Ayub 12:12-25 Allah yang mengacaukan pemimpin (29 Juli 2012)

Kitab Ayub adalah buku yang paling berbahaya jika kita menafsir satu perikop tanpa memperhatikan konteks, termasuk bahwa dalam Ayub 42:7 Allah mengatakan bahwa Ayub berkata benar tentang Allah, tetapi ketiga sahabat Ayub tidak. Masalahnya, perkataan ketiga sahabat memaparkan teologi yang mudah dipahami: malapetaka ada karena dosa. Sedangkan perkataan Ayub seringkali menggelitik, seperti perikop kita. Namun, kita tidak akan belajar jika semua bagian Alkitab harus disesuaikan dengan teologi “sederhana” kita. Dan ada waktunya jemaat juga tidak akan puas dengan teologi yang terlalu sederhana untuk menghadapi kerumitan dunia ini.

Penggalian Teks

Kisah Ayub cukup dikenal. Ayub digambarkan sebagai orang yang tidak bersalah, tetapi ditimpa malapetaka besar dengan kehilangan harta benda dan semua anaknya. Pp.1-2 menceritakan kesabaran Ayub, tetapi mulai p.3 dia mulai mengeluh, karena dia tidak dapat melihat apa salahnya sehingga dia harus menderita seperti itu. Ketiga sahabat yang telah datang untuk menghibur dia (2:11-13) terganggu oleh perkataannya, karena bagi mereka keadilan Allah berarti “siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?” (4:7). Elifas dan Bildad sudah berusaha meyakinkan Ayub, dan dalam p.11 memuat usaha Zofar.

Zofar kesal karena Ayub menganggap diri benar (11:4), dan dia mau mengajarkan hikmat kepada Ayub (11:5-6), khususnya bahwa Allah itu berkuasa tanpa batas (11:7-9) sehingga pasti Dia dapat menghukum pelanggaran (11:10-12). Makanya, Ayub semestinya bertobat (11:13-14) supaya dia diberkati kembali (11:15-20). Dalam balasannya, Ayub merasa digurui (12:2-3), dan mengeluhkan sikap orang yang menghinanya karena malapetaka yang dia alami (12:5), sedangkan orang jahat aman-aman saja (12:6). Orang jahat itu disebut “mereka yang hendak membawa Allah dalam tangannya”, artinya, mereka membuat konsep tentang Allah yang sesuai dengan kepentingan mereka, sebuah “teologi sederhana”. Makanya, dalam perikop kita, dia juga berbicara tentang kebesaran Allah, tetapi dari sudut pandang yang teosentris, yang melihat bahwa Allah bertindak sesuai dengan kepentingan Allah, bukan manusia. Dalam pasal berikut, dia hendak berbicara langsung dengan Allah (13:3), dan dia menuduh bahwa mereka memihak Allah (13:7-10), karena untuk membenarkan pemahaman mereka tentang Allah mereka harus mempersalahkan Ayub, walaupun mereka tidak dapat menjelaskan apa dosanya (dan pp.1-2 menegaskan bahwa dia menderita bukan karena dosanya).

A.12 mengutip (“konon”) pandangan ketiga sahabatnya bahwa tradisi adalah sumber pengetahuan yang terbaik. Tetapi pengalaman Ayub sudah memunculkan pertanyaan besar terhadap teologi sederhana yang mengatakan bahwa malapetaka adalah akibat dari dosa; antara lain Ayub sendiri dihina (akibat yang buruk) padahal dia adalah orang benar (12:4). Aa.13-25 menyampaikan pemahaman Ayub dalam tiga bait. Aa.13-15 mengaku kemampuan Allah untuk mengacaukan alam. Aa.16-21 menceritakan kuasa Allah untuk mengacaukan para penguasa. Hal itu dikembangkan dalam aa.22-25, di mana usaha manusia untuk mengatur dunia (a.22 merahasiakan atau melihat, a.23 menjadi bangsa, a.24 memimpin) menjadi tak karuan (a.25). Allah memang berhikmat dan berkuasa, tetapi kuasa itu bukan di tangan manusia (12:6b), dan manusia sering disusahkan olehnya. Kemauan manusia yang menganggap diri benar ialah Allah menindak para penjahat, tetapi dalam dunia ini Allah memiliki kepentingan yang lain.

Maksud bagi Pembaca

Kitab Ayub secara keseluruhan menentang konsep Allah yang dapat dikendalikan, dan perikop ini khususnya menyatakan hikmat dan kuasa Allah yang menyusahkan harapan-harapan manusia, khususnya kaum pemimpin.

Makna

Pandangan Ayub di sini memang berat sebelah dalam menyoroti kuasa Allah yang mengacaukan. Namun, teologi gereja selalu merosot menjadi teologi sederhana, mungkin karena sebagian besar jemaat tidak berminat untuk mengasihi Allah dengan segenap akal budi mereka, dan dalam hal itu pendeta pun menjadi pengikut, bukan penuntun, jemaat. Dalam wacana gerejawi, seringkali Allah ada hanya untuk menopang kita dalam pergumulan dan menyukseskan cita-cita kita. Itulah Allah yang dibawa dalam tangan.

Lebih spesifik, yang dia bongkar dalam perikop ini adalah apa yang kadangkala disebut “agama sipil”, yaitu pemahaman bahwa pemimpin masyarakat dapat menjamin kesejahteraan dengan menata kehidupan masyarakat dengan baik, dan bahwa Allah akan menjamin usaha para pemimpin itu. Allah dalam agama sipil ada di tangan para penguasa. Bagi Ayub, pemahaman itu adalah harapan semu. Sekali lagi, pemahaman Ayub berat sebelah, karena Allah memang bekerja melalui pemerintah (Rom 13). Tetapi Allah jauh lebih besar daripada masalah pribadi saya, daripada masalah masyarakat, daripada masalah umat manusia. Dia bisa saja membawa malapetaka kepada kita, seperti yang Dia lakukan terhadap Ayub, dan Dia bisa mengacaukan pemerintah dan bangsa, bukan karena dosanya lebih besar daripada yang lain, tetapi karena kepentingan-Nya yang tak terselami oleh manusia.

Pos ini dipublikasikan di Ayub dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ayub 12:12-25 Allah yang mengacaukan pemimpin (29 Juli 2012)

  1. Bry-XP berkata:

    Puji Tuhan, sangat diberkati dengan artikel ini.

    Salam Christ Youth

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s