Luk 18:15-17 Anak-anak dan Kerajaan Allah (9 Sep 2012; Minggu Anak-anak)

Perikop ini mengangkat keadaan sebagai anak sebagai model untuk menjadi anggota Kerajaan Allah. Tetapi konteksnya berbeda dalam ketiga Injil Sinoptik, sehingga ada penekanan masing-masing. Dalam Injil Matius, misalnya, cerita ini ada di antara ajaran tentang perceraian dan cerita tentang orang kaya, yang masing-masing menekankan betapa besar tantangannya hidup dalam Kerajaan Sorga. Tempatnya dalam Injil Lukas membawa nuansa yang lain.

Penggalian Teks

Lukas 17:20-37 berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah sebagai sesuatu yang membedakan, artinya, ada yang selamat, ada yang dihukum. Perumpamaan berikut (18:1-8) berbicara tentang kerinduan Allah untuk membenarkan umat pilihan-Nya yang tertindas. Pada akhir cerita itu, Yesus bertanya, “jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (18:8). Kemudian, ada tiga cerita yang sepertinya menjelaskan soal iman itu. Orang Farisi itu beriman kepada kesalehannya sendiri (18:11-12), dan orang kaya itu beriman kepada kekayaannya (18:22-23). Hanya pemungut cukai yang imannya seperti seorang anak, yaitu, merendahkan diri (18:14b).

Anak-anak yang dibawa adalah brefos, yaitu anak yang masih menyusu. Anak-anak kecil seperti itu sudah serendah mungkin, sepenuhnya bergantung pada ibu untuk bisa hidup. Mereka dibawa kepada Yesus untuk disentuh, yaitu, diberkati (bdk. Mrk 10:16).

Para murid tidak setuju (15b). Kata “memarahi” (epitimao) berarti menegor dengan keras untuk menghentikan sesuatu. Mengapa mereka keberatan tidak dijelaskan, tetapi jika kita berangkat dari 18:14b, mereka menganggap bahwa tidak pantas kalau Yesus berurusan dengan anak.

Apapun alasannya, Yesus sangat keberatan terhadap mereka (16). Dengan paralelisme yang tegas—“biarlah mereka datang…jangan menghalangi mereka”—Yesus mau menerima anak-anak itu. Justru anak-anak itu yang memiliki sifat anggota-anggota Kerajaan Allah. Implikasinya ialah bahwa cara masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah menjadi seperti anak kecil itu.

Kata brefos tadi menarik karena menutup tafsiran yang merujuk pada kerendahan hati anak. Seorang bayi belum sampai sombong atau tidak, tetapi kerendahannya adalah sesuatu yang objektif. Pemungut cukai itu tidak berpura-pura menyesali dosanya, dia tidak berlagak sebagai orang yang rendah di hadapan Allah, tetapi dia sadar akan keadaannya yang sebenarnya.

Maksud bagi Pembaca

Kita didorong untuk menerima Kerajaan Allah sebagai anak, yaitu, dalam keadaan tidak berdaya. Sejauh mana kita telah menangkap kondisi kita yang sebenarnya akan tercermin dalam sikap kepada orang-orang yang rendah, termasuk anak-anak sendiri.

Makna

Satu cara untuk menggambarkan dosa ialah usaha untuk hidup mandiri, tidak bergantung kepada Allah. Soal anugerah mulai dengan penciptaan—kita tidak “berhak” untuk diciptakan. Tetapi, anugerah itu menjadi lebih tajam ketika Allah tetap menawarkan kehidupan kepada manusia yang telah menolak-Nya. Anak menjadi contoh akan kondisi manusia yang tidak berdaya.

Dari konteknya, kita tidak berdaya untuk mengatasi keberdosaan kita (18:13), dan kita tidak berdaya untuk bertahan hidup (18:24; orang miskin lebih cepat menyadari hal itu). Keadaan itu adalah kenyataannya, dan kesadaran akan keadaan itu bukan suatu alasan untuk Allah menerima kita (seakan-akan kerendahan hati adalah amal), melainkan kesadaran itu memungkinkan kita untuk menyambut Kerajaan Allah dengan tepat. Kesadaran itu pun adalah anugerah Allah (18:27).

Orangtua dan pimipinan gereja yang merendahkan anak tidak salah tentang status anak-anak, mereka salah tentang Allah. Allah meninggikan yang rendah, dan merendahkan yang tinggi.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Luk 18:15-17 Anak-anak dan Kerajaan Allah (9 Sep 2012; Minggu Anak-anak)

  1. Pdt Ida Arlinda berkata:

    Saya sangat tertarik akan Perikop ini, karena kebanyakan “Gereja” dewasa ini mengabaikan pembinaan bagi anak, Pentingnya pendidikan anak/Sekolah Minggu hanya di atas kertas tetapi kenyataannya anak tetaplah warga no 2 di Gereja. hal ini bisa dilihat dari ketersediaan Fasilitas ataupun kesiapan para pelayan dalam mengajar anak. Pdt Arlinda

  2. roby berkata:

    konteksnya jelas dalam Lukas. Saya hanya meelihat dari konteks 1 perikop seb n 1 perikop sesudahnya. sya setuju bahwa yang dipermasalahkan di sini adalah “yang layak masuk kerajaan Sorga”. Orang farisi dan para murid melihat orang yang kecil/”tidak suci” adalah orang yang sungguh tidak layak masuk dalamnya sehingga mereka menyombongkan diri. mereka lupa diri dan mengngap orang terpeinggirkan itu tidak penting. sya melihat Orang farisi mrip “tindakan” para murid yang menghalangi anak2 datang kepada yesus

  3. ulinamasa berkata:

    Untuk bisa masuk dalam kerajaan Allah syaratnya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat. Sejak saat itu individu itu akan menjadi warga kerajaan Allah. Siapa yang memiliki anak memiki hidup, 1 Yoh 5:11-12. Dan disisi lain bukan kita yang memilih Allah tapi Ia yang memilih kita. Karena kasih karunialah kita diselamatkan bukan karena hasil jerih payah kita. Ketika kita memutuskan untuk merendahkan diri menerima karya salib Kristus. Saya punya pemikiran bahwa ketika menerima keselamatan itu sikap kita seperti anak yang tidak berdaya, karena kita tidak mampu menyelamatkan diri kita, agamapun tdak menyelamatkan kita. Cuma Yesus yang menyelamatkan kita. Respon dari Allah adalah janji bahwa kita memiliki kerajaan Allah.
    Sedangkan kerajaan Allah adalah damai sejahtera dan sukacita, dan segala hal yang kita butuhkan sudah disediakan dari sorga. Tinggal bagian kita mengambilnya, dengan hukum bahwa kita adalah ahli warisNYA. Yang berhak menerima apapun yang disediakan oleh kerajaan Bapa kita. Menyambut kerajaan Allah seperti anak-anak kata Yesus, karena seorang anak tidak sulit mempercayai sebuah janji atau perkataan yang diberikan orang dewasa terutama orang yang anak itu kenali. Berbeda dengan respon orang dewasa yang sudah sulit percaya karena tidak masuk logikanya atau sudah mempunyai banyak konsep berpikir. Yang menghalangi orang dewasa menerima kerajaan Allah karena konsep berpikir lama yang belum berubah menjadi pola pikir kerajaan Allah, dimana semua karena kasih karunia bukan karena Taurat yang bersyarat itu. Kalau Taurat bukankah akan ini kalau itu. Sedangkan kasih karunia semua disediakan karena memang di kasih oleh Allah tanpa syarat.

  4. Kartini berkata:

    Makasih, penggalian yg dlm, byk pembaca injil terkecoh dgn gambar Tuhan Yesus memberkati anak2, dan mengabaikan ‘brefos’ yg menunjukkan ketergantungan penuh seorag baby kpd ibunya… Kirax pembaca makin tajam pemahamanx. Tq

  5. tulistulistulis berkata:

    Jelas tafsiran ini mengubah cara saya bercerita kisah yang sangat saya gemari ini. Juga saya jadi mengerti lebih baik dan tepat, mengapa Allah berulangkali menempatkan saya dalam keadaan “brefos”… saya bergantung sepenuhnya kepada-Nya untuk bisa hidup. Terima kasih.

    -eva

  6. Ping balik: Anak-anak dan Kerajaan Allah « writewritewrite

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s