Luk 16:1-9 Cerdik memakai Mamon (8 Juli 2012)

Tema yang mau dibangun oleh Membangun Jemaat dari perikop ini pada akhir minggu persembahan ialah pengelolaan persembahan yang jujur. Masalahnya, perumpamaan ini kelihatan memuji seorang pengelola yang tidak jujur, tetapi cerdik (a.8a). Baru dalam ayat-ayat berikut (16:10-13) tema tanggung jawab menjadi jelas. Jadi, ada dua tantangan dalam perikop ini. Yang pertama dan yang paling penting ialah, menyampaikan pesan Yesus yang sebenarnya, dengan menghargai kejutan yang Dia sendiri pasang dalam cerita ini. Yang kedua, dan menyangkut konteks Gereja Toraja saja, yaitu menghubungkan kecerdikan itu dengan harapan dari pedoman Membangun Jemaat tersebut. Hal itu menuntut kecerdasan tertentu dari Pembaca, atau paling sedikit, konsentrasi untuk mengikuti argumentasi saya yang tidak sederhana.

(Sebagai catatan, dalam persiapan saya kembali dibantu dengan memperhatikan basaha aslinya. Kiranya ada yang didorong oleh upaya ini untuk mengembangkan/melanjutkan kemampuannya dalam bidang itu.)

Penggalian Teks

Lukas pp.9-19 merupakan perjalanan Yesus ke Yerusalem, dan berbicara tentang menjadi murid Yesus. Yang menjadi lawan Yesus, dan juga sumber perbandingan Yesus, ialah orang Farisi. Misalnya, pasal sebelum perikop kita (p.15) memuat tiga perumpamaan yang terkenal tentang berbagai orang yang hilang. Sasaran Yesus termasuk orang Farisi yang bersungut-sungut bahwa Yesus menerima orang-orang berdosa (15:2). Luk 16:14, setelah perikop kita, juga menunjukkan bahwa orang Farisi adalah sasaran Yesus, kali ini tentang cinta mereka akan uang. Namun, a.1 menyoroti murid-murid Yesus sebagai sasaran perumpamaan ini. Isinya mengangkat soal kejujuran yang mungkin saja menyinggung orang Farisi, tetapi penerapan Yesus sendiri berbeda dalam aa.8-9, dan baru dalam aa.10-13 soal kesetiaan dalam tugas muncul kembali.

Perumpamaan Yesus terdapat pada aa.1b-8a. Konteks yang kemungkinan besar digambarkan di dalamnya sebagai berikut. Orang kaya itu memiliki serangkaian ladang dengan berbagai hasil, termasuk minyak dan gandum. Dari jumlah yang disebutkan dalam cerita ini, ladang-ladang itu cukup besar. Ladang itu disewakan kepada penggarap dengan cara membagi hasil. Karena hasil dari sebuah ladang tidak menentu, ada ruang gerak untuk seorang bendahara bermain. Jika ada masalah (misalnya, hama), utang itu bisa dikurangi. Itulah yang dilakukan dalam aa.5-7. Mungkin juga permainan seperti itu yang dilaporkan dalam a.1, atau mungkin yang dia lakukan adalah pemboroson, sama seperti, dalam konteks modern, pegawai yang terbang dalam kelas eksekutif, atau menyewa kamar hotel bintang lima, atau anggaran hiburan dipakai bukan hanya untuk makan bersama dengan klien tetapi juga ke pelacur. (Dalam bahasa aslinya, kata “menghamburkan” dalam a.1 sama dengan kata “memboroskan” dalam 15:13, tentang anak yang hilang itu.) Yang jelas, tuannya rugi.

Aa.1-2 menyampaikan latar dari cerita ini: ulah bendaraha itu ketahuan, sehingga dia akan dipecat. Aa.3-4 menggerakkan cerita yang berikut. Ternyata, uang yang dihamburkan tidak ada yang ditabung, sehingga bendahara itu dalam kesulitan. Setelah menolak dua jalan keluar (mencangkul dan mengemis), dia sampai pada rencana untuk mendapatkan tumpangan baginya kelak. Rencana itu tidak dilaporkan, tetapi muncul dalam cerita selanjutnya (aa.5-7). Karena pemecatan itu butuh waktu untuk diproses (bdk. “pertanggungjawaban” dalam a.2b), dia mengambil kesempatan untuk mengubah jumlah-jumlah utang. Bahasanya dalam a.6b dan a.7b lebih jelas dalam bahasa aslinya: “terimalah suratmu dan tulislah lima/delapan puluh”. Bahasa asli tidak menentukan apakah mereka membuat surat yang lain atau “memperbaiki” surat yang ada, tetapi yang menonjol di sini adalah soal penerimaan. A.4b secara harfiah berbunyi, “mereka akan menerima aku ke dalam rumah-rumah mereka”. Mereka ditawarkan untuk “menerima” surat utang, supaya nanti “mereka menerima aku”.

Cara itu memang cerdik. Karena dia telah membantu para pengutang, dia bisa berharap untuk dibantu setelah dipecat. Dengan demikian dia telah memakai kekayaan bosnya untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi pengurangan utang adalah tindakan murah hati yang membawa penghormatan bagi tuannya. Tidak mungkin tuannya mengembalikan kemurahan itu, atau menghukum bendahara itu, karena dengan demikian dia akan merusak penghormatan itu. Makanya, tuan itu mengakui kecerdikan bendahara itu (a.8a).

Aa.8b-9 merupakan komentar langsung Yesus tentang perumpamaan ini, sedangkan aa.10-13 berbicara lebih luas. A.8b menyoroti soal kecerdikan. Kata “cerdik” (phronesis) berarti kemampuan untuk mengambil tindakan yang tepat untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Yesus mengeluh bahwa orang-orang duniawi (seperti bendahara) cerdik dengan kalangan mereka sendiri (seperti orang-orang yang berutang), sedangkan anak-anak terang kurang cerdik di dalam kalangan anak-anak terang. Dengan bahasa itu Yesus berbicara tentang urusan dunia dan urusan Kerajaan Allah. Anggaplah sebagai contoh, banyak perusahaan bisa bertahan lama dan berkembang dengan visi yang jelas, sementara gereja-gereja tertentu mandek dalam formalitas atau semangat yang tak keruan.

A.9 mengangkat sasaran kecerdikan bendahara, yaitu, bagaimana dia mengikat persahabatan yang saling menguntungkan. Hal itu ditunjukkan oleh Yesus dengan a.9b kurang lebih mengutip a.4b (secara harfiah, a.9b berbunyi “…mereka menerima kamu ke dalam kemah-kemah abadi”). Dalam kedua ayat ada kelompok yang menerima kelompok yang lain ke dalam rumah tertentu karena persahabatan yang diikat. Hal itu jelas dalam a.4, dan dalam a.9 yang diterima jelas adalah murid-murid Yesus atau anak-anak terang. Kemudian, rumah orang-orang yang berutang menjadi “kemah-kemah abadi”. Yang dimaksud Yesus boleh disebut surga, tetapi bahasanya merujuk pada zaman. “Anak-anak dunia ini” secara harfiah adalah “anak-anak zaman ini”, dan kata “abadi” adalah kata “zaman”, yaitu, zaman mendatang. Jadi, “mereka” akan menyambut murid-murid Yesus ke dalam zaman baru karena kecerdikan murid-murid mengikat persahabatan dengan “mereka”.

Lalu, siapakah “mereka” itu? LAI menafsir “mereka” sebagai bentuk pasif (“diterima”), sehingga artinya bisa Allah (atau Allah serta para malaikat). Kita harus memakai uang dengan cerdik (secara kreatif) sehingga menyenangkan Allah. Sepintas lalu, tafsiran itu dapat klop dengan aa.10-13, yang mendorong kita untuk memakai Mamon secara bertanggung jawab (a.11), yaitu, sebagai alat untuk rencana Tuhan, bukan sebagai tuan (a.13). Masalahnya, “persahabatan” terdapat dalam bentuk jamak (harfiahnya, “sahabat-sahabat”), sehingga tidak bisa berarti Allah saja, dan agaknya aneh jika kita disuruh untuk mengikat persahabatan dengan malaikat-malaikat. Jadi, saya kira bahwa tetap manusia yang dimaksud. Orang-orang itu seakan-akan mendahului murid-murid Yesus ke surga/dunia baru, dan menjadi bukti akan layaknya murid-murid itu untuk masuk juga. Jika kita melihat pasal sebelumnya, kita melihat cara Yesus mengikat persahabatan dengan orang-orang berdosa (15:2), sehingga yang hilang bertobat dan ada sukacita di surga (15:7). Jika kita melihat ke akhir p.16, ada contoh negatifnya, yaitu Lazarus dan orang kaya. Orang kaya itu tidak mengikat persahabatan dengan seorang miskin yang di depan rumahnya, sehingga dia tidak diterima oleh Allah. Orang yang miskin rohani dan jasmani yang dengannya kita mengikat persahabatan yang saling menguntungkan. Mereka menjadi harta di surga yang akan menyambut kita.

Dan persahabatan itu diikat dengan “Mamon yang tidak jujur”. Aa.10-13 menguatkan bahwa Yesus berbicara tentang uang dan harta benda. Persahabatan itu diikat di dunia ini, dengan hal-hal duniawi yang dipakai dengan cerdik. Aa.10-13 mengimbangi soal kecerdikan itu dengan penekanan akan tanggungjawab, tetapi tetap Mamon yang dipakai. Walaupun Mamon itu tidak memiliki masa depan, Mamon ternyata berguna. Bukan karena kemewahan yang bisa dibeli, tetapi karena persahabatan yang bisa dibangun.

Maksud bagi Pembaca

Yesus mau supaya murid-murid-Nya cerdik dalam memakai Mamon di dunia ini, sehingga persahabatan-persahabatan diikat yang akan memiliki dampak yang kekal. Hal itu disampaikan melalui sutu cerita yang lucu dan menarik, sekaligus menggelitik. Dengan tokoh-tokoh yang mirip dengan tokoh yang sering terdapat dalam perumpamaan-perumpamaan yang lain, yaitu, seorang tuan dan orang-orang di sekitarnya, Yesus menjungkirbalikkan dugaan pendengar. Bendahara itu tidak jujur tetapi dipuji oleh tuan itu. Yesus tidak menyoroti ketidakjujuran bendahara itu melainkan kecerdikannya dalam mengikat persahabatan. Seakan-akan, Dia sengaja menggelitik para pengikut-Nya yang begitu terpukau pada soal kejujuran sehingga relasi-relasi yang berguna bagi tujuan-tujuan Kerajaan Allah tenggelam dalam kekakuan dan wawasan yang sempit.

Makna

Dengan memahami bahwa Yesus tidak terfokus pada soal ketidakjujuran, tetapi tetap berbicara tentang Mamon, aspirasi Membangun Jemaat tadi bisa terwujud. Semestinya, persembahan yang ditekankan selama minggu ini dikelola bukan hanya dengan jujur (aa.10-12 mendukung pokok itu) tetapi juga dengan cerdik. Bagi saya, hal itu sangat relevan, karena ada banyak hal dalam penggunaan persembahan yang sebenarnya pelik. Apakah diakonia mengikat persahabatan dengan orang miskin? Bagaimana? Gagasan tentang diakonia karitatif, reformatif dan transformatif adalah usaha untuk berdiakonia dengan cerdik (tetapi baru menjadi cerdik jika diterapkan). Apakah anggaran marturia (kesaksian) mendukung warga jemaat untuk mengikat persahabatan dengan orang yang belum mengenal Kristus? Terlalu banyak anggaran gereja akan mendukung keluhan Yesus dalam a.8b: tulus tetapi tumpul.

Kecerdikan malah menjadi satu lensa untuk menyoroti karya Yesus. Dia sering cerdik dalam menanggapi lawan-lawan-Nya, seperti dalam ketiga perumpamaan dalam p.15, lebih lagi ketika Dia bisa berkuasa di Bait Allah selama berhari-hari. Rencana keselamatan yang Dia laksanakan juga cerdik: tanpa lembaga, aparat atau prasarana (tetapi ada yang memakai Mamon mereka untuk mendukung Dia, Luk 8:3), Dia dapat mendirikan gerakan baru; melalui “kekalahan” yang besar di salib, Dia bisa mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Keselamatan oleh anugerah; pembenaran oleh iman bukan perbuatan; pengudusan oleh keinginan Roh bukan oleh usaha daging; semuanya adalah hal-hal yang sangat tepat untuk kondisi manusia sekaligus sangat mengejutkan—artinya, betul-betul cerdik. Cerdik untuk apa? Supaya banyak orang menjadi sahabat Allah dan berkumpul di kemah-kemah abadi di dunia baru.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Luk 16:1-9 Cerdik memakai Mamon (8 Juli 2012)

  1. Ping balik: Cerdik Memakai Mamon « writewritewrite

  2. abuchanan berkata:

    Tanggapan yang menarik, terima kasih. Ada dua catatan saya dari segi bahasa aslinya. 1) NIV (“commend”) pun berarti “memuji”, hanya mereka memilih kata yang tidak sehangat “praise”. Bahasa Yunaninya berarti “memuji”–“menyatakan rasa kagum atau perkenan (approval)” (BDAG [Leksikon Yunani-Inggris]) 2) A.9a tidak berarti “bersahabatlah dengan Mamon” tetapi “bersahabatlah dengan manusia dengan mempergunakan Mamon”. Ada kiasmus di situ (yang berikut terjemahan harfiah-kaku):
    A. “Buatlah sahabat-sahabat bagi dirimu sendiri”
    B. “dengan [Yunani ‘ek’ di sini = alat/sarana] Mamon yang tidak jujur”
    B.’ “supaya ketika [Mamon] itu gagal”
    A.’ “mereka menerima kamu ke dalam kemah-kemah abadi”. Yang kekal ialah relasi, Mamon hanya berguna sejauh mana dapat mendukung relasi.
    Tentu, saya tidak berani mengatakan hanya tafsiran saya yang sah. Dan saya setuju bahwa Yesus menyindir orang-orang duniawi–termasuk keenganan bendahara itu untuk mencicipi kesusahan kehidupan orang banyak (a.3) Tetapi saya melihat tafsiran itu konsisten dengan dan melengkapi a.13: mamon itu bersifat sementara saja, sehingga bodoh banget sebagai tuan (a.13), tetapi ternyata bisa dipakai untuk mendukung relasi yang bersifat kekal. Juga masuk akal saya jika kecerdikan adalah bagian dari kesetiaan dalam aa.10-12. Dalam perumpamaan tentang talenta, ketiga hamba itu jujur–tetapi hanya dua hamba mampu menghasilkan keuntungan bagi tuannya.

  3. roby berkata:

    bagai sya bacaan ini masih membingungkan bagai saya. ketika pertama membacanya, saya malah punya sedikit pemahaman:
    memang saya juga tidak terlalu mengerti dengan mengapa tuan itu memuji. kalo saya bacaterjemahan NIV mengatakan mengomentari bukan bahasa memuji. sya berpikir bahwa sebenarnya itu bukan sebuah pujian. sya mencoba melihat dri awal gagasan untuk berbohong ini adalah dipeikirkan dalam hati oleh bendahara ini.karena tidak bisa kerja lain,makanya dia berusaha memperbaiki surat utang dengan pemhaman bahwa yang sisanya nanti dia akan ambil. terus supaya diapunya bekal ketika dipecat.
    kecerdikan yang dikatakan di sini sya pahami sebagai kemampuan bendahara ini untuk mempersiapkan diri nantinya ketika dipecat dengan jalan memperbaharui surat agar tidak jatuh miskin nantinya. mengapa demikian karena sya merlihat ayat 8bseakan-akan menjadi sindiran bahwa memang sperti itulah keadaan orang duniawi yang “penuh dosa” menjadi seorang yang cerdik yang berbuda dengan orang terang “jujur dan tulus”.
    ayt 9 menjadi kunci yang saya lihat sebagai sindiran yang kalau dihubungkan dengan perumpamaan anak yang hilang maka agak sama yakni ketika selesai menghamburkan uang (“mengikat diri dalam dosa”) dan tidak mampu lagi memuasakan mereka maka akan mencari yang lebih kuasa (kembali ke Bapa) sebgai sumber pertologan dan pengampun na di stulah Tuhan ada (kemaah abadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s