Mat 2:16-18 Identifikasi Yesus dengan dunia kekerasan (30 Sep 2012)

Perikop ini muram sekali. Tanpa melihat konteksnya, kita hanya bisa ikut meratapi kekerasan yang ada sampai sekarang, tanpa harapan. Jika kita melihat nas yang dikutip, kesedihan hanya diteguhkan. Tentu, dalam konteks Injil Matius, ada harapan yang besar. Tetapi, semestinya konteks kutipan itu juga ditinjau. Dengan demikian, kita melihat bahwa harapan itu terletak dalam rencana Allah, sehingga bisa menjadi harapan kita juga.

Penggalian Teks

Perikop ini adalah adegan kedua terakhir dalam kisah tentang kelahiran Yesus. Pada satu segi, kisah ini menjelaskan bagaimana Yesus lahir di Betlehem, kota Daud, tetapi besar di Nazaret. Dia berperan sebagai Mesias sejak awalnya, karena Dia dianggap saingan bagi para penguasa (2:3). Dia juga berperan sebagai Israel, yang harus pergi ke Mesir untuk menghindar dari masalah, dan dipanggil Allah dari sana (2:15). Pada saat yang sama, kisah ini menunjukkan bagaimana Allah menyelamatkan utusan-Nya dari tiran sekalipun, sama seperti Dia menjaga Musa. Puncak kisah ini terjadi dalam 2:14-15, karena di situlah Yesus aman. Perikop ini serta adegan berikutnya (2:19-23) menunjukkan bahwa Israel berada di bawah penindasan, sama seperti ketika berada di Mesir.

A.16 melaporkan reaksi Herodes ketika orang-orang majus tidak kembali melaporkan tempat lahir Yesus. Seperti biasa untuk seorang tiran yang harus selalu mengendalikan kondisi, dia marah karena diperdayakan. Dalam kemarahan itu dia membunuh semua anak di bawah dua tahun.

Kemudian, Matius mengangkat nas dari Yer 31:15. Kota Rama, terletak kurang lebih lima kilometer sebelah utara dari Yerusalem, ada di daerah Benyamin, anak Rahel. Menurut Yer 40:1, Rama adalah tempat perhentian untuk orang buangan yang diangkut ke Babel. Jadi, tangisan Rahel melambangkan pembuangan Israel, akibat dari pemberontakan Israel terhadap Allah. Peristiwa pembunuhan itu menunjukkan bahwa Israel pada zaman Yesus masih dalam pembuangan, dalam penantian akan keselamatan, seperti juga dalam silsilah Matius (1:17). Jika 2:15 menempatkan Yesus dengan Israel yang dipanggil dari Mesir, di sini Dia ditempatkan dengan umat dalam pembuangan itu.

Tetapi, tidak kalah pentingnya untuk melihat bahwa Yer 31:15 terletak dalam konteks pengharapan. Pembuangan itu akan berakhir, umat Allah akan diselamatkan kembali. Matius mau menunjukkan bahwa Yesus masuk dalam kondisi umat Israel yang dibuang supaya Dia membawa mereka pulang kepada Allah. Caranya menjadi jelas dalam p.3, dengan pemberitaan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.

Maksud bagi Pembaca

Yesus telah mendapat bagian dalam dunia yang penuh kekerasan ini. Soal identifikasi itu yang utama, tetapi di balik kutipan itu ada pengharapan akan janji Allah.

Makna

Rencana Allah tidak menghindar dari yang paling buruk dalam dunia ini. Yesus lahir dalam konteks kekerasan, dan akhirnya Dia pun tidak luput dari nasib seperti anak-anak kecil itu. Alkitab tidak menutupi kepahitan kehidupan dalam dunia ini, dan nabi Yeremia jujur mengatakannya. Oleh karena itu, kita bisa yakin bahwa Kristus mengerti jeritan orang-orang yang tertindas dan teraniaya. Kita juga bisa yakin bahwa keselamatan adalah keselamatan yang utuh. Allah sudah memperhatikan dan akan menindak hal-hal seperti itu.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s