Mzm 115 Percaya sehingga diberkati demi kemuliaan Allah (15 Juli 2012)

Perikop yang ditentukan untuk minggu ini Mazmur 115:1-8, bukan Luk 10:38-42 (bdk. tgl 2 Sep 2012). Saya membahas seluruh mazmur tersebut karena aa.1-8 belum jelas di luar konteks seluruh mazmur, dan juga aa.9-18 menjadi bahan Kebaktian Rumah Tangga. Tantangan dalam perikop ini adalah pemaknaan berhala, dan bobot pembahasan berhala dalam khotbahnya. Khotbah yang begitu saja menyamakan harta benda dengan berhala bisa membingungkan jemaat, karena, berbeda dari patung yang disembah, harta benda berguna dan layak disyukuri. Tetapi yang paling buruk ialah khotbah yang tidak menjunjung tinggi Allah dan mendorong jemaat untuk berbuat demikian, padahal itulah tujuan dari mazmur ini.

Penggalian Teks

Struktur Mazmur ini bisa digambarkan sebagai kiasmus, sebagai berikut:

A. Allah, bukan Israel, dimuliakan karena Dia yang setia dan yang berkuasa di surga (aa.1-3)

B. Berhala buatan manusia tidak berdaya (aa.4-7)

C. Pembuat dan pengikut berhala demikian juga (a.8)

C.’ Israel percaya kepada Tuhan Sang Penolong (aa.9-11)

B.’ Tuhan berdaya memberkati Israel di bumi (aa.12-16)

A.’ Israel, bukan orang mati, akan memuji Allah selama hidup (aa.17-18)

Jadi, seruan untuk percaya ada di tengah perbandingan antara berhala yang tidak berdaya dengan Allah yang memberkati, dan perbandingan itu ada di tengah dorongan untuk memuji Allah. Jelas bahwa aa.1-8 hanya dapat dipahami dalam konteks seluruh mazmur.

A.1 mulai dengan kata “bukan”, untuk menyangkal manusia sebagai sasaran pujian. Allah layak dipuji karena kasih dan setia-Nya. Kedua kata ini (dalam bahasa Ibrani: khesed = kasih setia; dan ‘emet = kesetiaan) dipakai Allah dalam Kel 34:6 sehingga bisa dianggap meringkas sikap Allah terhadap Israel, pertama-tama dengan penyelamatan dari Mesir, dan dalam banyak peristiwa kemudian. A.2 menunjukkan kebingungan bangsa-bangsa dengan satu ciri lain dari Allah—Dia tidak boleh diwakili dengan patung. Alasannya dalam a.3 karena Dia berdiam di surga, sebagai Raja mutlak yang menentukan segalanya (frase dalam 3b itu frase lazim untuk menggambarkan kuasa raja-raja). Kasih dan kuasa (keselamatan dan kedaulatan) Allah menjadi dasar pujian Israel.

Aa.4-7 merupakan salah satu perikop klasik yang menyindir berhala bangsa-bangsa. Intinya “buatan tangan manusia”. Sebagai buatan tangan manusia, berhala-berhala itu memiliki berbagai ciri, tetapi ciri-ciri itu semuanya tidak berfungsi. Jika Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya, berhala-berhala itu tidak melakukan apa-apa. A.8 memperluas sindiran itu kepada pembuat dan penganut berhala.

Maksud dari aa.4-8 baru menjadi jelas dalam ayat-ayat berikut. Aa.9-11 menghimbau Israel untuk percaya kepada Tuhan, sebagai yang menolong di dalam masalah dan melindungi dari masalah. Ayat-ayat ini menunjukkan konteks ibadah: paruh kedua setiap ayat memakai orang ketiga (“mereka”), sedangkan paruh pertama setiap ayat langsung mengalamatkan satu kelompok (“percayalah”). Hal itu bisa menjelaskan mengapa kaum Harun, artinya, para imam, disebutkan. Israel, dalam artian orang-orang awam yang mengikuti ibadah (bdk. Ezra 9:1) dialamatkan, kemudian para imam yang melaksanakan ibadah, kemudian semua bersama sebagai orang yang takut akan Tuhan. Pertolongan Allah adalah wujud dari kedaulatan dan kasih setia-Nya.

“Tuhan telah mengingat kita” pada awal a.12 adalah kesaksian yang cocok jika pertolongan Allah dialami. Yang berikut ialah janji berkat, hasil dari keselamatan. Ketiga golongan disebut kembali, dengan penambahan “baik yang kecil maupun besar”, mungkin suatu petunjuk bahwa berkat bukan hanya keamanan dari luar tetapi juga keadilan ke dalam. Aa.14-16 merujuk pada Kejadian 1:28. Berkat termasuk keturunan, dan juga kebebasan dan tanggung jawab untuk berkuasa di bumi. Implikasinya bahwa yang percaya pada berhala tidak menikmati kemanusiaan yang utuh itu.

A.17 kembali mulai dengan kata “bukan”. Kali ini kata itu mengangkat manusia yang hidup sebagai pemuji Allah. Jika Allah menolong dan memberkati, Israel akan tetap berada untuk memuji Allah.

Maksud bagi Pembaca

Jika seluruh mazmur dilihat, Israel disuruh untuk percaya kepada Allah yang sebenarnya supaya ditolong, diberkati dan tetap memuji Tuhan. Aa.1-8 membandingkan Allah yang setia dan berkuasa dengan saingan-saingan-Nya yang tidak berdaya, supaya sasaran dari kepercayaan itu jelas.

Makna

Bagi Israel, kasih setia dan kuasa Allah dilihat secara mendasar dalam keluaran dari Mesir. Bagi orang Kristen, kasih setia dan kuasa Allah dilihat di dalam Kristus. Yoh 1:17 mengutip kedua kata khesed dan ‘emet ketika dikatakan bahwa “kasih karunia [charis] dan kebenaran [aletheia] datang melalui Yesus Kristus”. Pengorbanan Yesus membuktikan kesetiaan Allah; kebangkitan-Nya membuktikan kuasa Allah; dan seluruh aspek kedatangan-Nya, dari kelahiran-Nya sampai kedatangan-Nya kembali, memperlihatkan kasih dan kuasa Allah dengan begitu jelas. Lebih lagi, Kristus tidak hanya berada di surga, Dia pernah hidup di bumi sebagai Anak Manusia.

Calon utama untuk berhala dalam PB ialah Mamon. Tetapi, kita harus hati-hati. Dalam perikop minggu yang lalu, Mamon dapat dipergunakan (Luk 16:9), hanya, orang tidak bisa mengabdi kepadanya (Luk 16:13). Dalam Ef 5:5, Paulus menyamakan orang serakah dengan penyembah berhala. Intinya di sini bahwa buatan tangan manusia (entah patung, harta benda atau uang) diandalkan. Manusia semestinya berkuasa atas ciptaan Allah (a.16), bukan menjadi hambanya.

Gambaran aa.4-7 tentang berhala juga harus diartikan dengan hati-hati. Paulus setuju bahwa berhala itu tidak ada (1 Kor 8:4), tetapi dia juga melihat adanya kuasa gelap di baliknya (1 Kor 10:20). Penganut kepercayaan lama Toraja, dan juga penganut bangsa-bangsa pada zaman Israel, akan setuju bahwa ada sosok gaib/ilahi di balik patung (atau tau-tau) itu, tetapi mereka belum tentu akan menerima bahwa sosok itu jahat. Namun, yang menjadi gambar akan ilah mereka ialah patung itu, dan gambar itu ada di bawah kendali manusia. Patung itu dibuat sesuai kepentingan manusia, biasanya kepentingan orang besar (kebalikan dari a.13b).

Israel, yang sedang berkumpul di Bait Allah saat mazmur ini diucapkan, tidak memiliki gambar apa-apa akan Allah. Tentu, di Bait Allah ada berbagai simbol, terutama kurban-kurban yang menjadi cara nyata untuk bersekutu dengan Allah, tetapi Allah dikenal dari firman-Nya, dari cerita-cerita tentang karya-Nya bagi Israel. Dari firman Allah, Israel belajar bahwa Allah dapat berkata-kata, dapat melihat dan mendengar, dsb (mencium kemungkinan merujuk pada penerimaan Allah akan kurban, bdk. Kej 8:21; Im 1:9). Karena Yesus telah naik ke surga, kita juga mengenal Dia dari kesaksian tentang-Nya dalam PB. Atau, jangan sampai gambar utama tentang Yesus di Toraja bukan PB melainkan gambar-gambar gaya orang Eropa yang ganteng dan penuh simpati tetapi tidak menuntut pertobatan. Allah yang sebenarnya yang layak dimuliakan, bukan buatan-buatan manusia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s