Nah 2:3-13 Allah Pembela Umat-Nya (12 Ag 2012)

Seorang ayah sering memberi pesan kepada kedua anaknya supaya mereka rajin belajar. Tetapi, kali ini dia menitip pesan pada si kakak bahwa dia sanggup dan mau membela mereka jika ada guru yang bertindak diskriminatif terhadap mereka. Apa kata si kakak kepada adiknya? “Ayo, Ayah bilang kita harus rajin belajar. Juga, jangan khawatir soal guru. Tetapi, yang penting, rajinlah belajar!”

Pertanyaan di sini ialah, apakah si kakak menyampaikan pesan ayahnya dengan setia? Memang, apa yang disampaikan itu tidak salah, tetapi pesan sang ayah yang khas kali ini tenggelam di tengah pesan yang lebih biasa. Pengkhotbah sering seperti kakak itu. Ada pesan dari Alkitab yang disukai, dan memang penting dalam firman Allah. Tetapi pesan itu disampaikan kapan saja. Jika minggu yang lalu, firman berbicara tentang kecemburuan Allah, apakah Pelayan berpanjang lebar tentang hal itu, atau tentang dosa manusia, PI, atau sesuatu yang lain yang menurut Pelayan lebih relevan daripada pokok firman Allah sendiri. Padahal, kita sebagai pelayan juga harus mengasihi Allah dengan perbuatan, yaitu, mendengarkan firman yang ada di depan mata, dan menyampaikan firman itu, bukan firman yang lain. Itulah nilai mendasar dari apa yang disebut khotbah ekspositori.

Bulan ini, Membangun Jemaat memilih dua kitab, Nahum dan Zefanya, yang dalam kebaktian hari Minggu serta kebaktian rumah tangga akan diuraikan kurang lebih habis. Ini kemajuan besar dalam rangka membiarkan firman Allah menentukan pokok yang perlu disampaikan. Namun, perikop ini termasuk perikop yang membuat orang takut untuk konsisten pada pendekatan ekspositori. Tidak ada kata langsung bagi umat Allah, dan sebagian besar menceritakan—secara puitis lagi—kejadian perang. Apa gerangan kaitannya perikop ini dengan jemaat sekarang?

Penggalian Teks

Satu kunci dalam menghadapi perikop yang membingungkan adalah identifikasi jenis sastra. Perikop ini adalah semacam narasi (kisah). Dengan narasi, cara yang sering berguna adalah memilih satu tokoh di dalamnya. Jika makna tokoh itu bagi jemaat sekarang sudah ditemukan, penjelasan ulang isi perikop dan pemaknaannya bisa berjalan seiring.

Ada tiga tokoh yang berperan dalam perikop ini, yaitu, Niniwe yang diserang, para penyerang, dan Tuhan. Niniwe adalah fokus kitab ini (1:1), dan cocok untuk menjadi fokus perikop ini. Apa makna Niniwe? Mereka adalah penentang Tuhan (1:9), yang mengganggu umat Tuhan (1:13)! Mereka dapat mewakili semua manusia dan gerakan yang menganggap diri mapan sehingga bertindak sesukanya.

Jika demikian, cukupkah kita berbicara tentang pembelaan Allah terhadap umat-Nya dengan menjatuhkan para lawan umat-Nya? Memang, itu temanya. Tetapi, jika Roh Kudus mendorong Nahum untuk menceritakannya, mengapa tidak kita menggunakan ayat-ayat ini untuk menyampaikan pesan itu?

Aa.3-6 menceritakan kekalahan Niniwe. Pertahanan utama ialah tembok di sekitar inti kota, yang di dalamnya ada pusat pemerintahan seperti istana. Di luar tembok masih ada permukiman-permukiman. Dalam a.3 keagungan pasukan penyerang disampaikan, dan a.4 menyampaikan kehebohan perang di permukiman di luar kota itu. Dalam a.5, pasukan khusus mencapai temboknya untuk didobrak. Ternyata, cara mereka adalah membuka pintu-pintu yang mengatur pengaliran beberapa sungai yang berjalan melalui kota Niniwe. Dengan demikian, kota, termasuk istana, kebanjiran (6). Niniwe adalah kota yang megah dan menakutkan, tetapi ternyata mereka hanyalah manusia biasa. Sama seperti kelompok fanatik yang meneror gereja, sama seperti kekuatan ekonomi yang menggilas orang kecil.

Aa.7-10 menguraikan kedahsyatan kondisi kota yang telah kalah. Niniwe ditinggalkan oleh para penduduknya yang selama ini mengandalkannya (aa.7-8). Kekayaan yang berlimpah-limpah justru menjadi kesenangan musuh yang menang (a.9). Tanah, hati dan muka sudah hancur (a.10). Kekalahan di sini berarti kehilangan total.

Aa.11-13 memberi refleksi dari proses itu. Aa.11-12 mempertegas bahwa Niniwe adalah bangsa yang ganas, yang memangsa seenaknya dan tanpa takut. A.13 menegaskan bahwa Tuhanlah yang bertindak melawan mereka. Penindas umat Allah kelihatan kuat, tetapi ketika Tuhan bertindak, mereka tidak dapat bertahan, dan mereka akan kehilangan segala-galanya.

Maksud bagi Pembaca

Nahum menguatkan umat Allah dengan menceritakan hebatnya kejatuhan lawan mereka ketika Allah bertindak.

Makna

Adalah penting untuk diamati bahwa bukan Israel yang mengalahkan Niniwe. Hal itu penting karena Tuhanlah pemilik hak membalas (Rom 12:19). Tentu, ada kalanya Israel dipakai Tuhan sebagai alat untuk menghukum, tetapi pada saat itu pun Israel bertindak atas perintah Tuhan, bukan atas inisiatif sendiri. Ketika kita berbicara tentang hukuman Allah terhadap musuh, kita harus selalu mengingat bahwa musuh yang sebenarnya dalam PB adalah Iblis. Makanya, kita berdoa untuk musuh manusiawi, karena anugerah Allah dimuliakan ketika ada pertobatan.

Jadi, perikop seperti ini yang menceritakan hukuman Allah bukan agar kita menjadi senang atas kejatuhan sesama, melainkan supaya kita diberdayakan di hadapan kuasa yang kelihatan mapan dan terlalu kuat untuk kita. Setiap bagian dari perikop ini penting. Kita perlu tahu bahwa kemapanan musuh itu semu. Kita perlu memahami besarnya kehilangan orang yang melawan Allah. Kita perlu diingatkan bahwa Allah adalah lawan mereka. Semoga penceritaan hukuman Allah terhadap musuh-Nya menguatkan harapan kita.

Pos ini dipublikasikan di Nahum dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Nah 2:3-13 Allah Pembela Umat-Nya (12 Ag 2012)

  1. Ping balik: Nahum 2:3-13 Allah Pembela Umat-Nya « writewritewrite

  2. tuto berkata:

    Allah bertindak bukan hanya karna Israel adalah umat pilihanNya. Israel memang bangsa dimana Allah telah mengikat janji. Namun hal yang paling prinsip ialah Asyur telah melakukan perbuatan yang sangat kejam, membantai orang Israel, pemusnahan etnis, mayat mereka ditimbun-timbun.(pasal 3 : 1 – 3 ). Kekejaman ini mengingatkan kita pada Hitler dan Nazinya bagaimana mereka membantai orang Yahudi dengan memasukkan mereka pada kamp-kamp konsentrasi. Dibunuh dengan gas beracun. Kejam- sangat kejam. Allah memakai pergolakan bangsa-bangsa untuk membela orang yang tertindas. Allahla yang pada akhirnya mengendalikan sejarah peradaban manusia. Kesombongan, kekejaman, dan semua perbuatan manusia tdak ada yg luput dari penglihatan n penghukuman Allah. Rohingya diperlakukan tdk adil,dibantai n diusir dri tanah leluhur, pasti Allah punya cara tersendiri dalam memulihkan mahluk ciptaanNya yang mulia ditindas oleh sesamanya. Allah berpihak pada orang yg teraniaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s