1 Taw 28:1-10 Giat karena dipilih (16 Sep 2012)

Perikop ini bermakna, sebagian karena menyangkut peralihan pemimpin. Pada saat seperti itu, apa yang paling penting akan muncul ke permukaan. Bagi Daud, yang penting adalah kehendak Allah, bukan hanya dalam artian cara hidup yang baik, tetapi juga dalam artian tujuan hidup yang baik. Pertanyaan, “Apa yang dilakukan Allah dalam perikop ini?” membuka makna lebih dalam.

NB: ada tombol di samping, “Pendaftaran”, yang bisa dipakai untuk menerima imel setiap kali ada posting baru. Kalau sudah mendaftar tetapi tidak menerima imel, periksa kotak “Spam” atau “Junk”.

Penggalian Teks

1 Tawarikh 17, sama seperti 1 Raja-raja 7, menceritakan janji Allah kepada Daud bahwa anaknya akan mendirikan Bait Allah dan selalu ada di takhta Yerusalem. Tetapi penulis 1-2 Tawarikh memberi fokus yang jauh lebih besar terhadap Bait Allah dan ibadah Israel. Dalam p.22, Daud memulai persiapan bahan untuk Bait Allah. Setelah jabatan-jabatan dalam ibadah dan pemerintahan diatur dalam pp.23-27, dalam perikop kita Daud mengumpulkan seluruh pimpinan Israel untuk memberi pesan terakhir kepada mereka, dan kepada Salomo di hadapan mereka. Pesan itu dilanjutkan dengan Daud mempersembahkan persembahan yang besar, diikuti oleh para pembesar yang ada di sana (29:1-9). Doa Daud yang berikutnya dikhotbahkan pada bulan Juli yang lalu (29:10-19). Jadi, kita melihat pesan akhir raja Daud supaya berkat di atas Israel tidak hilang.

Yang dikumpulkan adalah para pemimpin bangsa (1). Di dalam daftar itu, kita melihat sifat kerajaan Daud yang militer.

Daud berbicara kepada segenap kumpulan itu dalam aa.2-8. Perkataannya mirip dengan apa yang sudah dia katakan kepada Salomo (p.22). Aa.2-3 menceritakan niat Daud untuk mendirikan Bait Allah. Dia ditolak karena dia adalah penumpah darah. Kita mungkin teringat akan ulahnya terhadap Uria, suami Batsyeba, tetapi kata “darah” itu jamak dalam bahasa aslinya, dan dalam 22:8 jelas bahwa tingkah laku Daud dalam perang yang dimaksud. Ternyata Daud berlebihan dalam pelaksanaan perang, dan sekalipun ada pengampunan, dia menjadi tidak cocok sebagai pendiri Bait Allah.

Aa.4-5 menceritakan pemilihan Daud yang diteruskan kepada Salomo. Ada banyak orang Israel yang lain ketika Daud dipilih, dan ada banyak anak Daud. Tetapi Tuhanlah yang memilih. Seperti biasa, dasar pemilihan-Nya tidak dijelaskan, karena dasarnya ada dalam diri Allah sendiri. Yang dijelaskan ialah tujuannya (6-7). Salomo dipilih untuk membangun Bait Allah dan menjadi anak Allah, sehingga kerajaan Israel kukuh.

Namun, janji ini tidak lepas dari respons Salomo dan keturunannya (7b). Respons terhadap janji Allah ditegaskan dalam a.8 kepada segenap kepemimpinan Israel, dan dalam aa.9-10 kepada Salomo. Kedudukan negeri bukan hak Israel tetapi anugerah Allah, dan ketaatan kepada Allah menjadi cara untuk mempertahankannya. Bagi Salomo, ada peringatan tambahan bahwa Tuhan mengenal hati. Sikap Allah kepada Salomo bergantung pada sikap Salomo kepada Allah (a.9b). Namun, pemilihan Allah adalah dasar untuk Salomo giat dalam melaksanakan tugasnya (a.10).

Maksud bagi Pembaca

Daud mau supaya para pemimpin dan Salomo menjadi sadar akan bagian mereka dalam rencana dan maksud Allah, supaya mereka hidup di dalamnya dengan sepenuh hati. Jika pada saat itu rencana Allah menyangkut Bait Allah, sekarang rencana Allah menyangkut Yesus yang berkarya melalui tubuh-Nya, yaitu gereja. Kita belajar untuk menikmati pemberian Allah dengan mencari Sang Pemberi, dan kita menghayati misi Allah dengan bergiat di dalamnya.

Makna

Ada ketegangan dalam perikop ini yang cukup mendasar secara teologis. Dari satu segi, semua bergantung kepada Allah yang telah membawa Israel ke tanah Kanaan dan telah memilih Daud dan Salomo untuk mengokohkan kedudukannya. Pada segi yang lain, kelanjutan kerajaan Israel bergantung pada ketaatan umat dan Salomo kepada Allah.

Apakah maksud di sini adalah teologi amal? Teologi amal menghitung-hitung. Sebagai contoh, saya baru memasing Speedy. Adanya jaringan internet adalah anugerah dalam artian, bukan hasil pekerjaan dan kemampuan saya. Kemudian, ada satu bulan gratis. Tetapi, setiap bulan, amal saya harus cukup, sekian rupiah. Dalam konteks gereja, teologi amal akan mengakui bahwa dasarnya adalah anugerah, tetapi setiap minggu harus ada sumbangsih ketaatan yang cukup untuk saya bisa tetap berkenan di hadapan Allah, mulai dengan beribadah dan diteruskan dengan menghindar dari dosa besar sepanjang minggu.

Tetapi, untuk Allah dengan Israel intinya adalah relasi, bukan amal. Relasi juga berdasarkan anugerah—siapakah layak dikasihi?—tetapi relasi harus dipelihara. Pemeliharaan relasi yang sehat bukan soal menghitung-hitung melainkan soal niat hati yang dinyatakan. Jika niat itu kurang, yang ditimbulkan pertama-tama bukan penolakan melainkan sakit hati, dan usaha untuk pendamaian. Hanya jika dari satu pihak penolakan itu sudah jelas, akhirnya pihak kedua harus menerima kenyataan itu.

Jadi, tidak kebetulan bahwa Daud berbicara tentang Allah menyelidiki hati. Niat hati yang baik akan selalu mencari Tuhan, akan menempatkan Tuhan sebagai yang paling didambakan dan diandalkan dalam kehidupan. Jika demikian, Tuhan siap ditemui. Niat hati yang buruk akan mengabaikan Tuhan, dan akhirnya akan mengakibatkan penolakan Tuhan. Jika kita melihat sejarah Israel, kita melihat bahwa proses penolakan itu panjang—berabad-abad Tuhan bersabar dengan umat-Nya dan memperingati mereka. Bahkan setelah pembuangan, Dia tidak melepaskan mereka selama-lamanya, tetapi tetap membuka peluang bagi mereka.

Teologi amal ibarat kepatuhan warga terhadap pemimpin yang tidak dicintai, “asal Bapa senang”. Daud di sini mendorong umat Allah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, karena hanya dengan mengasihi Sang Pemberi maka pemberian-Nya akan dinikmati. Hal itu semestinya kita sambut dengan baik, karena dalam PB, anugerah Allah menciptakan manusia baru yang merindukan Dia (2 Kor 5:17; Ef 2:8-10). Nasihat Daud mendorong kita untuk menghayati sifat kita sebagai manusia baru di dalam Kristus.

Teologi amal juga menimbulkan ketaatan seperti kinerja pejabat yang tidak tahu (atau tidak peduli) akan apa tujuan dari jabatannya, dia hanya tahu aturan. Kesadaran akan pemilihan, yang dalam konteks kita dapat juga diistilahkan panggilan, menjadi dasar untuk motivasi yang sehat. Salomo dinasihati untuk menjadi kuat untuk suatu tugas yang akan membutuhkan ketekunan dan kecerdasan, karena Tuhan telah memilih dia untuk tugas pembangunan Bait Allah itu. Jika kita yakin akan panggilan Allah dalam rangka misi-Nya dalam dunia, kita memiliki dasar yang kuat untuk bertekun di dalamnya.

Pos ini dipublikasikan di 1 Tawarikh dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s