Perikop kita merupakan doa Daud di depan jemaah (a.10a). Berdasarkan tema yang diwakili dalam inklusio, kita dapat membagi doanya ke dalam tiga bagian. Aa.10b-13 merupakan pujian Daud (a.10b, a.13) tentang sifat-sifat Allah yang memungkinkan kelimpahan Israel. Aa.14-17 menyampaikan respons Israel yang dapat memberi dengan tulus (a.14, a.17) karena sadar bahwa kelimpahan itu berasal dari Allah. Aa.18-19 merupakan doa Daud untuk Israel dan raja barunya, Salomo, supaya ketulusan itu dilanjutkan. Di tengahnya, a.15 menunjukkan bahwa ketulusan mereka berasal bukan dari usaha mereka untuk mengubah hati mereka menjadi tulus, melainkan dari kesadaran bahwa di dalam diri mereka tidak ada apa-apanya.

Bagian pertama memuat banyak kekayaan tentang Allah. A.10a mengidentifikasi Allah yang dipuji sebagai Yahweh, Allah Yakub (Israel), Allah yang kekal. Kata “terpujilah” adalah kata yang biasanya akan diterjemahkan “diberkatilah”. Para penerjemah rata-rata agak was-was dengan konsep bahwa manusia dapat memberkati Allah, tetapi pada dasarnya “memberkati” berarti “berbicara baik tentang”. Jika Allah berbicara baik tentang manusia, firman itu sangat berdaya untuk membawa kebaikan ke dalam kehidupannya, alias memberkati. Jika manusia berbicara baik tentang Allah, dia mengakui kebaikan yang sudah ada dalam diri Allah, alias memuji. Kebaikan-kebaikan itu yang diuraikan dalam aa.11-12.

A.11a mendaftar lima sifat Allah. Kedua sifat pertama merujuk pada kemampuan-Nya: Dia lebih besar dari segalanya, dan akan berjaya atas apa saja yang menentang-Nya. Ketiga sifat berikut merujuk pada nama atau reputasi-Nya. Di balik kata “kehormatan” (dalam bahasa aslinya) ada konsep keindahan, di balik “kemasyhuran” mungkin ada konsep kekekalan, dan “keagungan” merujuk pada ciri-ciri yang menyatakan kemampuan. Allah itu layak dipuji bukan hanya sebagai yang Mahakuasa, tetapi juga sebagai yang terindah, paling tetap, dan teragung. Segala kuasa dan kemuliaan di langit dan bumi adalah milik-Nya. A.11b membuat gambaran itu lebih konkret: Allah berjaya dan mulia sebagai Raja dan Kepala atas segalanya.

A.12 menghubungkan sifat Allah itu dengan manusia. Dia adalah sumber pribadi kekayaan dan kemuliaan yang dimiliki Daud dan Israel. Saya mengatakan “pribadi” untuk membedakan, misalnya, PLN sebagai sumber listrik dengan, misalnya, orangtua sebagai sumber dana atau restu. Yang satu terjadi secara otomatis (asal membayar), tetapi seorang anak harus menghadap orangtuanya. Walaupun benar bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu, di sini “dari pada-Mu” bisa juga diterjemahkan “dari hadapan-Mu” (“dari depan muka-Mu”). Daud sedang berdoa kepada Allah yang berkuasa atas segalanya, yang memegang kemampuan untuk membesarkan dan mengukuhkan segalanya, dan berkat-berkat itu akan dikaruniakan kepada orang-orang yang menghadap-Nya. A.13 menegaskan bahwa Daud serta Israel sedang menghadap Allah dengan mengakui dan memuji sifat-sifat itu. Mereka menempatkan diri sebagai orang-orang yang menjadi bagian dari Kerajaan Allah dan bergantung sepenuhnya kepada Allah sebagai Kepala.

Aa.14-17 menjelaskan sifat Israel dalam persembahan mereka. A.14 mulai dengan perendahan diri, pertama-tama sebagai kesadaran bahwa yang mereka berikan berasal dari Allah, seperti telah ditegaskan dalam a.12. A.15 memperluas perendahan diri itu dari segi waktu: mereka hanya pendatang sementara dalam bumi ini, sama seperti nenek moyang yang memang telah berlalu. Makanya, tidak ada harapan pada mereka. Hal itu juga mendukung permohonan Daud di bawah: jika Tuhan tidak bertindak, hancurlah umat-Nya! A.16 mengingatkan Tuhan tentang tujuan persembahan itu, yakni, Bait Allah di mana nama-Nya akan dipuji. Daud dan para pembesar yang berada di sana akan berlalu, tetapi Bait Allah akan tetap menjadi titik persekutuan antara Allah dengan umat-Nya. Dengan demikian, Daud sudah menunjukkan bahwa tidak ada kepentingan Israel dalam persembahan itu selain Allah, karena mereka sadar bahwa mereka hanya saluran berkat Allah supaya nama-Nya dimuliakan di dalam Bait Allah. Jadi, dalam a.17 Daud berani mengaku bahwa dia memberi dengan tulus. Bukti pendukung ialah sukacita yang dengannya mereka memberi.

Aa.18-19 kembali mengangkat hubungan Israel dengan Allah. Respons yang layak terhadap keagungan Allah ialah ketulusan dalam mengembalikan berkat-berkat-Nya, dan itu yang didoakan Daud.

Maksud bagi Pembaca

Doa Daud direkam sebagai pola umat Allah berdoa, yang akan membentuk kita untuk mengenal kebesaran dan kekayaan Allah, sehingga semua yang kita miliki dilihat dan dipakai sebagai pemberian Allah, termasuk memberi dengan tulus dalam kesadaran itu.

Makna

Pujian Daud terjadi dalam konteks pembangunan Bait Allah, di mana pujian Israel akan mendapat fokus karena nama Allah diam di sana. Pujian dan tujuan itu diperkukuh di dalam Kristus, yang membawa hadirat Allah ke bumi. Kristus lebih besar dan berjaya bahkan atas maut dan dosa. Allah menempatkan Dia sebagai Kepala atas segala sesuatu dengan cara yang sungguh indah, yakni melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga dengan sukacita kita tunduk kepada-Nya dan mau menjadi bagian dari kerajaan-Nya.

Selama ini saya menafsir hal memberi dengan tulus atau sukarela sebagai soal sikap dalam hati, kurang lebih bahwa saya tidak terlalu kesal melepaskan uang sekian untuk sesuatu di luar kepentingan saya. Tetapi ada satu konteks di mana dengan otomatis saya akan memberi dengan tulus, yaitu, jika uang yang saya berikan adalah titipan dari orang lain. Karena uangnya tidak berasal dari saya, saya tidak harus melawan rasa kesal ataupun rasa bangga. Berhadapan dengan kelimpahan di Israel, Daud menjadi sangat sadar bahwa semua yang dimiliki manusia sebenarnya tidak lebih dari titipan seperti itu.

Tentu, kita diberkati Tuhan bukan hanya untuk memberikan persembahan, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari (2 Tes 3:12). Namun, sebagai pendatang sementara di dunia ini, kita justru bangga bahwa Tuhan memampukan kita untuk menjadi bagian dari karya-Nya yang kekal melalui persembahan kita.

Tujuannya supaya nama Tuhan yang agung itu diperbesar. Jika nama manusia yang diperbesar, hal itu janggal dan bodoh. Memberi dengan tulus berarti memberi dengan kesadaran bahwa saya mengembalikan pemberian Tuhan supaya pihak yang agung, yaitu Tuhan, yang dimuliakan.

Pos ini dipublikasikan di 1 Tawarikh dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke 1 Taw 29:10-19 Memberi kepada Tuhan yang Agung (1 Juli 2012; Pekan Spiritualitas & Persembahan)

  1. Eben Heiser berkata:

    Thanks. Kadang-kadang kita merasa enggan untuk memberi karena kita belum sadar bahwa segala yg kita miliki adalah titipan Tuhan. Kita hanya dipercaya sebagai pengelolanya. renungan yg luar biasa. Menyadarkanku semakin bergantung kepada-Nya.amin.

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih, saya juga belajar dari perikop ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s